2. Penguat Ayat Al-Qur'an (Bayan At-Taqrir) Fungsi hadits sebagai sumber hukum Islam yang kedua bukan berarti menambahkan atau menjelaskan apa yang terdapat dalam Al-Qur'an, namun hanya sekadar menetapkan, memperkokoh, dan mengungkapkan kembali apa yang terdapat di dalamnya. 3.

Historically, the bookkeeping of the Koran is not as complicated as the books of Hadith. But that does not mean that the codification process of the Qur'an is not interesting to learn. In this case, there are a number of questions that remain relevant to convey; Is the Qur'an still true today? What is the true structure of the Qur'an? Are there standard standards for Koran arrangements agreed upon by Muslims throughout the world? These questions about the codification of the Qur'an often arise, because in the course of the Qur'an, in its capacity as a book a piece of paper is bound where there are dictums in Arabic that Muslims consider to be revelations from God - the codification process is no longer normative, but very historical, because related to various types of discourses social, political, etc. that surround it. In this context, historical and analytic studies of the historical codification of the Qur'an need to be presented, and this paper was written to meet those needs. Through the study of history based on Muslim scholarship about the history of the Quranic codification from the time of the Prophet Saw. to standardization in the form of reading and writing, which was then supplemented with critical analysis based on Western scholarship, it found that standardization "writing" the Qur'an in rasm Uṡmānī cultural products, and therefore open and allow for tashih, criticism, or even revision with more valid data findings. This does not mean the desecration of the Qur'an, but as a logical consequence of the existence of rasm Uṡmānī as something which is a human form. Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for free MAGHZA Jurnal Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin Adab dan Humaniora, IAIN Purwokerto Juli-Desember, Vol. 3, No. 2, 2018 DOI 148 Problematika Seputar Kodifikasi Al-Qur'an Sebuah Kajian Kesejarahan Perspektif Kesarjanaan Muslim dan Analisis Kritis Kesarjanaan Barat Munawir Institut Agama Islam Negeri Purwokerto Jl. Jend. A. Yani No. 40-A Purwokerto 53126 Emai Abstrak Secara historis, perjalanan pembukuan Al-Qur'an memang tidak sekompleks pembukuan hadis. Namun bukan berarti bahwa proses kodifikasi Al-Qur'an tidak menarik untuk dikaji. Dalam hal ini, ada beberapa pertanyaan yang tetap relevan untuk diajukan; apakah Al-Qur'an yang ada sampai saat ini masih asli? Bagaimanakah susunan Al-Qur'an yang sebenarnya? Apakah ada standar baku susunan Al-Qur'an yang disepakati umat Islam di seluruh dunia? Pertanyaan-pertanyaan seputar kodifikasi Al-Qur‟an seperti ini seringkali muncul, karena dalam perjalanannya Al-Qur‟an -dalam kapasitasnya sebagai sebuah kitab lembaran kertas terjilid yang di dalamnya terdapat dictum berbahasa Arab yang oleh umat Islam dianggap sebagai wahyu Allah- proses kodifikasinya tidak lagi normatif, melainkan sangat historis, karena terkait dengan berbagai macam discourse/wacana sosial, politik, dan lain-lain yang melingkupinya. Dalam konteks ini, kajian historis dan analitis seputar kesejarahan kodifikasi Al-Qur‟an perlu dihadirkan, dan makalah ini ditulis dalam rangka memenuhi kebutuhan tersebut. Melalui kajian historis berdasarkan tuturan kesarjanaan muslim tentang sejarah kodifikasi Al-Qur‟an dari masa Nabi SAW sampai standardisasinya dalam bentuk bacaan dan tulisan, yang kemudian dilengkapi dengan analisis kritis berdasarkan tuturan kesarjanaan Barat, ditemukan bahwa standardisasi khususnya bentuk “tulisan” Al-Qur‟an dalam rasm Uṡmānī merupakan produk budaya, dan karenanya ia terbuka dan memungkinkan untuk ditashih, dikritik, atau bahkan direvisi dengan temuan-temuan data yang lebih valid. Hal ini bukan berarti desakralisasi terhadap Al-Qur‟an, melainkan sebagai konsekuensi logis keberadaan rasm Uṡmānī sebagai sesuatu yang merupakan bentukan manusia. Kata Kunci Sejarah, Kodifikasi, dan Al-Qur‟an Abstract Historically, the bookkeeping of the Koran is not as complicated as the books of Hadith. But that does not mean that the codification process of the Qur'an is not interesting to learn. In this case, there are a number of questions that remain relevant to convey; Is the Qur'an still true today? What is the true structure of the Qur'an? Are there standard standards for Koran arrangements agreed upon by Muslims throughout the world? These questions about the codification of the Qur'an often arise, because in the course of the Qur'an, in its capacity as a book a piece of paper is bound where there are dictums in Arabic that Muslims consider to be revelations from God - the codification process is no longer normative, but very historical, because related to various types of discourses social, political, etc. that surround it. In this context, historical and analytic studies of the historical codification of the Qur'an need to be presented, and this paper was written to meet those needs. Through the study of history based on Muslim scholarship about the history of the Qur'anic codification from the time of the Prophet Saw. to standardization in the form of reading and writing, which was then supplemented with 149 critical analysis based on Western scholarship, it found that standardization "writing" the Qur'an in rasm Uṡmānī cultural products, and therefore open and allow for tashih, criticism, or even revision with more valid data findings. This does not mean the desecration of the Qur'an, but as a logical consequence of the existence of rasm Uṡmānī as something which is a human form. Keywords History, Codification, and Qur'an A. PENDAHULUAN ecara historis perjalanan pembukuan Al-Qur'an memang tidak sekompleks pembukuan hadis. Namun bukan berarti bahwa proses kodifikasi Al-Qur'an tidak menarik untuk dikaji. Dalam hal ini ada beberapa pertanyaan yang tetap relevan untuk diajukan; apakah Al-Qur'an yang ada sampai saat ini masih asli? Bagaimanakah susunan Al-Qur'an yang sebenarnya? Apakah ada standar baku susunan Al-Qur'an yang disepakati umat Islam di seluruh dunia? Dan lain-lain. Pertanyaan-pertanyaan seputar kodifikasi Al-Qur‟an seperti ini wajar, karena dalam perjalanannya, Al-Qur‟an -dalam pengertian kapasitasnya sebagai sebuah kitab atau lembaran kertas terjilid dan tertulis di dalamnya dictum berbahasa Arab yang oleh umat Islam dianggap sebagai wahyu Allah -proses kodifikasinya tidak lagi normatif, melainkan sangat historis, karena terkait dengan berbagai macam discourse/wacana sosial, politik, dan lain-lain yang melingkupinya, sehingga selalu layak untuk Kodifikasi al-Qur'an dikatakan tidak sekompleks hadis karena pada kasus al-Qur'an tidak ada tenggang waktu antara masa turun, penulisan, dan kodifikasinya, bahkan Nabi SAW sendiri telah menunjuk beberapa sahabatnya untuk menjadi penulis wahyu sementara hadis tidak demikian, antara masa turun hingga kodifikasinya melalui tahapan proses yang panjang, sehingga memunculkan keraguan terhadap keotentikannya sebagaimana para pemikir Barat. dipertanyakan dan dibahas kapan pun, di mana pun, dan bahkan oleh siapa pun. B. SEJARAH KODIFIKASI AL-QUR’AN Kodifikasi Al-Qur‟an jam‟ul Qur‟ān dalam pembahasan ini dimaksudkan sebagai proses penyampaian, pencatatan dan penulisan Al-Qur‟an sampai dihimpunnya catatan-catatan serta tulisan-tulisan tersebut dalam satu „mushaf‟ secara lengkap dan tersusun secara berbagai literatur, penggunaan istilah jam‟ul Qur‟ān pengumpulan Al-Qur‟an lebih sering digunakan dari pada istilah kitābāt Al-Qur‟ān penulisan Al-Qur‟an ataupun tadwīn Al-Qur‟ān pembukuan Al-Qur‟an.Para ulama‟ yang memakai istilah jam‟ul Qur‟ān Mengenai lafaz muṣḥaf’ ini, para ulama berpendapat bahwa ia boleh dibaca muṣḥaf dan dapat pula dibaca miṣḥaf. Dibolehkannya dibaca muṣḥaf, karena bacaan asli, sedangkan miṣḥaf, karena untuk meringankan bacaan; dari ẓammah ke kasrah. Ibrāhīm al-Ibyāry, Pengenalan Sejarah al-Qur’an, terj. Saad Abdul Wahid Jakarta PT. Raja Grafindo Persada, 1993, hlm. 69. Hasanuddin AF., Anatomi al-Qur’an Perbedaan Qira’at dan Pengaruhnya Terhadap Istimbath Hukum Dalam al-Qur’an Jakarta PT. Raja Grafindo Persada, 1995, hlm. 44. Subḥi al-Ṣāliḥ, Mabāḥiṡ Fī Ulūm al-Qur’ān Dār al-Ilm Li al-Malāyin, hlm. 65. Muḥammad Sālim Maḥisin, Tārikh al-Qur’ān al-Karīm tp. , hlm. 127. Aḥmad Adil Kamāl, Ulūm al-Qur’ān hlm. 34. 150 mengartikannya dengan Al-jam‟u fī Al-ṣudūr yaitu proses penghafalan Al-Qur‟an dan Al-jam‟u fī Al-suṭūr yaitu proses pencatatan dan penulisan Al-Qur‟an. Sekalipun terdapat perbedaan penggunaan istilah sebagaimana paparan di atas, dalam prakteknya istilah-istilah tersebut mengandung maksud yang sama, yaitu proses penyampaian, pencatatan hingga penghimpunan catatan-catatan tersebut ke dalam satu mushaf. Berdasarkan pendekatan historis tradisonal pendekatan yang menggunakan sumber-sumber agama, maka proses pengumpulan Al-Qur‟an jam‟ul Qur‟ān menjalani tiga fase, yaitu 1. Pengumpulan Al-Qur’an Pada Masa Nabi SAW Unit-unit wahyu yang diterima Muhammad SAW pada faktanya, dipelihara dari kemusnahan dengan dua cara utama 1 menyimpannya ke dalam dada manusia menghafalkannya, dan 2 merekamnya secara tertulis di atas berbagai jenis bahan untuk menulis pelepah korma, tulang-belulang, dan lain-lain. Jadi, ketika para ulama berbicara tentang jam‟ Al-Qur‟ān pada masa Nabi SAW, maka yang dimaksudkan dengan ungkapan ini adalah pengumpulan wahyu yang diterima oleh Nabi SAW melalui kedua cara tersebut, baik sebagian ataupun seluruhnya. a. Pemeliharaan Al-Qur’an dengan Cara Menghafalkannya Berdasarkan paparan sejarah, pada mulanya bagian-bagian Al-Qur‟an yang Mannā’ Khalīl al-Qaṭṭān, Mabāḥis Fī Ulūm al-Qur’ān tp., hlm. 179. diwahyukan kepada Muhammad dipelihara dalam ingatan Nabi SAW dan para sahabatnya. Tradisi hafalan yang kuat di kalangan masyarakat Arab telah memungkinkan terpeliharanya Al-Qur‟an dalam cara semacam ini. Jadi, setelah menerima suatu wahyu sebagaimana diperintahkan Al-Qur‟an, Nabi SAW kemudian menyampaikanya kepada para pengikutnya yang kemudian menghafalkannya. Pada masa ini, Nabi SAW merupakan Sayyid Al-Ḥuffāẓ, sementara para sahabat seolah berlomba penuh antusias menghafal setiap ayat Al-Qur‟an yang dibacakan dan disampaikan Nabi SAW kepada mereka. Selanjutnya mereka mengajarkannya kepada istri, anak, dan keluarga antusiasme yang tinggi dari para sahabat untuk menghafal Al-Qur‟an ini, tidak heran apabila banyak hadis menginformasikan tentang keberadaan mereka sekalipun dengan nama dan jumlah yang beragam. Di antara mereka yang sering disebut adalah Ubay bin Ka‟ab w. 642, Mu‟āż bin Jabal w. 639, Zaīd bin Ṡābit, dan Lihat QS. al-Māidah 67, QS. Al-A’raf2, QS. Al-Ḥijr 94, dan lain-lain. Sayyid al-Ḥuffāẓ artinya penghulu dari segala penghafal al-Qur’an. Muhammad Abd al-Aẓīm al-Zarqānī, Manāhil al-Irfān Fī Ulūm al-Qur’ān Mesir Isa al-Bābi al-Ḥalabi, hlm. 241. Antusiasme para sahabat dalam menghafal al-Qur’an ini tidak hanya keinginan pribadi tetapi Nabi juga melakukan berbagai cara untuk merangsang mereka menghafal wahyu-wahyu yang telah diterimanya, sebagaimana dijelaskan dalam beberapa hadis, di antaranya adalah yang diriwayatkan Uṡmān bin Affān bahwa Rasulullah pernah bersabda “Yang terbaik di antara kamu adalah mereka yang mempelajari al-Qur’an dan kemudian mengajarkannya”. 151 Abū Zaīd Al-Anṣārī w. 15 H..Sementara dalam berbagai laporan lainnya, muncul nama-nama selain keempat sahabat tersebut. Mereka yang juga sering disebut dalam riwayat adalah Uṡmān bin Affān, Tamīm Al-Dārī w. 660, Abdullāh bin Mas‟ūd w. 625, Sālim bin Ma‟qil w. 633, Ubādah bin Ṣāmit, Abū Ayyūb w. 672, dan Mu‟jam Al-Jāriyah, bahkan Al-Suyūṭī, dalam Al-Itqān menyebutkan lebih dari 20 nama sahabat yang terkenal sebagai penghafal Al-Qur‟ titik ini, timbul permasalahan apakah tiap-tiap pengumpul Al-Qur‟an itu menyimpan dalam ingatannya keseluruhan wahyu Ilahi yang diterima Muhammad atau hanya sebagian besar darinya? Jika dilihat dari peran tulisan ketika itu, dapat dikemukakan bahwa penghafalan Al-Qur‟an merupakan tujuan utama yang terpenting –bahkan sepanjang sejarah Islam; sementara perekamannya dalam bentuk tertulis selalu dipandang sebagai alat untuk mencapai tujuan tersebut. Dengan demikian, dapat dipastikan bahwa tidak ada satu pun unit wahyu yang tidak tersimpan dalam dada ingatan para pengumpul Al-Qur‟an ketika itu. b. Pemeliharaan Al-Qur’an dengan Cara Menuliskannya Penulisan pada masa Nabi SAW merupakan langkah kedua dalam pemeliharaan dan pelestarian unit-unit wahyu yang diterima oleh Nabi SAW Al-Qur‟an. Informasi paling awal tentang penyalinan Al- Dikutip dari Taufiq Adnan Amal, Rekonstruksi …, hlm. 130. Ibid. Jalāluddīn al-Suyūṭi, al-Itqān Fī Ulūm al-Qur’an Beirūt Dār al-Fikr, hlm. 74. Qur‟an secara tertulis, bisa ditemukan dalam kisah masuknya Umar bin Khaṭṭāb, empat tahun menjelang hijrahnya Nabi SAW ke Madinah. Jika kisah ini dapat dipercaya, maka menunjukkan bahwa sejak semula telah terdapat upaya yang dilakukan secara serius dan sadar di kalangan sahabat Nabi SAW untuk merekam secara tertulis pesan-pesan ketuhanan yang diwahyukan dengan ini, adalah pendapat W. Montgomery Watt yang menyatakan bahwa pencatatan Al-Qur‟an pada masa Nabi SAW adalah sesuatu yang logis. Hal ini, di samping didasarkan pada analisis historis, juga bahkan didasarkan pada ayat-ayat Al-Qur‟an itu sendiri. Dari sudut pandang sejarah, Watt menyimpulkan bahwa tradisi tulis-menulis sudah dikenal luas dalam masyarakat, terutama masyarakan Mekah dan Madinah. Kedua kota ini merupakan pusat perdagangan, para pedagangnya sudah banyak melakukan transaksi jual beli dalam bentuk tulisan. Oleh karena itu, Watt meragukan pendapat sebagian pakar yang menyatakan bahwa Nabi SAW adalah seorang yang ummi dalam pengertian tidak bisa membaca dan menulis. Kata ummi, dalam beberapa ayat Kesimpulan semacam ini juga mendapat justifikasi dari al-Qur’an sendiri. Nama-nama yang digunakan untuk merujuk pesan Ilahi yang dibawa Muhammad, seperti al-Qur’ān, al-Kitāb, atau al-waḥy, secara tersamar mengungkapkan suatu gambaran latar belakang tertulis. Dikutip dari M. Quraish Shihab dkk., Sejarah dan Ulumul Qur’an Jakarta Pustaka Firdaus, 2000, hlm. 26. Kata ummi berasal dari bahasa Ibrani “ummot h-olam”, menyeberang ke bahasa Arab ummi dapat berarti “pribumi/native”. Dengan demikian, nabi Muhammad SAW seorang ummi berarti beliau bukan seorang Yahudi, tetapi seorang 152 Al-Qur‟an menurut Watt, kurang tepat bila diartikan “buta huruf”, tetapi lebih tepat diartikan dengan “orang-orang yang tidak memiliki kitab suci tertulis”. Sedangkan argumentasi Qur‟ani, Watt menyebutkan adanya beberapa ayat yang mengisyaratkan pentingnya pencatatan, terutama dalam urusan apakah kesimpulan Watt di atas benar atau salah, yang jelas dalam literatur-literatur Islam banyak disebutkan bahwa keberadaan para penulis wahyu sudah dikenal secara umum. Di antara mereka adalah Abū Bakar Al-Ṣiddīq, Umar bin Khaṭṭāb, Uṡmān bin Affān, Alī bin Abī Ṭālib, Mu‟āwiyah, Khālid bin Walīd, Ubay bin Ka‟ab, Zaīd bin Ṡābit, Ṡābit bin Qais, Amr bin Fuhairah, Amr bin „Ăṣ, Abū Mūsā Al-Asy‟arī, dan Abū Dardā‟.Bahkan, Abū Abdullāh Al-Zanjanī salah satu sarjana Syi‟ah terkemuka abad ke-20 menyebut 34 nama sahabat Nabi SAW yang ditugaskan mencatat hal ini, dapat nabi yang berasal dari bangsanya sendiri, yaitu Arab. Ibid. lebih jauh, di antara alasan historis bahwa Nabi SAW bukan seorang ummi, menurut Watt adalah Nabi SAW seorang kepercayaan Khadijah untuk menjalankan misi dagangnya ke luar negeri, tentu transaksi tertulis tidak dapat dihindarkan, pimpinan ekspedisi ke Nakhlah diberikan surat rahasia dari Nabi SAW, dan redaksi “Muḥammad bin Abdullāh” dalam perjanjian Hudaibiyah ditulis langsung oleh Nabi SAW, karena Ali sebagai juru tulis tidak mau mengganti redaksi pertama. Ibid. Di antaranya QS. al-Baqarah 282-283. Selaras dengan Watt, Schwally juga menunjukkan beberapa bagian al-Qur’an yang menyiratkan perekaman wahyu secara tertulis, seperti QS. al-Ankabūt 48, QS. al-Furqān 4-5, QS. al-Kahfi 109, dan QS. Luqmān 27. Ṣubḥi al-Sāliḥ, Mabāḥiṡ…, hlm. 68. Taufiq Adnan Amal, Rekonstruksi…, hlm. 132. dipastikan bahwa unit-unit wahyu yang diterima Nabi SAW telah dipelihara dan dilestarikan dalam bentuk titik ini, masalah yang muncul adalah sejauh mana rekaman-rekaman tertulis Al-Qur‟an itu memiliki bentuk seperti Al-Qur‟an yang kita kenal dewasa ini? Masalah ini memang pelik, karena di satu sisi, meski unit-unit wahyu telah ditulis pada masa Nabi SAW, tetapi Nabi SAW sendiri tidak pernah mempromulgasikan suatu kumpulan tertulis Al-Qur‟an yang lengkap dan resmi dalam satu mushaf.Sedangkan di sisi lain, adalah merupakan satu hal pasti bahwa Nabi SAW sendirilah yang merangkai berbagai bagian atau ayat Al-Qur‟an yang diwahyukan kepadanya dan menetapkan susunannya secara pasti dalam surat-surat yang ada tauqīfī. Oleh karena itulah, ketika dibuka kumpulan Al-Qur‟an para sahabat, maka yang ditemukan adalah perbedaan yang cukup signifikan dalam susunan surat bukan susunan ayat. 2. Pengumpulan Al-Qur’an Pada Masa Abū Bakar Pada masa kekhalifahan Abū Bakar, terjadilah kekacauan di kalangan umat Islam Bukti lain tentang terdapatnya usaha serius dari kalangan sahabat merekam wahyu dengan tulisan adalah adanya mushaf-mushaf sahabat, seperti muṣḥaf Ubay bin Ka’ab, muṣḥaf Ibnu Mas’ūd, muṣḥaf Abū Mūsa al-Asy’arī, dan muṣḥaf Miqdād bin Aswad. Taufiq Adnan Amal, Rekonstruksi …, hlm. 159-160. Hal ini menurut al-Zarqānī ada beberapa alasan i tidak adanya faktor pendorong dibukukannya al-Qur’an, ii al-Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur, dan iii selama proses turunnya al-Qur’an, masih terdapat kemungkinan adanya mansukh. Muḥammad Abd al-Azīm al-Zarqānī, Manāhil al-Irfān…, hlm. 132. 153 yang ditimbulkan oleh orang-orang murtad di bawah pimpinan Musailamah ini mengakibatkan terjadinya perang Yamāmah yang terjadi pada tahun 12 H. Dalam peperangan tersebut, banyak sahabat penghafal Al-Qur‟an yang meninggal hingga mencapai 70 orang, bahkan dalam satu riwayat disebutkan 500 orang. Sementara umat Islam yang gugur dalam peperangan tersebut kurang lebih berjumlah Yamāmah ini menggugah hati Umar bin Khaṭṭāb untuk meminta kepada khalifah Abū Bakar agar Al-Qur‟an segera dikumpulkan dan ditulis dalam sebuah mushaf. Umar khawatir Al-Qur‟an akan berangsur-angsur hilang bersamaan dengan meninggalnya para penghafalnya. Sekalipun pada awalnya ragu terhadap gagasan Umar ini, tetapi akhirnya Abū Bakar menerimanya, kemudian memerintahkan Zaīd bin Ṡābit untuk segera mengumpulkan Al-Qur‟an dan menulisnya dalam satu Abū Bakar wafat, mushaf terjaga dengan ketat di bawah tanggung jawab Hasanuddin AF, Anatomi…, hlm. 50. Muḥammad Abd al-Azīīm al-Zarqanī, Manāhil al-Irfān…, hlm. 249. Aḥmad Adil Kamāl, Ulūm al-Qur’ān, hlm. 38. Sumber utama dalam penulisan al-Qur’an tersebut adalah ayat-ayat al-Qur’an yang ditulis dan dicatat di hadapan Nabi SAW. Di samping itu, untuk lebih hati-hati, catatan-catatan serta tulisan-tulisan tersebut harus dipersaksikan oleh dua orang saksi yang adil. Hasanuddin AF, Anatomi Al-Qur’an…, hlm. 55. Selengkapnya, rekaman dialog antara Abū Bakar, Umar bin Khab, dan Zaid bin Sa>bit dapat dilihat pada al-Bukhārī, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, juz 5 Beirūt Dār al-Ṭibā’at al-Munirriyyat, hlm. 314-315. Umar bin Khaṭṭāb, sebagai khalifah kedua. Di masa Umar bin Khaṭṭāb, mushaf itu diperintahkan untuk disalin ke dalam lembaran ṣaḥīfah. Umar tidak menggandakan lagi ṣaḥīfah itu, karena memang hanya untuk dijadikan naskah orisinil, bukan sebagai bahan hafalan. Setelah seluruh rangkaian penulisan selesai, naskah tersebut diserahkan kepada Ḥafṣah binti Umar istri Rasulullah SAW untuk demikian, dapat dikatakan bahwa Umar bin Khaṭṭāb sebagai penggagas intelektual Intellektuelle Urheber, sedangkan Abū Bakar merupakan orang yang memerintahkan pengumpulan dalam kapasitasnya sebagai penguasa dan menunjuk pelaksana teknis, serta menerima hasil pekerjaan berupa muṣḥaf Al-Qur‟ paparan di atas, minimal terdapat dua motif yang bisa diajukan kaitannya dengan praktek pengumpulan Al-Qur‟an pada masa Abū Bakar. Pertama, motif didasarkan pada kenyataan bahwa Nabi SAW belum mengumpulkan Al-Qur‟an dalam suatu mushaf tunggal hingga wafatnya. Kedua, Mushaf Abū Bakar yang akhirnya disimpan H}afs}ah ini, memiliki ciri-ciri penulisan sebagai berikut 1 seluruh ayat al-Qur’an ditulis dan dikumpulkan dalam satu mushaf berdasarkan penelitian yang cermat dan seksama, 2 tidak termasuk di dalamnya ayat-ayat yang mansukh, dan 3 seluruh ayat yang ditulis di dalamnya telah diakui kemutawatirannya. Hasanuddin AF, Anatomi al-Qur’an…, hlm. 55. Dalam hal ini, ada riwayat versi lain yang menyatakan bahwa pengumpulan al-Qur’an itu, pada dasarnya merupakan inisiatif Abū Bakar sendiri, ada juga pendapat bahwa Umar lah pengumpul pertama al-Qur’an, dan tidak ketinggalan pula adanya sejumlah laporan yang ingin mengharmoniskan kedua sudut pandang tersebut. Taufiq Adnan Amal, Rekonstruksi…, hlm. 147. 154 motif yang didasarkan pada kenyataan wafatnya sejumlah penghafal Al-Qur‟an pada pertempuran Yamāmah yang menimbulkan kecemasan Umar bin Khaṭṭāb akan hilangnya bagian-bagian Al-Qur‟an. Untuk motif pertama, memang dapat dipastikan bahwa Nabi SAW sama sekali tidak meninggalkan kodeks Al-Qur‟an dalam bentuk lengkap dan resmi yang bisa dijadikan pegangan bagi umat Islam, tetapi untuk motif kedua, terdapat beberapa kritik yang ditujukan kepadanya. Telah jelas bahwa terdapat upaya serius dan sadar di kalangan sahabat Nabi SAW untuk memelihara wahyu dalam bentuk tertulis, seraya tetap berpatokan pada petunjuk-petunjuknya tentang komposisi kandungan kitab suci tersebut. Jadi, wafatnya sejumlah penghafal Al-Qur‟an barangkali bukan merupakan alasan utama untuk mencemaskan hilangnya bagian-bagian Al-Qur‟ samping itu, kritikan yang lebih tajam dikemukakan oleh para pemikir Barat. Sebagaimana keterangan di atas, bahwa jumlah penghafal yang gugur pada peristiwa Yamāmah sebanyak 70 orang bahkan menurut riwayat lain 500 orang. Namun ketika nama-nama para penghafal Al-Qur‟an ditelusuri dalam daftar orang-orang yang gugur seluruhnya berjumlah 1200 orang ternyata hanya ditemukan sejumlah kecil nama yang mungkin menghafal banyak Al-Qur‟an. L. Caetani bahkan menunjukkan yang gugur ketika itu hampir seluruhnya pengikut baru Islam. Sementara Schwally menyebutkan bahwa dari pemeriksaannya terhadap daftar nama-nama penghafal Al-Qur‟an yang gugur, ia hanya menemukan dua orang yang bisa Ibid. dikatakan memiliki pengetahuan Al-Qur‟an yang meyakinkan, yaitu Abdullāh bin Ḥafsh ibn Gānim dan Sālim bin Ma‟qil. Dengan demikian, pengaitan motif pengumpulan Al-Qur‟an pada masa Abū Bakar dengan gugurnya sejumlah besar penghafal Al-Qur‟an dalam pertempuran Yamāmah sangat sulit Pengumpulan Al-Qur’an Pada Masa Uṡmān bin Affān Pada masa pemerintahan Uṡmān bin Affān, banyak di antara para sahabat penghafal Al-Qur‟an yang tinggal berpencar di berbagai daerah. Hal ini disebabkan daerah Islam waktu itu sudah semakin meluas. Lebih dari itu, para pemeluk agama Islam di masing-masing daerah tersebut mempelajari serta menerima bacaan Al-Qur‟an dari sahabat ahli qirā‟at yang tinggal di daerah bersangkutan. Penduduk Syām misalnya, berguru dan membaca Al-Qur‟an dengan qirā‟at Ubay bin Ka‟ab, penduduk Kuffah pada Abdullāh bin Mas‟ūd, sementara penduduk Baṣrah pada Abū Mūsū Al-Asy‟ diketahui, bahwa versi qirā‟at yang dimiliki dan diajarkan oleh masing-masing sahabat ahli qirā‟at tersebut satu sama lain berlainan. Hal ini rupanya menimbulkan Ibid., hlm. 148. Ibid., hlm. 147-148. Mengenai kritikan semacam ini Kamaluddin Marzuki memberikan tanggapan bahwa kekhawatiran Umar tidak semata-mata karena terbunuhnya 70 orang penghafal al-Qur’an, tetapi kekhawatiran yang lebih besar adalah jika terjadi pertempuran-pertempuran selanjutnya, akan memakan jumlah korban yang lebih banyak. Kamaluddin Marzuki, Membahas Rasm…, hlm. 73. Hasanuddin AF., Anatoni al-Qur’an…, hlm. 56. 155 dampak negatif di kalangan umat Islam waktu itu, yaitu masing-masing di antara mereka saling membanggakan versi qirā‟at mereka, dan saling mengaku bahwa versi qirā‟at mereka lah yang paling baik dan seperti ini sangat mencemaskan khalifah Uṡmān bin Affān, karenanya ia segera mengundang para pemuda sahabat, baik dari golongan Ansar maupun Muhājirīn. Akhirnya, dari mereka diperoleh suatu kesepakatan, agar mushaf yang ditulis pada masa Abū Bakar disalin kembali menjadi beberapa mushaf dengan dialek hal ini, Uṡmān bin Affān menunjuk suatu tim yang terdiri atas empat orang sahabat pilihan, yaitu; Zaid bin Sābit, Abdullāh bin Zubair, Sa‟īd bin Al-„Āṣ, dan Abdurraḥmān bin Al-Ḥaris bin tim ini menyelesaikan tugasnya, Uṡmān bin Affān segera mengembalikan mushaf orisinal kepada Hafṣah, kemudian beberapa mushaf hasil kerja tim tersebut dikirim ke berbagai kota untuk dijadikan rujukan, terutama ketika terjadi perselisihan tentang qirā‟at Al-Qur‟ān, sementara mushaf-mushaf lainnya yang ada pada saat itu diperintahkan oleh Uṡmān bin Affān untuk mushaf yang ditulis pada masa Abū Bakar tetap tersimpan pada Hafṣah Gambaran mengenai hal ini, sebagaimana terlihat oleh H}uzaifah bin al-Yama>n, ketika ia tengah memimpin penduduk Siria dan Iraq dalam suatu ekspedisi militer ke Armenia dan Azerbaijan. Taufiq Adnan Amal, Rekonstruksi…, hlm. 196. Ibid., hlm. 197. M. Quraish Shihab, Sejarah dan Ulum al-Qur’an, hlm. 30. Ibid. sampai akhir hayatnya, setelah itu Marwān bin Al-Hākam w. 65 H wali kota Madinah saat itu, memerintahkan untuk mengambil mushaf tersebut dan umum, ada empat ciri yang dimiliki mushaf Al-Qur‟an yang ditulis pada masa Uṡmān bin Affān, yaitu1. Ayat-ayat Al-Qur‟an yang tertulis di dalamnya, seluruhnya berdasarkan riwayat mutawatir dari Nabi SAW 2. Tidak terdapat di dalamnya ayat-ayat yang mansūkh 3. Surat-Surat maupun ayat-ayatnya telah disusun dengan tertib sebagaimana Al-Qur‟an sekarang ini 4. Tidak terdapat di dalamnya yang tidak tergolong kepada Al-Qur‟an, seperti tulisan sahabat Nabi SAW sebagai penjelas. 5. Mushaf-mushaf yang ditulis pada masa Uṣmān tersebut, mencakup tujuh huruf sab‟at Al-aḥruf diturunkannya Al-Qur‟an. Mengenai pengumpulan Al-Qur‟an pada masa Uṡmān bin Affān ini, sebagaimana pada masa Abū Bakar, juga terdapat beberapa kritikan yang bisa diajukan. Penyebutan mushaf Ḥafṣah sebagai basis kodifikasi Usman dinilai sebagai suatu yang meragukan. Perjalanan historis mushaf tersebut dari Abū Bakar ke Umar bin Khaṭṭāb kemudian ke H}afs}ah sebagai warisan lebih menunjukkan karakter personalnya. Suatu Aḥmad Adil Kamāl, Ulūm al-Qur’ān, hlm. 44. Muhammad Sālim Maḥisīn, Tārikh …, hlm. 149. Taufiq Adnan Amal, Rekonstruksi…, hlm. 149. 156 mushaf orisinil resmi yang pengumpulannya diotorisasi khalifah tentunya tidak logis apabila jatuh ke pemilikan pribadi Hafs}ah, sekalipun ia merupakan putri Khalifah Umar dan istri Nabi SAW. Di samping itu, adanya keterangan yang menyebutkan bahwa mushaf tersebut diminta oleh Marwān bin Al-Hakam untuk dimusnahkan, karena adanya bacaan-bacaan yang tidak lazim sehingga menyebabkan perselisihan, jelas menunjukkan mushaf Ḥafṣah tidak memadai sebagi basis utama untuk kodifikasi tetapi, hal ini tidak menafikan kemungkinan penggunaannya bukan sebagai sumber utama bersama mushaf-mushaf lainnya dalam upaya pengumpulan tesebut. Di samping itu, pemilihan Uṣmān terhadap dialek Quraisy juga mendapat sorotan. Berdasarkan argumen sebagian ulama, bahwa pemilihan Uṣmān terhadap dialek Quraisy, karena Nabi SAW dan para pengikut awal berasal dari suku Quraisy, sehingga mereka tentunya telah membaca Al-Qur‟an dalam dialek suku tersebut. Namun penelitian terakhir tentang bahasa Al-Qur‟an menunjukkan bahwa ia kurang lebih identik dengan bahasa yang digunakan dalam syair-syair pra Islam. Bahasa ini merupakan lingua franca lazimnya disebut „Arābiyyah yang dipahami oleh seluruh suku di jazirah Arab, dan merupakan satu-kesatuan bahasa, karena kesesuaiannya yang besar dalam masalah leksikal maupun gramatik. Oleh sebab itu, W. Montgomery Watt, Richard Bell Pengantar al-Qur’an Jakarta INIS, 1998, hlm. 36. Ibid. bahasa ini bukanlah dialek suku atau suku-suku MUSHAF NON STANDAR DAN MUSHAF STANDAR 1. MUSHAF NON STANDAR Adapun yang dimaksud dengan mushaf non standar di sini adalah mushaf-mushaf selain mushaf Usmani. Telah terbukti –sebagaimana keterangan di atas- bahwa pada masa-masa awal telah ada upaya serius dan sadar di kalangan sahabat Nabi SAW untuk merekam Al-Qur‟an secara tertulis, sehingga memunculkan beberapa mushaf Al-Qur‟ didasarkan pada kitab Maṣāḥif karya Ibnu Abī Dāwud dan sejumlah manuskrip lainnya, Arthur Jeffery mengklasifikasikan mushaf-mushaf tersebut ke dalam dua kategori utama, yaitu; mushaf primer dan mushaf skunder. Mushaf primer adalah mushaf-mushaf independen yang dikumpulkan secara individual oleh sejumlah sahabat Nabi SAW. Mushaf primer ini berjumlah 15 kodeks, yaitu a. Muṣḥaf Sālim bin Ma‟qīl b. Muṣḥaf Umar bin Khaṭṭāb c. Muṣḥaf Ubay bin Ka‟ab d. Muṣḥaf Ibnu Mas‟ūd Ibid., hlm. 200. Eksistensi mushaf sahabat pra Usmani ini bisa diketahui dari tulisan para mufassir dan filolog awal, ketika merereferensi mushaf-mushaf tersebut dengan ungkapan-ungkapan; “dalam beberapa mushaf lama” fī ba’ḍ al-Maṣāḥif, “mushaf Basrah” dinisbatkan kepada kota, ataupun “muṣhaf Ibnu Mas’ūd” dinisbatkan kepada pemiliknya. Dikutip dari Taufiq Adnan Amal, Rekonstruksi …, hlm. 157. Ibid., 158. 157 e. Muṣḥaf Alī bin Abī Ṭālib f. Muṣḥaf Abū Mūsā Al-Asy‟arī g. Muṣḥaf Hafṣah binti Umar h. Muṣḥaf Zaid bin Ṡābit i. Muṣḥaf Ā‟isyah binti Abū Bakar j. Muṣḥaf Ummu Salāmah k. Muṣḥaf Abdullāh bin Amr l. Muṣḥaf Ibnu Abbās m. Muṣḥaf Ibn Al-Zubair n. Muṣḥaf Ubaid bin Umair o. Muṣḥaf Anas bin Mālik Sedangkan mushaf skunder adalah mushaf generasi selanjutnya yang sangat bergantung didasarkan pada mushaf-mushaf primer serta mencerminkan tradisi bacaan kota-kota besar. Mushaf skunder ini berjumlah 13 mushaf, yaitu a. Muṣḥaf Alqama ibn Qais b. Muṣḥaf Al-Rabi‟ bin Khutsam c. Muṣḥaf Al-Ḥāris bin Suwaid d. Muṣḥaf Al-Aswd bin Yazīd e. Muṣḥaf Ḥittān f. Muṣḥaf Ṭalhah bin Muṣarrif g. Muṣḥaf Al-A‟masy h. Muṣḥaf Sa‟īd bin Jubair i. Muṣḥaf Mujāhid j. Muṣḥaf Ikrimah k. Muṣḥaf Aṭā‟ bin Abī Rabi‟ah l. Muṣḥaf Ṣāliḥ bin Kaisān m. Muṣḥaf Ja‟far Al-Ṣādiq Dari semua mushaf di atas primer/skunder, dalam tenggang waktu sekitar 20 tahun mulai wafatnya Nabi SAW sampai pengumpulan Al-Qur‟an, hanya sekitar empat mushaf sahabat yang berhasil memapankan pengaruhnya di kalangan masyarakat Islam. Keempat sahabat itu adalah Ubay bin Ka‟ab kumpulan Al-Qur‟annya berpengaruh di sebagian besar Siria, Abdullāh bin Mas‟ūd kumpulan Al-Qur‟annya mendominasi Kuffah, Abū Mūsā Al-Asy‟arī mushafnya berpengaruh di Bashrah, dan Miqdād bin Aswad mushafnya diikuti masyarakat Hims.2. MUSHAF STANDAR Mushaf standar di sini maksudnya adalah mushaf Usmani. Mengenai mushaf Usmani ini, di samping proses kesejarahannya di atas, ada beberapa hal yang juga menarik untuk dibahas lebih lanjut. 1. Karakteristik Mushaf Usmani Dalam hal ini, ada sejumlah pendapat yang menyatakan bahwa susunan surat dalam mushaf Usmani menempatkan surat-surat panjang terlebih dahulu kemudian baru surat-surat pendek adalah bersifat seperti ini, tampak jelas terekam dalam pernyataan Al-Ya‟qūbi “Uṡmān bin Affān mengkodifikasikan Al-Qur‟an, menyusun, dan mengumpulkan surat-surat Keempat mushaf di atas, banyak mempunyai perbedaan dengan mushaf Usmani, baik dari segi vokalisasi bentuk konsonan, pemberian titik-titik diakritis pembeda lambang-lambang konsonan, penambahan/pengurangan kata, dan lain-lain. Untuk lebih jelasnya lihat Ibid., hlm. 160-189. Pendapat ini antara lain dikemukakan oleh Mālik bin Anas, Abū Bakar al-Baqillānī, dan Abū al-H}usain Ah}mad bin Faris. Di samping itu, ada juga yang berpendapat sebaliknya, seperti Abū Bakar al-Anbari, Abū Ja’far al-Nuhas, dan al-Thibi. Pendapat ini diikuti oleh jumhur. Hasanuddin AF., Anatomi al-Qur’an…, hlm. 76-78. 158 panjang dengan surat-surat panjang dan surat-surat pendek dengan surat-surat pendek”. Dengan demikian, sistem penyusunan surat dalam mushaf Uṣmān pada dasarnya sama dengan model penyusunan sahabat-sahabat lainnya, seperti Alī bin Abī Ṭālib, Ibnu Mas‟ūd, dan Ubay bin Ka‟ab, kecuali Ibnu Abbās yang menyusun secara sistem penyusunan surat Al-Qur‟an dalam mushaf Usmani dimulai dari yang surat panjang ke arah surat yang pendek, namun terdapat dua tempat di mana sistem ini mengalami inkonsistensi yaitu; pertama, surat pendek Al-Fātiḥah ditempatkan paling awal di depan surat paling panjang Al-Baqarah dan kedua, penempatan surat terpendek surat Al-„Aṣr bukan pada penghujung mushaf. Jumlah keseluruhan surat dalam mushaf Usmani adalah 114 surat dengan nama-nama yang beragam. Dalam hal ini, tidak ada kesepakatan formal di kalangan ulama mengenai penamaan surat-surat tersebut, sekalipun sekuensi tata urutannya telah ditetapkan secara definitif dalam mushaf Usmani. Dengan demikian, dapat ditegaskan bahwa nama-nama yang diberikan kepada surat-surat itu bukanlah bagian dari Al-Qur‟an. Tidak jelas kapan munculnya nama-nama surat yang beragam itu, namun dapat dikemukakan dugaan bahwa segera setelah adanya kodifikasi Al-Qur‟an, timbul kebutuhan untuk pemberian nama-nama surat guna mempermudah perujukannya dan sekitar pertengahan abad ke –8 dapat dipastikan Taufiq Adnan Amal, Rekonstruksi…, hlm. 211. bahwa nama-nama surat yang beragam itu telah Stabilitasi Teks dan Bacaan Al-Qur’an Mushaf Usmani a. Stabilitasi Teks Al-Qur’an Mushaf Usmani Proses stabilitasi teks Al-Qur‟an ini diawali dengan standardisasi mushaf Usmani dan dicapai dengan upaya eksperimental untuk menyempurnakan aksara Arab. Memang, upaya ini pada akhirnya mencapai titik puncak pada penghujung abad ke-3/9 H dan berhasil memaparkan bentuk teks Al-Qur‟an yang lebih memadai. Namun, sebelum itu terdapat masalah serius yang harus dihadapi. Sebagaimana paparan di atas, bahwa alasan utama di balik kodifikasi Al-Qur‟an pada masa Uṡmān bin Affān adalah perbedaan tradisi teks dan bacaan yang mengarah kepada perpecahan politik umat Islam, akan tetapi karena ketidaksempurnaan aksara Arab yang digunakan untuk menyalin Al-Qur‟an waktu itu, maka langkah tersebut tidak langsung mencapai hasil yang diidealkan. Bentuk aksara-aksara atau ortografi Arab lama scriptio defectiva yang digunakan untuk menyalin Al-Qur‟an ketika itu tidak adanya tanda-tanda vokal dan adanya sejumlah konsonan berbeda dalam akasara dilambangkan dengan simbol-simbol yang sama, masih membuka peluang bagi seseorang untuk membaca teks kitab suci secara beragam. Hal ini bisa dilacak pada berbagai perbedaan bacaan yang eksis dalam qirā‟at Al-sab‟ah dan berbagai bacaan non Ibid., hlm. 212. 159 Usmani lainnya. Sebagai contoh; kerangka konsonantal bentuk grafis dalam Qs. Al-Baqarah 259, telah dibaca  nunsyizuhā dalam qirā‟at Āṣim yang diriwayatkan Ḥafsh, sementara dalam qirā‟at Nāfi‟ yang diriwayatkan Warsy dibaca  nunsyiruhā. Perbedaan pemberian titik diakritis ini sama sekali tidak mempengaruhi makna keseluruhan ayat, karena kedua kata itu memiliki makna sinonim, yakni “membangkitkan”.Demikian pula kerangka konsonantal  QS. Al-Māidah 54; dalam qira‟at pertama dibaca  yartadda, sedangkan dalam qira‟at kedua dibaca . yartadid. Perbedaan ini pun tidak memiliki efek apa pun terhadap makna ayat, karena merupakan masalah asimilasi mumaāṡalah.Jika ilustrasi di atas, merupakan perbedaan pemberian titik diakritis terhadap kerangka konsonantal yang sama, maka berikut ini adalah ilustrasi perbedaan vokalisasi. Sebagai contoh lafaz   QS. Al-Baqarah125. Dalam riwayat H}afsh} terbaca   wattakhażū, sedangkan dalam riwayat Warsy terbaca   wattakhiżū. Dalam kasus ini pun tidak terjadi perbedaan makna yang mendasar, selain masalah pernyataan langsung kalām mubāsyir/kalimat langsung atau pelaporan suatu tindakan kalām ghairu mubāsyir/kalimat tidak langsung.Memang ilustrasi-ilustrasi perbedaan pemberian titik-titik diakritis ini, baik untuk kerangka konsonantal maupun vokalisasi tidak Ibid., hlm. 274. Ibid. Ibid. mengakibatkan munculnya perbedaan makna yang signifikan, tetapi dalam beberapa kasus lainnya bisa juga memunculkan perbedaan makna yang signifikan khususnya dalam penyimpulan hukum. Sebagai contoh, rangkaian konsonan QS. Al-Baqarah222, oleh Hamzah, Al-Kisā‟ī, dan „Āṣim riwayat Syu‟bah dibaca  yaṭṭahharnā, sedangkan Ibnu Kaṡīr, Nāfi‟, Abū Amr, dan „Āṣim riwayat Ḥafṣ membacanya sebagai  yaṭhurnā. Makna bacaan pertama adalah bersuci larangan mencampuri istri yang haid hingga mereka bersuci mandi setelah haid. Sementara, makna bacaan kedua adalah suci larangan menggauli istri yang sedang haid hingga darah haid berhenti. Dengan demikian, dari semua penjelasan di atas, dapat dikatakan bahwa penyebab timbulnya perbedaan bacaan Al-Qur‟an adalah tulisan yang digunakan untuk menyalin mushaf usmani ketika jauh, adanya perbedaan pembacaan teks Al-Qur‟an yang disalin dengan scriptio defectiva, memunculkan gagasan penyempurnaan rasm Al-Qur‟ hal ini, ulama berbeda pendapat Namun kesimpulan seperti ini, tidak diterima mayoritas sarjana Islam. Menurut merekaberbagai perbedaan bacaan qirā’at mutawātir hingga masyhūr merupakan bacaan yang bersumber dari Nabi SAW dan karenanya memiliki otoritas ilahiyah. Hal ini didasarkan pada prinsip bahwasejumlah besar pembaca qurrā’ al-Qur’an yang tersebar di berbagai wilayah Islam tidak mungkin bersepakat pada suatu kekeliruan. Dengan demikian, teks tertulis hanya memiliki peran yang sangat terbatas. Taufiq Adnan Amal, Rekonstruksi…, hlm. 276. Rasm di sini artinya kesatuan atau pola yang digunakan Usmān bin Affān bersama sahabat-sahabat lainnya dalam penulisan al-Qur’an. Hasanuddin AF., Anatomi al-Qur’an…, hlm. 79. 160 tentang para pelakunya. Namun, pada umumnya disebutkan bahwa pada masa kekhalifahan Mu‟āwiyah bin Abī Sufyān 661-680, langkah ke arah penyempurnaan tersebut mulai bin Sāmiyah w. 673 yang ketika itu sebagai Gebernur Basrah, meminta Abū Aswad Al-Du‟alī 605-688 agar menciptakan tanda-tanda baca dan membubuhkannya ke dalam mushaf untuk menghindari berbagai kekeliruan pembacaan. Al-Du‟alī sendiri, secara tidak langsung telah memenuhi permintaan Zaid, sebagaimana dalam suatu peristiwa ketika Al-Du‟alī mendengar sendiri seseorang keliru membaca bagian Al-Qur‟an QS. 93    . Kekeliruan pembacaan dalam ayat ini terletak pada vokalisasi kata rasūluhu menjadi rasūlihi, yang mengakibatkan adanya perubahan makna sangat substansial. Ketika bagian Al-Qur‟an itu dibaca secara benar “rasūluhu”, maka maknanya adalah “Sesungguhnya Allah dan rasul-Nya berlepas diri dari orang-orang yang musyrik. Tetapi, ketika kata itu dibaca “rasūlihi”, maka maknanya akan berubah menjadi “Sesungguhnya Allah berlepas diri dari orang-orang yang musyrik dan dari rasul-Nya”.Dalam langkah penyempurnannya, rasūluhu kemudian memperkenalkan tanda-tanda vokal yang penting, yakni titik di atas huruf untuk vokal a fatḥah, di bawah huruf untuk vokal i kasrah, titik di sela-sela atau di depan huruf untuk vokal u ḍammah, dua titik untuk vokal rangkap tanwīn, dan untuk Taufiq Adnan Amal, Rekonstruksi…,hlm. 280. Ibid., hlm. 281. konsonan mati sukūn, tidak dibubuhkan tanda apa pun. Tanda-tanda vokal ini, dalam penulisan mushaf diberi warna yang berbeda dari warna hurufnya. Menurut sebagian riwayat, tidak seluruh huruf dalam mushaf diberi tanda vokal, tanda-tanda ini hanya dibubuhkan pada huruf-huruf terakhir tiap kata, atau pada huruf-huruf tertentu yang berpeluang terhadap masa kekhalifahan Abbasiyah, tanda-tanda vokal yang diciptakan Al-Du‟alī, kemudian disempurnakan lebih jauh oleh Al-Khalīl bin Aḥmad 715-786, seorang pakar bahasa Basrah dan merupakan sarjana pertama yang menyusun kamus bahasa Arab serta pengembang aturan-aturan yang dilakukan Al-Khalīl adalah membubuhkan huruf alif kecil di atas huruf untuk tanda vokal a, huruf ya‟ kecil di bawah untuk vokal i, huruf waw kecil di depan huruf untuk vokal u, menggandakan tanda-tanda vokal ini untuk melambangkan vokal rangkap tanwīn, membubuhkan kepala huruf ha di atas huruf untuk tanda sukun. Sementara untuk tanda konsonan rangkap syaddah, ditempatkan kepala huruf sin. Dari tanda-tanda vokal yang diintroduksi Al-Khalīl inilah, kemudian dilakukan penyempurnaan akhir, sehingga mengambil bentuk yang dikenal dewasa ini. Adapun untuk tanda-tanda pembeda konsonan, upaya pengintroduksiannya mulai dilakukan pada masa pemerintahan Abd Al-Mālik bin Marwān 685-705 dari bani Ibid. hlm. 281-282. Ibid. 161 Umāyah. Seorang gubernur Irak waktu itu, Al-Ḥajjaj bin Yūsuf demi menghilangkan berbagai kekeliruan pembacaan Al-Qur‟an, menugaskan dua ahli bahasa terkenal ketika itu; Naṣr ibn „Āṣim w. 708 dan Yaḥyā bin Ya‟mūr w. 747 –keduanya adalah murid Al-Du‟alī- menyempurnakan pekerjaan gurunya, yaitu mengupayakan pembedaan konsonan-konsonan bersimbul sama dengan mengintroduksi titik-titik diakritis untuk pembedaan tersebut. Sebagai contoh, kerangka konsonan ha, supaya bisa dibaca kha diberi satu titik di atasnya, atau satu titik di bawahnya untuk melambangkan jim, dan konsonan dasar yang tidak bertitik merepresentasikan konsonan ha‟. Demikian pula, pembubuhan titik-titik diakritis pada konsonan-konsonan lainnya, sebagaimana yang kita kenal saat ini. Dalam tahapan ini, titik-titik diakritis ini diwarnai dengan tinta yang sama untuk menulis huruf, sehingga bisa dibedakan dari titik-titik yang diintroduksi Al-Du‟alī untuk vokalisasi teks. Dalam tahapan ini pula, bisa dikatakan bahwa permasalahan seputar aksara Arab telah terselesaikan. b. Stabilitasi Bacaan Al-Qur’an Mushaf Usmani Sebagaimana standardisasi Al-Qur‟an mushaf Usmani dilakukan dengan stabilitasi teks, maka eksisnya stabilitasi teks ini juga mengarah pada stabilitasi bacaan Al-Qur‟an. Adanya pemusnahan seluruh bentuk teks non-Usmani, ternyata tidak menghilangkan keseluruhan tradisi pembacaannya. Sebagian umat Islam masih tetap memelihara bacaan- Ibid. bacaan non-Usmani. Dari sini, pada dasarnya umat Islam terpecah ke dalam dua gerakan pro dan penentang standardisasi teks/bacaan Al-Qur‟an, namun akhirnya keduanya sama-sama mencapai tujuannya dalam bentuk kompromi. Pada tataran praktis, teks Usmani berhasil memapankan diri sebagai satu-satunya teks Al-Qur‟an yang disepakati textus receptus, sementara dalam teori, bentuk-bentuk riwayat bacaan non-Usmani juga diakui keberadaannya sebagai bacaan Al-Qur‟an. Namun dalam perkembangannya, bentuk kompromi seperti ini tidak bertahan lama. Kecenderungan yang kuat ke arah penyeragaman univikasi bacaan Al-Qur‟an semakin mengental dengan penerimaan teks Usmani sebagai satu-satunya teks Al-Qur‟an pada dataran praksis. Kecenderungan tersebut ditandai dengan sikap Imam Mālik bin Anas yang menolak secara tegas terhadap keabsahan penggunaan bacaan Ibnu Mas‟ūd dalam shalat, sekitar abad 2 ini terus berlanjut, hingga tahap selesainya proses penyempurnaan aksara Arab abad ke-3 H. Sekitar awal abad ke-4 H berbagai keragaman bacaan mulai disaring dengan textus receptus sebagai batu uji. Hasilnya, dengan dukungan penuh otoritas politik, ortodoksi Islam Ibid., hlm. 305. Ibid, hlm. 306. Adapun kriteria-kriteria yang dibangun adalah keselarasan bacaan dengan teks mushaf Usmani, keselarasan dengan kaedah bahasa Arab, dan mutawatir prinsip tentang transmisi suatu bacaan melalui mata rantai periwatyatan yang independen dan otoritatif dalam skala yang sangat luas, sehingga menafikan kemungkinan terjadinya kesalahan. Al-Suyuṭī, al-Itqān Fī Ulūm al-Qur’ān, hlm. 77. 162 membatasi dan menyepakati eksistensi qirā‟ah sab‟ahyang dihimpun Abū Bakar Ah}mad bin Mūsā Al-Abbās ibn Mujāhid w. 935 sebagai bacaan-bacaan SIMPULAN Berdasarkan semua penjelasan di atas, ternyata sejarah pembukuan Al-Qur‟an tidak sesederhana yang diasumsikan umumnya umat Islam. Sebab dalam proses itu, ada problem transmisi dari tradisi lisan ke tradisi tulis. Secara umum, ada perbedaan esensial antara penulisan Al-Qur‟an yang dilakukan pada masa Nabi SAW dengan penulisan Al-Qur‟an yang dilakukan pada masa Abu Bakar, ataupun Umar bin Khaṭṭāb. Pada masa Nabi SAW, penulisan Al-Qur‟an dilakukan untuk mencatat dan menulis setiap wahyu Al-Qur‟an yang diturunkan kepada Nabi SAW, dengan menertibkan ayat-ayatnya dalam surat-surat tertentu sesuai dengan petunjuk Nabi SAW. Pada masa Abū Bakar, penulisan Al-Qur‟an dilakukan untuk menghimpun dan menyalin kembali catatan-catatan Al-Qur‟an yang ada ke dalam satu mushaf, dengan tertib surat-suratnya menurut urutan turunnya wahyu. Faktor pendorongnya adalah kekhawatiran akan adanya kemungkinan hilangnya sesuatu dari Al-Qur‟an, dikarenakan banyaknya para sahabat Disepakatinya qirā’ah sab’ah sebagai bacaan otentik ini, di samping karena memenuhi kriteria-kriteria di atas, juga pada faktanya qirā’ah sab’ah mencerminkan sistem-sistem pembacaan al-Qur’an yang populer dan berlaku di berbagai wilayah utama Islam. Taufiq Adnan Amal, Rekonstruksi…, hlm. 308. penghafal Al-Qur‟an yang gugur di medan perang. Pada masa Umar bin Khaṭṭāb, penulisan Al-Qur‟an dilakukan untuk menyalin mushaf yang ditulis pada masa Abū Bakar, menjadi beberapa mushaf dengan tertib ayat maupun suratnya, sebagaimana yang ada sekarang ini. Faktor pendorongnya adalah untuk menghilangkan perpecahan di kalangan umat Islam yang disebabkan perbedaan qirā‟at Al-Qur‟ān di antara mereka. Dari ketiga proses kesejarahan ini, mengantarkan mushaf Usmani kepada standardisasi dan stabilitasi, baik teks dan bacaannya, hingga tetap eksis sampai saat ini. Namun dari proses tersebut, juga tidak menutup kemungkinan meninggalkan sejumlah masalah mendasar, baik dalam ortografi teks maupun pemilihan bacaannya. Dalam konteks ini, barangkali relevan dimunculkannya gagasan tentang desakralisasi rasm Usmānī. Bukankah suatu bentuk “tulisan” merupakan produk budaya, yang berhak dikritisi sekaligus direvisi edit? Demikian, lontaran asumsi yang dikemukana para penggagas desakralisasi tersebut. E. DAFTAR PUSTAKA AF., Hasanuddin, Anatomi Al-Qur‟an Perbedaan Qira‟at dan Pengaruhnya Terhadap Istimbath Hukum Dalam Al-Qur‟an, Jakarta PT. Raja Grafindo Persada, 1995 Al-Bukhārī, Saḥīḥ Al-Bukhārī, juz 5, Beirūt Dār Al-Ṭibā‟at Al-Munirriyyat, Al-Ibyarī, Ibrāhīm, Pengenalan Sejarah Al-Qur‟an, terj. Saad Abdul Wahid, Jakarta PT. Raja Grafindo Persada, 1993 163 Kamāl, Aḥmad „Ādil, Ulūm Al-Qur‟ān, Maḥisīn, Muḥammad Sālim, Tārikh Al-Qur‟ān Al-Karīm, tp. , Mannā‟, Khalīl Al- Qaṭṭān, Mabāḥiṡ Fī Ulūm Al-Qur’ān, tp., Al-Ṣāliḥ, Subḥi, Mabāḥiṡ Fī Ulūm Al-Qur’ān, Dār Al-Ilm Li Al-Malāyin, Shihab, M. Quraish dkk., Sejarah dan Ulumul Qur‟an, Jakarta Pustaka Firdaus, 2000 Al-Suyūṭī, Jalāluddīn, Al-Itqān Fī „Ulūm Al-Qur’ān, Beirūt Dār Al-Fikr, Watt, W., Montgomery, Richard Bell Pengantar Al-Qur‟an, Jakarta INIS, 1998 Al-Zarqānī, Muḥammad Abd Al-Aẓīm, Manāhil Al-„Irfān Fī Ulūm Al-Qur’ān, Mesir Isā Al-Bābi Al-Ḥalabī, ResearchGate has not been able to resolve any citations for this Perbedaan Qira"at dan Pengaruhnya Terhadap Istimbath Hukum Dalam Al-Qur"an, Jakarta PT. Raja Grafindo PersadaA F HasanuddinAnatomi Al-QurAF., Hasanuddin, Anatomi Al-Qur"an Perbedaan Qira"at dan Pengaruhnya Terhadap Istimbath Hukum Dalam Al-Qur"an, Jakarta PT. Raja Grafindo Persada, 1995Sejarah dan Ulumul Qur"anM ShihabQuraishShihab, M. Quraish dkk., Sejarah dan Ulumul Qur"an, Jakarta Pustaka Firdaus, 2000Ulūm Al-Qur'ān, Beirūt Dār Al-FikrAl-SuyūṭīAl-Itqān JalāluddīnFīAl-Suyūṭī, Jalāluddīn, Al-Itqān Fī "Ulūm Al-Qur'ān, Beirūt Dār Al-Fikr,

Tidakboleh. Sebab sebenarnya pengumpulan Al Qur'an sudah ada di zaman Nabi Shallallahu 'alaihi Wassalam namun dilakukan dengan cara dihafal dalam dada para sahabat. Setelah perang Yamamah yang berakibat terbunuhnya banyak penghafal Al-Qur'an,Khalifah Abu Bakar Radhiallahu'anhu berfikir untuk mengumpulkannya dalam satu mushhaf yang

- Sejarah Al Quran adalah kitab suci umat Islam, yang diwahyukan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW sebagai petunjuk atau tuntunan hidup manusia di dunia. Al-Quran diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW secara berangsur-angsur selama kurang lebih 23 tahun. Al-Qur'an terdiri dari 144 surah dan ayat, di mana setiap ayat maupun surah diturunkan sesuai dengan konteks dan kebutuhan yang terjadi. Ayat pertama yang diturunkan dari Al-Qur’an adalah Surah Al-Alaq ayat 1-5. Surah tersebut, mengandung perintah untuk membaca “iqra”. Selain itu, turunnya Surah Al Alaq 1-5 juga sebagai pertanda diangkatnya Nabi Muhammad SAW sebagai Rasul Allah SWT. Dikutip dari buku Akidah Akhlak oleh Yusuf Hasyim 2020, isi pokok dari Al-Qur’an dibagi menjadi beberapa hal meliputi Akidah, Ibadah, Muamalah, Akhlak Mulia, Sejarah, dan Syariat. Selain itu, terdapat beberapa keistimewaan yang dimiliki oleh Al-Qur'an, sehingga menjadikannya bernilai agung dan istimewa. Di antaranya adalah keaslian Al-Qur’an selalu terjaga, kandungan Al-Qur’an bersifat komprehensif, dan Al-Qur'an memiliki bahasa yang indah. “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur'an, dan pasti Kami pula yang memeliharanya.” Al-Hijr {15}9 Pada masa awal diturunkannya, Al-Qur'an masih berupa wahyu yang diperdengarkan oleh Nabi Muhammad SAW. Alasan belum adanya sistem pembukuan adalah perjalanan wahyu yang berlangsung lama, yakni kurang lebih 23 tahun. Namun, pada masa tersebut sudah banyak sahabat yang menulis Al-Qur'an, seperti Zaid bin Tsabit, Ali bin Abi Thalib, Muawiyah bin Abu Sufyan, Ubay bin Kaab dan lainnya. Proses penulisan tersebut dilakukan pada pelepah kurma, lempeng batu, daun lontar, kulit binatang, pelana, potongan tulang binatang atau lainnya, ketika Rasulullah SAW membacakan wahyu kepada para sahabat. Selain itu, banyak sahabat juga yang menghafalkannya ketika Nabi Muhammad SAW membacakan ayat-ayat Al-Qur'an atau wahyu yang baru saja turun. Proses pembukuan kemudian terus dilakukan pada masa Khalifah Abu Bakar dan Khalifah Utsman. Abu Bakar menyuruh Zaid bin Tsabit untuk memimpin proses pengumpulan Al-Qur'an tersebut. Hal tersebut dilakukan untuk menghindari Al-Qur'an dari terdistorsi seperti kitab-kitab lainnya. Pada masa Khalifah Utsman, proses pembukuan Al-Qur’an sampai kepada tahap standarisasi berupa penyatuan dialek lahjah supaya tidak menimbulkan perbedaan sehingga memicu adanya perpecahan di dalam umat Islam. Mushaf yang dihasilkan tersebut, sekarang dikenal dengan nama mushaf Utsmani atau Rasm Utsmani. Isi Pokok Ajaran Al Quran Karena Al-Quran adalah pedoman bagi seluruh umat manusia, ia berisi pokok-pokok ajaran penting untuk menuntun manusia dari kebodohan atau masa jahiliyah hingga memahami keagungan ini isi pokok ajaran Al-Quran sebagaimana dikutip dari buku Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti 2014 yang ditulis oleh Muhammad Ahsan dan Akidah KeyakinanIsi pokok paling penting dari Al-Quran adalah akidah atau tauhid yang berkaitan dengan keyakinan Islam, seperti mengesakan Allah dan menafikan keberadaan Tuhan selain dianggap sebagai muslim jika ia menganut akidah yang diajarkan Al-Quran, diawali dengan mengucapkan syahadat, kemudian menjalankan rukun-rukun Islam yang lain. Kemudian, ia juga mengimani enam rukun iman, yang mencakup iman kepada Allah, malaikat, kitab suci, rasul, hari kiamat, serta qada dan qadar Allah Akhlak Budi PekertiAl-Quran mengajarkan budi pekerti yang mulia sebagai tuntunan universal bagi seluruh umat manusia. Budi pekerti yang tertera dalam Al-Quran adalah ajaran untuk menerapkan akhlak baik dan menghindari akhlak akhlak ini merupakan misi diturunkannya Islam di muka bumi, sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW "Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak," Baihaqi.3. IbadahAl-Quran mengisyaratkan tentang ibadah-ibadah wajib dan sunah dalam Islam. Dalam Al-Quran, ibadah yang disebutkan adalah jenis-jenisnya secara umum, sementara rincian dan tata caranya dijelaskan oleh hadis Rasulullah MuamalahMuamalah adalah salah satu isi pokok yang dibahas Al-Quran. Ia berkaitan dengan tata cara berhubungan dengan sesama manusia. Topik-topik muamalah ini misalnya berkaitan dengan pinjam-meminjam harta, hubungan antara satu bangsa dengan bangsa lain, perniagaan, dan Tarikh SejarahLebih dari setengah isi Al-Quran menceritakan tentang sejarah masa silam. Allah SWT mengajarkan nilai-nilai luhur melalui cerita tentang umat-umat terdahulu, seperti kisah Luqman yang berisi tentang ajaran berbakti kepada orang tua, kisah Nabi Ayyub tentang kesabaran menghadapi cobaan dan penyakit, dan sejarah, umat Islam juga belajar keteguhan hati memegang iman dan keyakinannya pada Allah SWT, seperti dalam kisah Ashabul Kahfi. Selain itu, sejarah juga berisi peringatan untuk tidak mengulangi kesalahan-kesalahan umat terdahulu, seperti azab yang ditimpakan kepada kaum Nabi Luth, kaum Nabi Nuh, Nabi Saleh, dan lainnya. Contoh Soal Pertanyaan Tentang Sejarah Bacaan Al Quran Berikut ini adalah beberapa contoh soal dan jawaban mengenai materi sejarah dan bacaan Al-Qur'an 1. Sumber hukum Islam yang pertama dan utama bagi umat Islam adalah… a. Al-Qur'anb. Al-Qur'an dan Hadisc. Ijtihadd. Hadis e. Al Quran, Hadis dan Ijtihad Jawaban a. Al-Qur'an2. Al-Qur'an adalah kitab yang menjadi mukjizat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dan ditulis dalam mushaf serta disampaikan secara mutawatir, merupakan definisi Al-Qur'an menurut… a. Muhammad Abdul Azim az-Zarqanib. Syekh Muhammad Ali Ash-Shabunic. Ahmad Al-Maraghid. Syekh Al-Mutawalli Asy-Sya’rawie. Muhammad Abduh Jawaban b. Syekh Muhammad Ali Ash-Shabuni3. Di antara berikut ini, yang bukan merupakan fungsi Al-Qur'an yaitu … a. Pembeda dan Obatb. Penjelas dan Pembedac. Petunjuk dan Penjelasd. Pembeda dan Peringatan e. Petunjuk dan Kesesatan Jawaban e. Petunjuk dan Kesesatan4. Kesepakatan para ulama dalam penetapan sebuah hukum-hukum dalam agama dengan dasar Al-Qur'an dan Hadis dalam sebuah perkara yang sedang terjadi, merupakan arti dari… a. Istihsanb. Maslahah Mursalah c. Urfd. Qiyase. IjmakJawaban e. Ijmak5. Dalam Al-Qur'an dan Hadis tidak ditemukan dalil yang menjelaskan hukum menggunakan Narkoba, ini karena ketika Al-Qur'an diturunkan belum ada dikenal dengan istilah narkoba, yang ada waktu itu yaitu Khamr, para ulama kontemporer menyamakan hukum narkoba dan sejenisnya kepada hukum khamar, bentuk Ijtihad yang dilakukan oleh ulama tersebut dikenal dengan… a. Maslahah Mursalah b. Urfc. Ijmakd. Istihsane. QiyasJawaban e. Qiyas6. Mengapa ketika membaca Al-Qur'an, harus berada dalam kondisi yang bersih.. a. harus menghafalb. karena Al-Qur'an bisa dibaca hati yg bersihc. harus tidur dalam menghafald. berlindung kepada Allah SWTe. karena Al-Qur'an bisa dibaca hati yg kotor Jawaban b. karena Al-Qur'an bisa dibaca hati yg bersih7. mengapa Al-Qur'an adalah obat penyembuh orang stress… a. karena Al-Qur'an adalah nur dan sucib. karena Al-Qur'an adalah kehidupanc. karena Al-Qur'an adalah penentramd. karena Al-Qur'an adalah obat segala macam penyakite. karena Al-Qur'an adalah penerang Jawaban a. karena Al-Qur'an adalah nur dan suci8. Potongan firman Allah SWT dalam Surah Al-Mu'min {40} 67, yang berbunyi “Minturaabin” berisi penegasan Allah SWT menciptakan manusia itu berasal dari... a. tanahb. udarac. gasd. aire. batu Jawaban a. tanah9. Mad wajib muttasil panjang bacaannya adalah ... a. satu alif dua harakatb. 3 alif enam harakatc. 6 harakatd. 2 alif empat harakate. 5 harakat Jawaban e. 5 harakat10. Hal yang tidak termasuk kedalam ibadah yang hukumnya fardhu'in adalah... a. Salat lima waktub. berpuasa bulan ramadhanc. menyalatkan jenazah seorang muslimd. mengeluarkan zakat hartae. menunaikan ibadah haji Jawaban c. menyalatkan jenazah seorang muslimBaca juga Sejarah Kitab Allah Al-Quran Nabi Penerima, Makna, Pokok Ajarannya Rangkuman PAI Bukti Kemuliaan Manusia dalam Al-Quran & Dalilnya \Daftar Kitab-Kitab Allah & Rasul Penerima Taurat hingga Al-Quran - Pendidikan Penulis Syamsul Dwi MaarifEditor Syamsul Dwi MaarifPenyelaras Yulaika Ramadhani
Kami berharap agar makalah ini dapat menambah wawasan dan dapat bermanfaat bagi pembaca tentang Kajian Sejarah Al-Qur'an. , lempengan batu, daun lontar, kulit atau daun kayu, pelana, potongan tulang belulang binatang. Pada masa ini pengumpulan Al-Qur'an ditempuh dengan dua cara: Pertama, al Jam'u fis Sudur, Para sahabat langsung
sumber Berikut beberapa contoh pertanyaan tentang Al Quran yang bisa dipakai untuk bahan diskusi, lengkap dengan jawabannya. Catat baik-baik, ya. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia KBBI daring, Al-Qur’an adalah kitab suci umat muslim yang berisi firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad. Sebagai kitab suci, Al-Qur’an mengandung banyak sekali ayat-ayat yang penuh hikmah. Sebab, pada hakikatnya Al-Qur’an diturunkan untuk menjadi petunjuk umat manusia di muka bumi. Tak jarang, kiblat suci yang diturunkan kepada Rasul ini dijadikan bahan diskusi. Nah, artikel berikut sudah merangkum beberapa contoh pertanyaan tentang Al Quran yang bisa dipakai sebagai bahan diskusi atau mungkin pertanyaan perlombaan. Selain itu, ulasan di bawah dilengkapi pula dengan jawaban dari pertanyaan tentang Al Qur’an. Dirangkum dari laman dan sumber lain, berikut artikel selengkapnya. sumber 1. Berapa jumlah ayat di dalam Al-Qur’an? Jawaban 6,236 ayat atau 6,200 ayat lebih 2. Berapa jumlah surah Al-Qur’an? Jawaban 114 surah 3. Ada berapa jumlah juz dalam Al-Qur’an? Jawaban 30 juz 4. Apa arti surah Al-Fatihah dalam bahasa Indonesia? Jawaban pembukaan 5. Apa ayat Al-Qur’an pertama yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad? Jawaban surah Al-Alaq ayat 1 sampai 5 6. Apa ayat Al-Qur’an terakhir yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad? Jawaban ayat 3 surah Al-Maidah 7. Apa surah terakhir yang ada di dalam Al-Qur’an? Jawaban surah An-Nas 9. Apa nama surah yang dianjurkan dibaca pada hari Jumat karena mempunyai banyak keutamaan? Jawaban surah Al-Kahfi 10. Berapa kali pengulangan ayat Fabiayyi ala irobbikuma tukadziban di dalam surah Ar-Rahman? Jawaban 31 kali 11. Apa nama surah dan ayat ke berapa yang berisi dalil diwajibkannya puasa di bulan Ramadan? Jawaban surah Al-Baqarah, ayat 185 12. Apa nama surah yang mempunyai ayat terpanjang? Jawaban surah Al-Baqarah 13. Apa nama surah yang tak diawali dengan bismillah? Jawaban surah at-Taubah 14. Apa nama surah yang menjelaskan tentang malam Lailatur Qadar? Jawaban surah Al-Qadr 15. Surah Al-Muawwidzat terdiri dari surat apa saja? Jawaban surah Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Nas 16. Di mana tempat diturunkannya wahyu pertama kepada Rasul? Jawaban Gua Hira 17. Berapa jumlah nabi yang disebut dalam Al-Qur’an? Jawaban 25 nabi 18. Apa nama surat yang mempunyai arti Gajah? Jawaban Al-Fil 19. Ada berapa jumlah ayat dalam surah An-Nas? Jawaban 6 ayat 20. Kapan waktu peringatan Nuzulul Al-Qur’an? Jawaban hari ke-17 bulan Ramadan *** Itulah beberapa contoh pertanyaan tentang Al-Quran yang simpel, lengkap dengan jawabannya. Simak ulasan lainnya di Jangan lupa ikuti Google News dari agar kamu tak ketinggalan banyak informasi terbaru. Grand Dahlia Cluster Depok merupakan hunian dengan desain menarik di daerah Cilodong, Depok. Klik untuk informasi lebih lanjut karena kami selalu AdaBuatKamu. Cek sekarang juga! KenaliSeluk Beluk Praktik Culas Pencucian Uang dan Cara Mencegah jadi Korban. Istilah money laundering atau tindakan pencucian uang erat kaitannya dengan tindakan pelanggaran hukum. Tindakan kejahatan ini berhubungan dengan transaksi keuangan yang mencurigakan. Kejahatan kerah putih ini telah lama menjadi PR bersama negara dan
0% found this document useful 0 votes318 views6 pagesCopyright© © All Rights ReservedAvailable FormatsDOCX, PDF, TXT or read online from ScribdShare this documentDid you find this document useful?0% found this document useful 0 votes318 views6 pages30 Soal Soal Tentang Masalah Al-Qur'AnJump to Page You are on page 1of 6 You're Reading a Free Preview Pages 4 to 5 are not shown in this preview. Reward Your CuriosityEverything you want to Anywhere. Any Commitment. Cancel anytime.
Pengertian Al-Quran. Al-Quran berasal dari bahasa Arab yang artinya bacaan. Sebagian ulama menyebutkan bahwa kata Al-Quran adalah masdar yang di artikan dengan isim maf'ul, yakni maqru' artinya sesuatu yang di baca. Maksudnya, Al-qur'an itu adalah bacaan yang di baca. Secara istilah, Al-qur'an adalah wahyu Allah SWT yang di turunkan
Soal soal Tentang Masalah Al-Qur'an PEMBERITAHUAN Karena Suatu Hal Yang Membuat Admin Ini Harus Membuat Blog Baru. Maka Dari Itu Mohon Maaf Dan Mohon Kerja Samanya. Bahwa Halaman Ini Akan Kami Redirect/Alihkan Ke Blog Lain. Namun, Isinya Akan Tetap Sama. Berkenaan dengan tugas ulumul Qur'an atau Study Qur'an, saya membuat tugas tentang soal-soal pertanyaan masalah Alquran. Disini saya membuat 30 Soal Tentang Alquran sesuai BAB saja. BAB nya apa aja? Yaitu BAB I PENGERTIAN AL-QURAN BAB II NUZULUL QUR’AN BAB III MAKKIYAH dan MADANIYAH BAB IV ASBABUN NUZUL BAB V TEKNIK PENGUMPULAN, PENYUSUNAN DAN PENULISAN ALQURAN BAB VI KISAH DALAM ALQURAN BAB I PENGERTIAN AL-QURAN 1. Jelaskan pengertian Al-quran dan Hadis dari segi bahasa dan istilah! Segi bahasa Al-quran bacaan atau sesuatu Hadits berbicara, perkataan atau percakapan Segi istilah Al-quran firman Allah yang tiada tandingannya, diturunkan kepada Nabi Muhammad dengan perantara malaikat jibril dituliskan pada mushaf-mushaf kemudian disampaikan kepada kita secara mutawattir, Al-quran dimulai dengan surat al-Fatihah dan diakhiri dengan surat an-Naas. Hadits segala sesuatu baik ucapan, perbuatan, kebiasaan-kebiasaan dan karakter Muhammad setelah diangkat menjadi Nabi. Hadis hanya sebatas Qauliyah Nabi Muhammad saja. 2. Jelaskan pengertian hadis qudsi dan hadis nabawi! Hadis qudsi perkataan dari Rasulullah, sedangkan isi dari perkataan tersebut berasal dari Allah. Hadis Nabawi apa saja yang disandarkan kepada Rasullah, baik berupa perkataan qauliyah , perbuatan fi’liyah, persetujuan taqrir , maupun sifat wasfi . 3. Sebutkan persamaan Al-quran, Hadis Nabawi dan Hadis Qudsi! Sama sama bersumber dari Allah Sama sama keluar dari ucapan Rasulullah Boleh dijadikan hujjah Sama sama sumber hukum islam. Alquran menjadi sumber hukum islam yang pertama dan hadis menjadi sumber hukum islam kedua perbedaan Al-quran, Hadis Nabawi dan Hadis Qudsi! Al-quran Makna dan lafaznya dari Allah Boleh dibaca ketika shalat Sebagai mukjizat Rasulullah Hadis Nabawi Kata dan Lafaznya berasal dari Rasulullah sendiri Tidak boleh dibaca ketika shalat Bukan mukjizat Rasululah Hadis Qudsi Makna dari Allah, namun lafal dari Rasulullah sendiri Tidak boleh dibaca ketika shalat Bukan mukjizat Rasululah 5. Sebutkan Fungsi Al-Qur’an bagi manusia! Peringatan dan pelajaran bagi manusia Sebagai hudan atau petunjuk bagi umat manusia Sebagai bayyinah atau penjelas dari petunjuk tersebut Sebagai furqan atau pembeda antara yang benar dan yang batil. Baca juga BAB II NUZULUL QUR’AN tahapan turunnya Al-quran! Al-quran turun melalui 3 tahap, yaitu Tahap pertama At-Tanazzulul Awwalu, Al-Qur’an diturunkan atau ditempatkan di Lauh Mahfudh. Tahap kedua At-Tanazzulu Ats-Tsani, setelah Al-Qur’an berada di Lauh Mahfudh, kitab Al-Qur’an itu turun ke Baitul `Izzah di langit dunia atau langit terdekat dengan bumi ini. Tahap ketiga At-Tanazzulu Ats-tsaalistu, setelah wahyu Kitab Al-Qur’an itu pertama kalinya di tempatkan di Lauh Mahfudh, lalu keduanya diturunkan ke Baitul Izzah di langit dunia, kemudian pada tahap ketiga Al-Qur’an disampaikan langsung kepada Nabi Muhammad saw dengan melalui perantaraan Malaikat Jibril. style="displayblock" data-ad-client="ca-pub-8228237265269157" data-ad-slot="6877147825" data-ad-format="auto"> 3 cara Allah menyampaikan ayat Al-quran kepada Nabi Muhammad! Pertama, al-quran turun menyerupai suara lonceng, dan ini adalah cara yang paling berat bagi Rasulullah Kedua, terkadang al-quran turun dalam bentuk seorang laki-laki yang menyampaikan Kalamullah kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. Ketiga, terkadang al-quran turun dengan cara Allah berbicara langsung kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dalam keadaan terjaga tidak tidur. tujuan diturunkannya Al-quran! Untuk menantang orang - orang kafir yang mengingkari Qur’an Untuk menjadi pegangan / pedoman umat manusia dari masa Rasulullahh hingga akhir zaman. pengertian dari Nuzulul Quran? Nuzulul Quran adalah peristiwa penting penurunan “Al Qur’an secara keseluruhan diturunkan dari Lauhul Mahfuzh ke Baitul Izzah di langit dunia. Lalu diturunkan berangsur-angsur kepada Rasul -shallallahu alaihi wa sallam- sesuai dengan peristiwa-peristiwa dalam jangka waktu sekitar 23 tahun. Ayat yang pertama kali turun kepada Muhammad! Ayat yang pertama kali turun kepada Muhammad yaitu ketika Muhammad menjadi Nabi ialah Surat al-Alaq 1-5. Sedangkan ayat yang pertama kali turun kepada Nabi Muhammad sebagai Rasul yaitu Surat Al-Mudatsir 1-9 BAB III MAKKIYAH dan MADANIYAH ciri – ciri surat Makkiyyah! Ayat-ayatnya pendek. Diawali dengan yaa ayyuhan-naas wahai manusia. Kebanyakan mengandung masalah tauhid, iman kepada Allah swt, masalah surga dan neraka, dan masalah-masalah yang menyangkut kehidupan akhirat ukhrawi. Pada umumnya tema berceritakan tentang Nabi dan umat-umat terdahulu. jumlah surat Makkiyah dan Madaniyah? Surat yang diturunkan kepada Rasulullah di Kota Makkah berjumlah 85 surat dan di Kota Madinah berjumlah 29 surat. Tapi ada juga yang berpendapat bahwa surat Makiyyah berjumlah 86 dan surat madanyah berjumlah 28, ini diambil dari jumlah ayat al-Baqarah 2 8 6 ayat. ciri-ciri ayat Madaniyah? Ayat-ayatnya panjang. Diawali dengan yaa ayyuhal-ladziina aamanuu wahai orang-orang yang beriman. Kebanyakan tentang hukum-hukum agama syariat, orang-orang yang berhijrah Muhajirin dan kaum penolong Anshar, kaum munafik, serta ahli kitab. pengertian dari ayat/surat Makkiyah dan Madaniyah! Makkiyah adalah ayat-ayat yang turun Al-quran sebelum Rasulullah SAW hijrah ke Madinah. Sedangkan, Madaniyah adalah ayat-ayat yang turun Al - quran yang diturunkan di Madinah atau diturunkan setelah Rasulullah SAW hijrah ke Madinah pengertian dari surat - surat makkiyah dan madaniyah murni., surat makiyah yang berisi ayat madaniyah dan surat madiniyah yang berisi ayat makkiyah! Surat-surat Makkiyah murni, yaitu surat-surat Makkiyah yang seluruh ayat-ayatnya juga berstatus Makkiyah semua, tidak ada satupun yang Madaniyah. Surat-surat Madaniyah murni, yaitu surat-surat Madaniyah yang seluruh ayat-ayatnya juga berstatus Madaniyah semua, tidak ada satupun yang Makkiyah. Surat-surat Makkiyah yang berisi ayat Madaniyah, yaitu surat-surat yang sebetulnya kebanyakan ayat-ayatnya adalah Makkiyah, sehingga berstatus Makkiyah, tetapi di dalamnya ada sedikit ayatnya yang berstatus Madaniyah. Surat-surat Madaniyah yang berisi ayat Makkiyah, yaitu surat-surat yang sebetulnya kebnyakan ayat-ayatnya adalah Madaniyah, sehingga berstatus Madaniyah, tetapi di dalamnya ada sedikit ayatnya yang berstatus Makkiyah. BAB IV ASBABUN NUZUL pengertian dari Asbabun Nuzul! Sebab-sebab yang mengiringi diturunkannya ayat-ayat Al-Quran kepada Nabi Muhammad SAW karena ada suatu peristiwa yang membutuhkan penjelasan atau pertanyaan yang membutuhkan jawaban. mengetahui Asbabun Nuzul! Mengetahui hikmah tentang ayat al-quran Untuk memahami makna al-quran Dapat menentukan pesan khusus/umum alasan Allah menurunkan Al-quran untuk manusia! Sebagai al furqon/pembeda Sebagai pedoman untuk manusia Sebagai petunjuk macam-macam cara turunnya Asbabun Nuzul! Pertama ayat-ayat turun sebagai reaksi terhadap pertanyaan yang dikemukakan kepada nabi. Kedua ayat-ayat turun sebagai permulaan tanpa didahului oleh peristiwa atau pertanyaan. saja manfaat dari Asbabun Nuzul? Membantu dalam memahami ayat dan menghindarkan kesulitannya Akan mempermudah orang menghafal ayat-ayat al-qur’an serta memperkuat keberadaan wahyu dalam ingatan orang yang mendengarnya jika mengetahui sebab turunnya Membawa kepada pengetahuan tentang rahasia dan tujuan Allah secara khusus mensyari’atkan agama-Nya melalui al-qur’an BAB V TEKNIK PENGUMPULAN, PENYUSUNAN DAN PENULISAN ALQURAN Nabi tidak memerintahkan untuk menulis Al-quran? Karena tidak semua umat Nabi Muhammad bisa menulis. saja sahabat Nabi yang diperintahkan untuk menulis Al-quran oleh Nabi? Zubair, Ali bin Abi Thalib, Abu Bakar dan Zayid bin Tsabit. apakah yang digunakan para penulis Al-quran untuk menulis Al-quran? Kulit, daun, kaghid, tulang yang pipih, pelepah kurma, dan batu-batu tipis. Kaghid ialah istilah Kertas bagi orang persia. sedikit tentang alasan Khalifah Abu Bakar mengumpulkan ayat-ayat Al-quran! Alasannya karena pada saat itu terjadi perang Yamamah yang mengakibatkan banyak sekali para qurra’/ para huffazh penghafal al-Qur`an terbunuh. Akibat peristiwa tersebut, Umar bin Khaththab merasa khawatir akan hilangnya sebagian besar ayat-ayat al-Qur`an akibat wafatnya para huffazh. saja manfaat dari adanya pengumpulan Al-quran? Al-Qur’an menjadi satu-satunya kitab suci yang sama sekali redaksinya tidak pernah mengalami perubahan. Terpeliharanya keotentikan Al-Qur’an menjadikannya sebagai sumber pertama ajaran Islam. Al-Qur’an menjadi al-furqan yang berarti pembeda Baca juga Latihan Soal al-qur'an BAB VI KISAH DALAM ALQURAN tidak semua Nabi diceritakan di dalam Alquran? Karena nabi tidak membawa syari’at baru. Allah hanya memasukan cerita yang bermanfaat saja untuk umat manusia. 27. Apa pengertian qashashul quran? Qashashul quran adalah kabar-kabar dalam Al Quran tentang keadaan-keadaan umat yang telah lalu dan kenabian masa dahulu, serta peristiwa-peristiwa yang telah terjadi. tujuan dari kisah dalam al-quran! Untuk menunjukkan bukti kerasulan Muhammad saw. Untuk menjadikan uswatun hasanah suritauladan bagi kita semua, yaitu dengan mencontoh akhlak terpuji dari para Nabi dan orang-orang salih yang disebutkan dalam Alquran. Untuk mengokohkan hati Nabi Muhammad saw dan umatnya dalam beragama Islam dan menguatkan kepercayaan orang-orang mukmin tentang datangnya pertolongan Allah dan hancurnya kebatilan. saja faedah-faedah yang dapat kita ambil dari kisah dalam Al-quran? Membenarkan para Nabi terdahulu, menghidupkan kenangan terhadap mereka serta mengabadikan jejak dan peninggalannya. Menampakkan kebenaran Muhammad dalam dakwahnya dengan apa yang diberitakannya tentang hal ihwal orang-orang terdahulu di sepanjang kurun dan generasi. macam-macam kisah dalam Al-quran! Kisah-kisah para Nabi dan Rasul terdahulu Kisah ummat, tokoh, atau pribadi bukan Nabi dan peristiwa-peristiwa masa lalu. Contoh tentang Qarun, Kisah tentang Ashabul Kahfi dan sebagainya Kisah-kisah yang terjadi pada zaman Nabi Muhammad SAW. Baca Juga Seperti Apa Sih Sistem Pendidikan diIndonesia itu? Simak! Baca juga artikel lanjutan 30 Soal dan Jawaban Tentang Al-qur'an Semoga artikelnya membantu, jika berkenan silahkan Share atau like. Terima kasih sudah berkunjung
Kemampuanproduktif yaitu kemampuan untuk berkomunikasi baik secara lisan maupun tulisan. Bahasa Arab dalam kurikulum 2013 dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan juga bertujuan agar peserta didik mampu memahami sumber-sumber agama islam yaitu al-Quran, al-Hadist 29 Ibid, hlm. 6. 30 Ibid, hlm. 8. 31 Ibid, hlm. 11.
Jakarta - Pertanyaan seputar Alquran dan hikmahnya kerap dilontarkan sejumlah pembaca forum question and answer detikRamadan setiap tahunnya. Berikut sejumlah pertanyaan dan jawaban yang sudah dirangkum di halaman khusus yang mengulas hal tanya jawab seputar Alquran dan caranya membuang buku atau stiker lama yang ada huruf-huruf Alquran nya?Agar kertas itu tidak disalahgunakan orang, sebaiknya kertas atau stiker bertuliskan ayat Alquran yang sudah tidak terpakai dihancurkan atau dibakar. Demikian, wallahu a’lam. Muhammad Arifin, Dewan Pakar Pusat Studi Alquran15. Sah tidak jika membaca Quran dengan huruf latin?Hemat kami, tidak mengapa membaca Alquran dengan huruf latin bila tidak bisa membaca huruf Arab. Tetapi, perlu diketahui bahwa hingga kini belum ada transliterasi yang benar-benar bisa menggambarkan bacaan Alquran secara tepat. Transliterasi yang ada baru bisa dikatakan mendekati, tetapi belum tepat sama. Saran kami belajarlah membaca huruf Alquran. Saat ini sudah banyak sekali metode belajar membaca huruf Alquran secara cepat. Demikian, wallahu a'lam.Muhammad Arifin, Dewan Pakar Pusat Studi Alquran.16. Bolehkan membawa HP beraplikasi Alquran ke toilet?Tidak ada masalah memasang aplikasi Alquran di HP yang kadang-kadang terbawa ke kamar kecil. Anjuran untuk tidak membawa HP yang mempunyai aplikasi Alquran ke dalam kamar kecil lebih sebagai penghormatan. Tetapi kalau itu menyulitkan mau ditaruh di luar tetapi tidak ada orang yang bisa dititipi, dsb., tidak mengapa HP dibawa ke dalam, tentunya dalam keadaan aplikasi Alqurannya tertutup tidak aktif. Demikian, wallahu a'lam.Muhammad Arifin, Dewan Pakar Pusat Studi Alquran
Pertanyaan Identifikasi Masalah seperti 1. Peserta didik diharapkan memberikan pertanyaan terkait slide yang diberikan, : Mengapa nilai nomor massa dan Ar pada unsur sama 2. Mengapa nilai Mr selalu lebih banyak dari Ar 3. Bagaimana cara mendapatkan nilai Mr Kemandirian (berfikir kritis dan kreatif) Pengumpulan Data
???????? KALAU DITANYA OLEH ANAK / CUCU tentang AL-QUR'AN. MINIMAL DIJAWAB SEPERTI INI T Berapa jumlah Surah dlm Al-Qur'an? J 114 Surah T Berapa jumlah Juz dlm Al-Qur'an? J 30 Juz T Berapa jumlah Hizb dlm Al-Qur'an? J 60 Hizb T Berapa jumlah Ayat dlm Al-Qur'an? J 6666 Ayat T Berapa jumlah Kata dlm Al-Qur'an?, dan Berapa Jumlah Hurufnya? J 77437 Kata, atau 77439 Kata dan 320670 Huruf T Siapa Malaikat yang disebut dlm Al-Qur'an?, J Jibril, Mikail, Malik, Raqib, Atiid,Malakulmaut, Harut, Marut, Al-Hafazoh, Al-Kiromulkatibun HamalatulArsy, dll. T Berapa Jumlah Sajdah ayat Sujud dlm Al-Qur'an? J 15 Sajdah T Berapa Jumlah para Nabi yg disebut dlm Al-Qur'an? J 25 Nabi T Berapa Jumlah Surah Madaniyah dlm Al-Qur'an?, sebutkan. J 28 Surah, al-Baqoroh, al-Imron, al-Nisa" al-Maidah, al-Anfal, al-Tawbah, al-Ra'd, al-Haj, al-Nur, al-Ahzab, Muhammad, al-Fath, al-Hujurat, al-Rahman, al-Hadid, al-Mujadilah, al-Hasyr, al-Mumtahanah, al-Shaf, al-Jum'ah, al-Munafiqun, al-Taghabun, al-Thalaq, al-Tahrim, al-Insan, al-Bayinah, al-Zalzalah, al-Nashr. T Berapa Jumlah Surah Makiyah dlm Al-Qur'an? sebutkan. J 86 Surat, selain surah tersebut di atas. T Berapa Jumlah Surah yg dimulai dgn huruf dlm Al-Qur'an? J 29 Surah. T Apakah yg dimaksud dgn Surah Makiyyah?,sebutkan 10 saja. J Surah Makiyyah adalah Surah yg diturunkan di Makkah sebelum Hijrah, seperti al-An'am, al-Araf, al-Shaffat, al-Isra', al-Naml, al-Waqi'ah, al-Haqqah, al-Jin, al-Muzammil, al-Falaq. T Apakah yg dimaksud dgn Surah Madaniyyah? sebutkan lima saja? J Surah Madaniyah adalah Surah yg diturunkan di Madinah setelah Hijrah, seperti al-Baqarah, al-Imran, al-Anfal, al-Tawbah, al-Haj. T Siapakah nama para Nabi yg disebut dlm Al-Qur'an? J Adam, Nuh, Ibrahim, Isma'il, Ishaq, Ya'qub, Musa, Isa, Ayub, Yunus, Harun, Dawud, Sulaiman, Yusuf, Zakaria, Yahya, Ilyas, Alyasa', Luth, Hud, Saleh, ZulKifli, Syuaib, Idris, Muhammad Saw. T Siapakah satu-satunya nama wanita solehah yg disebut namanya dlm Al-Qur'an? J Maryam binti Imran. T Siapakah satu-satunya nama Sahabat yg disebut namanya dlm Al-Qur'an? J Zaid bin Haritsah. Rujuk dlm surah Al Ahzab ayat 37. T Apakah ayat dlm Al-Qur'an yg pertama kalil turun? J surah al alaq ayat 1-5 إقرأ باسم ربك الذي خلق T Apakah ayat terakhir yg turun dlm Al-Qur'an? J ayat 3 surah al maidah أليوم أكملت لكم دينكم وأ تممت عليكم نعمتي و رضيت لكم الإسلام دينا T Apakah nama Surah yg tanpa Basmalah? J Surah at-Tawbah baro'ah. T Apakah nama Surah yg memiliki dua Basmalah? J Surah al-Naml. T Apakah yg disebut *surah al-mu'awidzatain 2 surah penjagaan? J Surah Al-Falaq & An-Naas. T Apakah nama Surah yg bernilai seperempat Al-Qur'an? J Surah al-Kafirun. T Apakah nama Surah yg bernilai sepertiga Al-Qur'an? J Surah al-Ikhlas T Apakah nama Surah yg menyelamatkan dari siksa Qubur? J Surah al-Mulk T Apakah nama Surah yg apabila dibaca pada hari Jum'at akan menerangi sepanjang pekan? J Surah al-Kahfi T Apakah ayat yg paling Agung dan dlm Surah apa? J Ayat Kursi, dlm Surah al-Baqarah ayat T Apakah nama Surah yg paling Agung dan berapa jumlah ayatnya? J Surah al-Fatihah, 7 ayat. T Apakah ayat yg paling bijak dan dlm surah apa? J Firman Allah Swt " Barang siapa yg melakukan kebaikan sebesar biji sawi ia akan lihat, Barang siapa melakukan kejahatan sebesar biji sawi ia akan lihat.. Surah al-Zalzalah ayat 7-8 T Apakah nama Surah yg ada dua sajdahnya? J Surah al-Haj ayat 18 dan ayat 77. T Pada Kata apakah pertengahan Al-Qur'an itu di Surah apa? ayat no Berapa? J وليتلطف Surah -Kahfi ayat No. 19 T Ayat apakah bila dibaca setiap habis Sholat Fardhu dpt mengantarkannya masuk ke dalam surga? J Ayat Kursi. T Ayat apakah yg diulang-ulang sbyk 31 kali dlm satu Surah dan di Surah apa? J Ayat فبأي آلاء ربكما تكذبانِ pada Surah al-Rahman. T Ayat apakah yg di ulang-ulang sbyk 10 kali dlm satu Surah dan di surah apa? Apakah ayat ini ada juga disebut dlm surah lainnya? Di Surah apa? J Ayat ويل يومئذ للمكذبين pada Surah al-Mursalat, juga ada dlm Surah al-Muthaffifiin ayat No. 10. T Apakah Ayat terpanjang dlm Al-Qur'an? pada Surah apa? Ayat berapa? Dan apa yang dibahas? J Ayat No 282 Surah al-Baqarah, membahas muamalah dg sesama manusia dlm keuangan& hutang piutang - Bermesraan lah dengan Al Qur'an sebagaimana mesranya kita dgn dompet & gadget kita selama ini,.. Berdekatan lah dgn al quran sedekat kita dengan pasangan,anak-anak dan teman-teman kita hari ini... Bersahabat lah dengan Nya...karena Al Qur'an tidak akan meninggalkan kita sbg sahabat ketika yg lain berpaling, dia akan datang sebagai syafaat bagi sahabat2 nya di akhirat kelak.. Yuk di share ke saudara kita yg lain agar jd investasi ilmu yg bermanfaat ???????????? ????
MakaAbu Bakar radhiyallahu 'anhu memerintahkan untuk mengumpulkan Al Qur'an agar tidak hilang. Sebenarnya, gagasan itu pernah disampaikan oleh Umar bin Khththab. Dalam kitab Shahih Bukhari disebutkan, bahwa Umar Ibn Khaththab mengemukakan pandangan tersebut kepada Abu Bakar radhiyallahu 'anhu setelah selesainya perang Yamamah.
These 40 major Questions About the Holy Quran will help you get a solid grip on general knowledge about Quran. Share to help other people know about it too. What do you know about the Qur’an? How closely are we acquainted with this scripture of God? When and under what circumstances was it sent out? What sections does the Qur’an consist of, and which of the creatures of the Lord is mentioned in it? Read the answers to these and other questions in our material. 1. Who sent down the Quran? Allah SWT. 2. To whom was the Quran revealed? To the Last Messenger of Allah, Prophet Muhammad PBUH. 3. Through whom was the revelation of the Quran sent? Through the angel Jibril AS. 4. What was the night when the Quran sent down to the lower heaven? In the month of Ramadan on the night of Predestination Lailat-ul-Qadr. 5. Where was the Quran first revealed by the angel Jibril to the Prophet Muhammad PBUH? In the cave of Hira in the vicinity of Mecca. 6. How old was the Prophet Muhammad PBUH when the first revelation was sent to him? 40 years. 7. How many years did Allah send the Quran? 23 years old. 8. For how long did the Prophet PBUH receive revelations in Makkah? For 13 years. 9. How many years have the Quranic surahs been sent to the Prophet PBUH in Madinah? 10 years. 10. Which of the Companions of the Prophet PBUH recorded the divine revelation? Abu Bakr RAUsman RAAli RAZayed bin Haris RAAbdullah bin Masoud RA 11. At whose command, the Quran was written? At the command of Abu Bakr may the Lord be pleased with him. 12. On whose advice did Abu Bakr RA decide to assemble the Quran as a whole? On the advice of the companion of Umar may the Lord be pleased with him. 13. How many associates participated in the creation of a single Mushaf of the Quran in the reign of Abu Bakr RA? 75 associates. 14. How many copies made by Usman RA have survived to this day? Only 2 copies, one of which is stored in Tashkent, the other in Istanbul. 15. How many surahs there are in the Quran? 114. 16. How many Surahs of the Quran were sent down in Makkah? 86 Surahs. 17. How many surahs of the Quran were sent down in Medinah? 28 Surahs. 18. What is the first surah of the Quran? Surah al-Fatiha. 19. What is the last surah of the Quran? Surah an-Nas. 20. What surah is called the “Heart of the Quran”? Surah Yasin 36th surah. 21. Which Surah of the Quran is the longest? Surah al-Bakara 2nd surah. 22. What is the shortest surah of the Quran? Surah al-Kausar 108th surah. 23. How many Juz are in the Quran? The Quran consists of 30 juz. 24. How many verses in the Quran? The Quran contains 6236 verses. 25. How many verses of the Quran, after reading of which you need to make an earthly bow Sajda? 14 verses. 26. What surah of the Qur’an does not begin with the Bismillah? Sura at-Tauba 9th surah 27. In what sura of the Quran does the Bismillah repeat twice? In Sura al-Naml 1 and 30 verses. 28. What surah is defined by God as a prayer dua? Surah al-Fatiha. 29. How many names of Allah are mentioned in the Quran? 99 names. 30. The names of which angels are mentioned in the Quran? Names of 5 angels. Jibril 298Michael 298Harut 2 102Marut 2 102Malik 4377. 31. How many prophets are mentioned by name in the Quran? 25 prophets. 32. Which prophets are mentioned in the Quran? Adam AS.Idris AS. Nuh AS. Hood AS. Salih AS. Lut AS. Ibrahim AS. Ismail AS. Ishaq AS. Yakub AS. Yusuf AS. Shuaib AS. Harun AS. Musa AS. Dawood AS. Suleiman AS. Ayub AS. Zulkifl AS. Yunus AS. Ilyas AS. Yasa AS. Zakaria AS. Yahya AS. Isa AS. AS. Muhammad PBUH. 33. Which prophet’s name is mentioned most often in the Quran? The name of the Prophet Musa peace be upon him is 136 times. 34. How many Surahs of the Quran are named after the names of the prophets? 6 Surahs Surah “Yunus” 10Surah “Hood” 11Surah Yusuf 12Surah “Ibrahim” 14Surah “Nuh” 71Surah “Muhammad” 47. 35. What woman’s name is mentioned in the Quran? The name of the mother of the Prophet Isa peace be upon him is Maryam. 36. What is the name of the Companion of the Prophet Muhammad PBUH mentioned in the Quran? Name of Zayed bin Haris 3337. 37. What are the other names of the Quran according to the Quran itself? The Qur’an is referred to as Al-Furkan, Al-Kitab, Al-Zikr, Al-Nur, Al-Khuda. 38. In what year did vowels appear in the Quran? In the year 43 Hijra. 39. Under what conditions can you touch the Quran? A person touching the Koran should be in a state of ritual ablution. 40. Who took responsibility for the preservation of the Quran? The Almighty. Do you like this article? Please tell others about it, repost in social networks! and if you want to correct something in this article, please comment below.
Imam Muhammad Jawad Chirri: Kitab Suci Al-Qur'an tidak menyatakan umur alam semesta. Ilmu pengetahuan sejauh ini tidak dapat dengan tepat mengetahui bila alam semesta mulai ada. Kitab Suci Al-Qur'an telah diperkenalkan di masa tidak adanya ilmu pengetahuan (in a non scientific age), di saat manusia, saya kira, tidak dapat membayangkan lamanya
Ilustrasi Anak-anak Menulis Pertanyaan. Sumber Berapa banyak sih surat di dalam Al Quran? Berapa jumlah surah dan kata per katanya? Adakah ayat Al Quran yang diulang-ulang? Jawaban pertanyaan-pertanyaan tersebut berikut beberapa pertanyaan lainnya tercantum disini. Berikut artikelnya Tanya T Berapa jumlah Surah dalam Al Quran? Jawab J 114 Surah T Berapa jumlah juz dalam Al Quran? J 30 juz T Berapa jumlah Hizb dalam Al Quran? J 60 Hizb T Berapa jumlah Ayat dalam Al Quran? J 6236 Ayat T Berapa jumlah Kata dalam Al Quran dan Berapa Jumlah Hurufnya? J 77437 kata, atau 77439 kata dan 320670 huruf T Siapa Malaikat yang disebut dalam Al Quran? J Jibril, Mikail, Malik, Raqib, Atiid,Malakulmaut, Harut, Marut, Al-Hafazoh, Al-Kiromulkatibun Hamalatul Arsy, dll. T Berapa Jumlah Ayat Sajdah dalam Al Quran? J 15 Sajdah T Berapa Jumlah para Nabi yang disebut dalam Al Quran? J 25 Nabi T Berapa Jumlah Surah Madaniyah dalam Al Quran? J 28 Surah, al-Baqoroh, al-Imron, al-Nisa" al-Maidah, al-Anfal, al-Tawbah, al-Ra'd, al-Haj, al-Nur, al-Ahzab, Muhammad, al-Fath, al-Hujurat, al-Rahman, al-Hadid, al-Mujadilah, al-Hasyr, al-Mumtahanah, al-Shaf, al-Jum'ah, al-Munafiqun, al-Taghabun, al-Thalaq, al-Tahrim, al-Insan, al-Bayinah, al-Zalzalah, al-Nashr. T Berapa Jumlah Surah Makiyah dalam Al Quran? J 86 Surat, selain surah tersebut di atas. Baca Juga Hafal Al Quran 30 Juz Dalam Waktu 40 Hari? Insya Alloh Bisa! Mau Tahu Caranya? T Berapa Jumlah Surah yang dimulai dgn huruf dalam Al Quran? J 29 Surah. T Apakah yang dimaksud dgn Surah Makiyyah? Sebutkan 10 diantaranya. J Surah Makiyyah adalah Surah yang diturunkan di Makkah sebelum Hijrah, seperti al-An'am, al-Araf, al-Shaffat, al-Isra', al-Naml, al-Waqi'ah, al-Haqqah, al-Jin, al-Muzammil, al-Falaq. T Apakah yang dimaksud dgn Surah Madaniyyah? Sebutkan lima diantaranya. J Surah Madaniyah adalah Surah yang diturunkan di Madinah setelah Hijrah, seperti al-Baqarah, al-Imran, al-Anfal, al-Tawbah, al-Haj. T Siapakah nama para Nabi yang disebut dalam Al Quran? J Adam, Nuh, Ibrahim, Isma'il, Ishaq, Ya'qub, Musa, Isa, Ayub, Yunus, Harun, Dawud, Sulaiman, Yusuf, Zakaria, Yahya, Ilyas, Alyasa', Luth, Hud, Saleh, ZulKifli, Syuaib, Idris, Muhammad Saw. T Siapakah satu-satunya nama wanita solehah yang disebut namanya dalam Al Quran? J Maryam binti Imran. T Siapakah satu-satunya nama Sahabat yang disebut namanya dalam Al Quran? J Zaid bin Haritsah. Rujuk dalam surah Al Ahzab ayat 37. T Apakah ayat dalam Al Quran yang pertama kali turun? J surah al alaq ayat 1-5 إقرأ باسم ربك الذي خلق T Apakah ayat terakhir yang turun dalam Al Quran? J ayat 3 surah al maidah أليوم أكملت لكم دينكم وأ تممت عليكم نعمتي و رضيت لكم الإسلام دينا T Apakah nama Surah yang tanpa Basmalah? J Surah at-Tawbah Baro'ah. T Apakah nama Surah yang memiliki dua Basmalah? J Surah al-Naml. Baca Juga Hafal Al Quran 30 Juz Dalam Waktu 40 Hari? Insya Alloh Bisa! Mau Tahu Caranya? T Apakah yang disebut Surah Al-Mu'awidzatain 2 surah penjagaan? J Surah Al-Falaq & An-Naas. T Apakah nama Surah yang bernilai seperempat Al Quran? J Surah al-Kafirun. T Apakah nama Surah yang bernilai sepertiga Al Quran? J Surah al-Ikhlas T Apakah nama Surah yang menyelamatkan dari siksa Kubur? J Surah al-Mulk T Apakah nama Surah yang apabila dibaca pada hari Jumat akan menerangi sepanjang pekan? J Surah al-Kahfi T Apakah ayat yang paling agung dan dalam Surah apa? J Ayat Kursi, dalam Surah al-Baqarah ayat T Apakah nama Surah yang paling agung dan berapa jumlah ayatnya? J Surah al-Fatihah, 7 ayat. T Apakah ayat yang paling bijak dan dalam surah apa? J Firman Allah Swt "Barang siapa yang melakukan kebaikan sebesar biji sawi ia akan lihat, Barang siapa melakukan kejahatan sebesar biji sawi ia akan lihat". TQS. al-Zalzalah ayat 7-8 T Apakah nama Surah yang ada dua sajdahnya? J Surah al-Haj ayat 18 dan ayat 77. T Pada kata apakah pertengahan Al Quran itu di Surah apa? Ayat ke berapa? J * وليتلطف* Surah -Kahfi ayat No. 19 T Ayat apakah bila dibaca setiap habis Sholat Fardhu dapat mengantarkannya masuk ke dalam surga? J Ayat Kursi. T Ayat apakah yang diulang-ulang sebanyak 31 kali dalam satu Surah dan di Surah apa? J Ayat فبأي آلاء ربكما تكذبانِ pada Surah al-Rahman. T Ayat apakah yang diulang-ulang sebanyak 10 kali dalam satu Surah dan di surah apa? Apakah ayat ini ada juga disebut dalam surah lainnya? Di Surah apa? J Ayat ويل يومئذ للمكذبين pada Surah al-Mursalat, juga ada dalam Surah al-Muthaffifiin ayat No. 10. T Apakah Ayat terpanjang dalam Al Quran? pada Surah apa? Ayat berapa? Dan apa yang dibahas? J Ayat No 282 Surah al-Baqarah, membahas muamalah dg sesama manusia dalam keuangan& hutang piutang Seperi itulah jawaban atas pertanyaan-pertanyaan umum seputar Al Quran. Anda punya pertanyaan lainnya? Dikutip dan ditulis ulang dari artikel berjudul, "Mari Lebih Mengenal Bagian dari Al Quran", 30 Oktober 2015, oleh .
  • 8g36af5d5g.pages.dev/273
  • 8g36af5d5g.pages.dev/218
  • 8g36af5d5g.pages.dev/429
  • 8g36af5d5g.pages.dev/423
  • 8g36af5d5g.pages.dev/492
  • 8g36af5d5g.pages.dev/206
  • 8g36af5d5g.pages.dev/67
  • 8g36af5d5g.pages.dev/232
  • pertanyaan sulit tentang pengumpulan al qur an