AlBaqarah: 84). Apabila terjadi peperangan di antara kedua belah pihak, maka masing-masing berpihak kepada teman sepaktanya. Orang-orang Yahudi pun terlibat pula dalam peperangan ini hingga ia membunuh musuhnya, dan adakalanya seorang Yahudi membunuh Yahudi lain yang berpihak kepada musuhnya. Padahal perbuatan tersebut diharamkan atas diri
ArticlePDF AvailableAbstractBeing a pluralist community, Nias consists of not only the Nias ethnic group but also other ethnic groups, such as Tionghoa Chinese, Padang, Batak and Javanese. Social harmony within the community is like no other ever found in other regions across Indonesia. Indeed, social harmony amongst the Nias community has been a very much interesting social fact for research and analysis. Has some sort of local wisdom been exercised as a social capital to create the social harmony within the life of this religious-pluralist community? A research on this was conducted in Kota Gunungsitoli by applying the descriptive-qualitative research. The research shows that their local wisdom of Banua dan fatalifus/em>ta, Emali dome si so ba lala, ono luo na so yomo, Sebua taideide sideideide mutayaig/em>and the fact that religious communites in this region have strong understanding and emphasize on their religious values are matters that heavily influence both the creation and the preservation of the social harmony within the community. Keyword Social-harmony, Religious Pluralism, Cultural diversity, Nias, Banua dan fatalifus/em>ta Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for freeContent may be subject to copyright. KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT NIAS DALAM MEMPERTAHANKAN HARMONI SOSIAL Sri Suwartiningsih dan David Samiyono Universitas Kristen Satya Wacana ABSTRACT Being a pluralist community, Nias consists of not only the Nias ethnic group but also other ethnic groups, such as Tionghoa Chinese, Padang, Batak and Javanese. Social harmony within the community is like no other ever found in other regions across Indonesia. Indeed, social harmony amongst the Nias community has been a very much interesting social fact for research and analysis. Has some sort of local wisdom been exercised as a social capital to create the social harmony within the life of this religious-pluralist community? A research on this was conducted in Kota Gunungsitoli by applying the descriptive-qualitative research. The research shows that their local wisdom of Banua dan fatalifusöta, Emali dome si so ba lala, ono luo na so yomo, Sebua ta’ide’ide’ö, side’ide’ide mutayaigö [tidak bold] and the fact that religious communities in this region have strong understanding and emphasis on their religious values. These factors heavily influence both the creation and the preservation of the social harmony within the community. KEYWORDS social-harmony, Religious Pluralism, Cultural diversity, Nias, Banua and fatalifusöta. 236 SOCIETAS DEI, Vol. 1, No. 1, Oktober 2014 ABSTRAK Masyarakat Nias adalah masyarakat plural yang tidak hanya terdiri dari suku Nias saja, tetapi juga terdiri dari suku-suku bangsa lainnya, seperti Tionghoa, Padang, Batak dan Jawa. Harmoni sosial yang telah tercipta dalam masyarakat Nias ini telah menjadikannya berbeda dengan beberapa masyarakat di daerah-daerah lain di Indonesia. Harmoni sosial yang tercipta dalam komunitas masyarakat Nias telah menjadi sebuah fakta sosial yang layak untuk dianalisis dan diteliti. Upaya harmoni apa yang dilakukan oleh masyarakat Nias yang agamis-pluralistik ini yang menjadi modal dasar bagi terciptanya harmoni sosial tersebut? Penelitian dilakukan di Kota Gunungsitoli dengan pendekatan penelitian deskriptif-kualitatif. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa kearifan lokal Banua dan fatalifusöta, Emali dome si so ba lala, ono luo na so yomo, Sebua ta’ide’ide’ö, side’ide’ide mutayaigö dan pemahaman dan penekanan nilai-nilai keagamaan yang kuat bagi pemeluk-pemeluknya yang agamis-pluralistik memiliki hubungan yang sangat erat terhadap terciptanya dan terpeliharanya harmoni sosial yang ada di dalamnya. KATA KUNCI harmoni sosial, Pluralisme Agama, Nias, Banua dan fatalifusöta. KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT NIAS 237 LATAR BELAKANG Masyarakat Nias adalah salah satu masyarakat plural yang ada di Provinsi Sumatera Utara. Sampai sekarang masih belum ada sumber informasi yang pasti tentang asal-usul masyarakat Nias yang Salah satu suku bangsa mayoritas yang ada dalam masyarakat Nias adalah suku Nias. Suku Nias adalah kelompok masyarakat yang hidup di pulau Nias. Dalam bahasa aslinya, orang Nias menamakan diri mereka "Ono Niha" Ono = anak/keturunan; Niha = manusia dan pulau Nias sebagai "Tanö Niha" Tanö = tanah. Suku Nias adalah masyarakat yang hidup dalam lingkungan adat dan kebudayaan yang masih tinggi. Hukum adat Nias secara umum disebut fondrakö yang mengatur segala segi kehidupan mulai dari kelahiran sampai kematian. Masyarakat Nias kuno hidup dalam budaya megalitik dibuktikan oleh peninggalan sejarah berupa ukiran pada batu-batu besar yang masih ditemukan di 1 Tentang asal-usul masyarakat Nias masih belum ada kepastian yang jelas atau kesepakatan di antara para antropolog, ada yang mengatakan bahwa leluhur masyarakat Nias berasal dari Indostan, yaitu suatu istilah geografis kuno untuk negeri-negeri di sebelah Timur Laut dari India; ada juga yang mengatakan bahwa leluhur masyarakat Nias berasal dari Tionghoa. Sedangkan menurut masyarakat Nias, salah satu mitos asal usul suku Nias berasal dari sebuah pohon kehidupan yang disebut "Sigaru Tora`a" yang terletak di sebuah tempat yang bernama "Tetehöli Ana'a". Menurut mitos tersebut, di atas mengatakan kedatangan manusia pertama ke Pulau Nias dimulai pada zaman Raja Sirao yang memiliki 9 orang putra yang disuruh keluar dari Tetehöli Ana'a karena memperebutkan Takhta Sirao. Ke-9 putra itulah yang dianggap menjadi orang-orang pertama yang menginjakkan kaki di Pulau Nias lihat Wikipedia, ‚Suku Nias‛, 25 Nopember 2011, diakses 29 Agustus 2014, 238 SOCIETAS DEI, Vol. 1, No. 1, Oktober 2014 wilayah pedalaman pulau ini sampai Masyarakat Nias adalah masyarakat plural yang tidak hanya terdiri dari suku Nias saja, tetapi juga terdiri dari suku-suku bangsa lainnya, seperti Tionghoa, Padang, Batak dan Jawa. Hal ini terjadi karena datangnya orang-orang dari luar Pulau Nias yang memiliki berbagai kepentingan, seperti berdagang perniagaan. Jejak mereka dapat dilacak dari permukiman mereka yang sekarang di Idano Gawo, Sirombu, Gunungsitoli kota terbesar di Pulau Nias, Lahewa, dan Tuhemberua semua terletak di daerah pesisir pantai Pulau Nias, terbesar bagian Kemudian dalam perjalanan waktu para pendatang ini semakin lama semakin merasa betah tinggal di Pulau Nias, dan akhirnya memutuskan untuk tinggal menetap di pulau ini. Menurut Elio Modigliani, yang dikutip oleh Johannes Maria Harmmerle, hal ini juga kemungkinan disebabkan oleh terjadinya suatu proses asimilasi dalam suatu proses yang panjang melalui migrasi para penduduk dan melalui perkawinan campur. Lama-kelamaan tercipta suatu ciri khas gabungan dari dua elemen Secara sosiologis, asimilasi dalam bentuk perkawinan campuran ini semakin memperkuat keberadaan atau status sosial mereka dalam komunitas masyarakat Nias. Sebagai konsekuensi riil sosiologisnya ialah bahwa akhirnya mereka diterima sebagai 2 Wikipedia, ‚Suku Nias‛. 3 Phil J. Garang, Nias Membangun Harapan Menapak Masa Depan. Jakarta Yayasan Tanggul Bencana Indonesia, 2007, h. 47. 4 Johannes Maria HĂ€mmerle, Asal Usul Masyarakat Nias Suatu Interpretasi, Gunungsitoli Yayasan Pusaka Nias, 2001, h. 42. KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT NIAS 239 bagian yang sah secara adat dan agama di dalam masyarakat Nias. Asimilasi ini menjadi ikatan sosial yang sangat kuat, tidak hanya secara sosiologis tetapi juga secara emosional. Hal ini disebabkan oleh sistem kemasyarakatan dalam masyarakat Nias yang berlandaskan atas hubungan kekeluargaan dan kekerabatan. Selain pluralitas etnis di atas, salah satu kenyataan objektif lainnya yang kelihatan secara jelas dalam konteks masyarakat Nias adalah pluralitas agama. Dari segi kehidupan keagamaan, masyarakat Nias adalah masyarakat yang agamis-pluralistik. Ada yang memeluk agama Kristen Protestan, Katolik, Islam dan Buddha. Namun secara kuantitatif, masyarakat Nias mayoritas memeluk agama Kristen Protestan. Pada kenyataannya dalam perjalanan waktu yang sangat panjang, masyarakat Nias yang agamis-pluralistik ini telah hidup berdampingan dengan damai dan rukun. Sampai saat ini masyarakat Nias telah hidup berdampingan secara damai dan toleran. Secara sosiologis, masyarakat Nias hidup secara bersama-sama sebagai sebuah komunitas sosial yang saling menerima, menghargai dan membaur satu sama lain dalam kegiatan-kegiatan keagamaan dan kegiatan-kegiatan sosial. Seperti pada perayaan hari-hari besar keagamaan, masyarakat Nias yang berbeda agama saling menghormati dalam pelaksanaan kegiatan-kegiatan peribadatannya. Tidak ada keengganan orang yang beda agama untuk menghadiri kegiatan-kegiatan keagamaan meskipun hal tersebut diselenggarakan di tempat-tempat ibadah seperti gereja, masjid, dan sebagainya. Bahkan sampai sekarang masih ada kebiasaan saling berkunjung ke rumah antar-pemeluk agama 240 SOCIETAS DEI, Vol. 1, No. 1, Oktober 2014 sebagai pengikat tali silaturahmi pada perayaan hari-hari besar keagamaan, seperti Natal dan Tahun Baru atau Hari Raya Idul Fitri, dan sebagainya. Juga dalam upacara-upacara adat seperti pesta perkawinan dan upacara penguburan orang mati, tetap terjalin kepedulian dan persaudaraan yang indah, baik dalam peristiwa suka maupun duka. Harmoni sosial yang telah tercipta dalam masyarakat Nias ini telah menjadikannya berbeda dengan beberapa masyarakat di daerah-daerah lain di Indonesia yang juga agamis-pluralistik, namun pada kenyataannya seringkali menjadi medan kekerasan dan ajang konflik sosial. Secara historis, hampir tidak pernah terjadi konflik horizontal yang bersifat destruktif di dalam masyarakat Nias. Tidak pernah ada aksi teror atau kekerasan atas nama agama dan atau atas nama suku seperti yang sering terjadi di daerah-daerah lain di Indonesia. Harmoni sosial yang tercipta dalam komunitas masyarakat Nias telah menjadi sebuah fakta sosial yang layak untuk dianalisis dan diteliti. Harmoni sosial ini menjadi sesuatu yang layak untuk diteliti oleh karena biasanya pada komunitas masyarakat agamis-pluralistik di daerah-daerah lain sering diwarnai disharmoni sosial atau keretakan-keretakan dalam hubungan sosial antar-individu atau kelompok-kelompok sosial. Hal inilah yang melatarbelakangi kajian penelitian ini apakah ada kearifan lokal dalam masyarakat Nias, khususnya Kota Gunungsitoli ini yang menjadi modal dasar bagi terciptanya harmoni sosial tersebut? KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT NIAS 241 METODE PENELITIAN Penelitian ini dilakukan di Kepulauan Nias tepatnya di Kota Gunungsitoli, karena peneliti menganggap lokasi ini lebih representatif untuk menggambarkan nuansa kehidupan sosial masyarakat Nias yang agamis-pluralistik. Alasan Kota Gunungsitoli dipilih sebagai lokasi penelitian karena kota ini merupakan salah satu daerah yang memiliki tingkat pluralitas tinggi, dan sejauh ini tidak pernah terjadi konflik sosial, politik, budaya dan agama di kota ini. Hal ini mencerminkan adanya sebuah kesepakatan sosial di antara masyarakat. Kesepakatan sosial itu dapat berdasarkan atas kearifan lokal yang diakui sebagai pilar kerukunan. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif, mengapa? Karena penelitian kualitatif sangat efektif untuk mengkaji nuansa sikap dan perilaku yang samar-samar serta proses sosial yang ada di masyarakat. Di samping itu melalui pendekatan kualitatif dapat digunakan untuk mengeksplorasi di mana dan mengapa suatu kebijakan, kearifan lokal dan tindakan dilakukan. Dalam penelitian ini dipergunakan tiga teknik pengumpulan data yaitu dengan teknik interview wawancara, teknik observasi dan dokumentasi. Signifikasi dari penelitian ini antara lain Pertama, tersedianya modal sosial yang melibatkan networks jaringan, norms norma-norma, dan kepercayaan sosial social trust dalam masyarakat. Kedua, hasil penelitian ini bisa menjadi momentum pemikiran dunia akademis, khususnya kaitan antara agama 242 SOCIETAS DEI, Vol. 1, No. 1, Oktober 2014 dengan wilayah kehidupan sosial lainnya, seperti ekonomi, politik, dan integrasi sosial. Ketiga, hasil penelitian juga memberikan masukan kepada pemerintah dan organisasi-organisasi sosial-keagamaan sebagai pilar-pilar masyarakat sipil di Indonesia, betapa kearifan lokal yang dimiliki oleh masyarakat Indonesia memiliki nilai damai’ yang sangat signifikan dalam menyumbang terciptanya hamoni sosial. TINJAUAN PUSTAKA Sebagai pisau analisis dalam membahas dan menjawab tujuan penelitian maka diperlukan kajian teoritis. Penelitian ini menggunakan teori Pluralisme, Harmoni Sosial dan Kearifan lokal yang diuraikan sebagai berikut Pluralisme Menurut Prof. John A. Titaley, pluralisme adalah kenyataan bahwa dalam suatu kehidupan bersama manusia terdapat keragaman suku, ras, budaya dan agama. Keragaman agama itu terjadi juga karena adanya faktor lingkungan tempat manusia itu hidup yang juga tidak sama. Lingkungan hidup empat musim bagi seseorang akan membuat orang tersebut memiliki karakter dan pembawaan yang berbeda dengan orang yang hidup dalam lingkungan yang hanya terdiri dari dua musim, seperti musim hujan dan musim panas. Agama bukan saja suatu lembaga yang berhubungan dengan Yang Mutlak saja, tetapi juga adalah lembaga sosial. Dia adalah bagian dari kebudayaan karena dia dihidupi dalam kehidupan manusia sehari-hari, sama seperti KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT NIAS 243 kehidupan lainnya. Karenanya, sebagai suatu institusi sosial, agama itu juga adalah bagian dari satu sistem kebudayaan. Jadi kalau kebudayaan manusia itu beragam, maka dapat dipahami pula kalau agama itu pun juga beragam. Mengapa agama itu juga bagian dari kebudayaan? Karena manusia tidaklah dapat hidup di luar Bangsa Indonesia adalah bangsa yang plural, yaitu bangsa yang terdiri dari berbagai agama, suku bangsa etnis, bahasa, kebudayaan, dan adat istiadat. Seharusnya realitas kemajemukan ini disyukuri sebagai salah satu kekayaan yang dapat merajut harmoni sosial di tiap-tiap daerah di Indonesia, sekaligus sebagai modal untuk membangun integrasi bangsa. Namun sangat disayangkan, pluralitas atau perbedaan yang ada tersebut justru seringkali dijadikan sebagai sumber atau faktor yang menjadi penyebab konflik atau kekerasan, secara khusus pertikaian antaragama di Indonesia, yang dalam beberapa tahun terakhir menodai dan mengancam harmoni sosial dan integrasi nasional. Padahal pluralisme terkait dengan penghargaan dan toleransi antara self dan the other, kelompok – tanpa memandang besar atau kecil – dengan kelompok lain. Pluralisme bukan pula membenarkan segala ekspresi kebudayaan nihilisme seperti budaya kekerasan, budaya memaksa, budaya korupsi, dan dosa-dosa sosial 5 John Titaley, ‚Pluralisme dan Kerukunan Hidup Beragama‛, Suara Merdeka 9 Desember 2005, diakses 31 Maret 2012, 6 Muhammad Ali, Teologi Pluralis-Multikultural Menghargai Kemajemukan, 244 SOCIETAS DEI, Vol. 1, No. 1, Oktober 2014 Pluralisme berasal dari kata pluralism yang berarti jamak. Ia dicirikan oleh keyakinan-keyakinan bahwa pluralisme merupakan realitas fundamental yang bersifat jamak, di mana ada banyak tingkatan dalam alam semesta yang terpisah yang tidak dapat teredusir dan pada dirinya independen. Sedangkan alam semesta pada dasarnya tidak tertentukan dalam bentuk, tidak memiliki kesatuan atau kontinuitas harmonis yang mendasar, tidak ada tatanan koheren dan rasional fundamental7. Pluralisme sebagai konsep nilai ideal mesti dibangun dengan pemahaman-pemahaman yang besar agar tidak setengah-setengah ataupun justru terlalu berlebihan. Shihab memberikan gambaran pluralisme dengan batasan-batasan tertentu8, yaitu Pertama, pluralisme tidak semata menunjuk pada kemajemukan. Namun yang dimaksud pluralisme adalah keterlibatan aktif terhadap kenyataan kemajemukan tersebut. Sikap dan tindakan aktif untuk memahami perbedaan dan persamaan guna tercapainya kerukunan dalam kebhinekaan. Kedua, pluralisme harus dibedakan dengan kosmopolitanisme yang hanya menunjuk pada suatu realitas di mana aneka ragam ras, bangsa hidup berdampingan di suatu lokasi. Ketiga, pluralisme harus dibedakan dengan relativisme. Relativisme berasumsi bahwa hal-hal yang menyangkut kebenaran atau nilai-nilai ditentukan oleh pandangan hidup serta kerangka berpikir seseorang atau masyarakat. Keempat, pluralisme bukanlah Menjalin Kebersamaan. Jakarta Penerbit Buku Kompas, 2003. 7 Lorens Bagus, Kamus Filsafat, Jakarta Gramedia, 1996, h. 853. 8 Alwi Shihab, Islam Inklusif, Bandung Mizan, 1999, h. 41-42. KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT NIAS 245 sinkretisme di mana terdapat usaha untuk menciptakan suatu agama baru dengan memadukan unsur tertentu atau sebagian komponen ajaran dari beberapa agama untuk dijadikan bagian integral dari agama tersebut. Sikap dan tindakan dalam berinteraksi menjadi hal terpenting mengingat hakekat manusia sebagai makhluk sosial. Keterlibatan aktif dengan kelompok lain untuk bertoleransi, memahami, serta membangun dan memperkaya keragaman dalam komunitas global adalah pengertian pluralisme yang lebih mendalam. Knitter mengatakan bahwa ada tiga jembatan yang dapat menghubungkan memori umat beragama ke dalam satu sikap yang mendukung teologi pluralisme di antara umat Pertama, jembatan historis-kultural. Melalui cara ini, maka titik tekan dari pembahasan mengenai agama-agama adalah sifat kebenarannya yang relatif. Dengan melihat bahwa semua agama hidup dalam sebuah keterbatasan budaya, maka ia tidak bisa menjadi standar untuk melihat kebenaran agama lain. Kedua, jembatan teologis-mistis ini diartikan bahwa isi pengalaman keagamaan yang otentik itu tidak terbatas, dan melampaui segala bentuk untuk menggapai. Misteri Allah yang tidak terbatas itu menuntut pluralisme keagamaan dan melarang agama manapun memiliki firman satu-satunya atau firman terakhir. Ketiga, jembatan etis-praktis. Motivasi dari pendekatan pluralitas bukanlah kesadaran historis, kepercayaan mistis, tetapi 9 Paul F. Knitter dan John Hick, Mitos Keunikan Agama Kristen The Myth of Christian Uniqueness, Jakarta BPK Gunung Mulia, 2001. 246 SOCIETAS DEI, Vol. 1, No. 1, Oktober 2014 perjumpaan dengan penderitaan-penderitaan umat manusia dan kebutuhan untuk mengakhiri keadaan yang membangkitkan kemarahan itu. Kebutuhan mempromosikan keadilan, menjadi kebutuhan umat beragama terhadap kepercayaan mereka. Ini merupakan awal dari teologi pembebasan. Dalam salah satu makalahnya, Abdurrahman Wahid Gus Dur, pernah mengatakan Karena budaya kita memang suka terbilang, maka dengan sendirinya kemajemukan itu telah ada dalam kehidupan bangsa kita. Tetapi akan lebih mantap dan berwajah lebih lengkap, kalau hal ini kita sadari dengan baik sebagai warga negara yang mengetahui kebutuhan hidup bersama, kebutuhan akan hidup toleransi dan menghargai orang lain, sebagai sebuah sikap hidup yang dimiliki sehari-hari. Dengan demikian sikap eksklusif dalam membina kehidupan bersama memang mudah diungkapkan, namun sulit Sebelumnya, dalam pidato pada perayaan Natal Nasional pada tanggal 27 Desember 1999 di Balai Sidang Senayan Jakarta, Abdurrahman Wahid menyampaikan Saya adalah seorang yang meyakini kebenaran agama saya, tapi ini tidak menghalangi saya untuk merasa bersaudara dengan orang yang beragama lain di negeri ini, bahkan dengan sesama umat beragama. Sejak kecil itu saya rasakan. Walaupun saya tinggal di lingkungan pesantren, hidup di kalangan keluarga kiai, tak pernah sekalipun saya merasa berbeda dengan yang 10 Abdurrahman Wahid, Kemajemukan Modal Membangun Bangsa, Makalah tidak diterbitkan, 8 Agustus 2003, h. 3. 11 Rumadi, ‚Dinamika Agama Dalam Pemerintahan Gus Dur‛, dalam KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT NIAS 247 Harmoni Sosial Sebagai makhluk sosial, manusia tidak dapat hidup tanpa orang lain. Manusia tidak hidup sendirian, tetapi bersama orang lain. Pola dasar keberadaan manusia ialah hubungan antar-pribadi. Keberadaan manusia bersama dengan sesamanya merupakan kenyataan yang tidak dapat disangkal. Tidak mungkin hidup tanpa orang lain. Manusia tidak mandiri dalam arti mampu hidup tanpa orang Suatu masyarakat akan berada dalam ketertiban, ketenteraman, dan kenyamanan, bila berhasil membangun harmoni sosial. Banyak hal yang berkaitan dengan harmoni sosial, baik dari aspek ideologi, politik, ekonomi, budaya, pertahanan, dan Sebagai makhluk sosial, setiap orang tidak akan pernah hidup dengan dirinya sendiri, tanpa bergantung pada orang lain di sekitarnya. Seseorang akan selalu butuh dengan yang lain, tidak hanya untuk saling bantu dan tolong-menolong, tapi juga untuk membangun komunitas sosial yang saling mendukung dan bekerja sama untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Kehidupan masyarakat Indonesia yang berasal dari latar belakang yang beragam suku, budaya, agama, tradisi, pendidikan, ekonomi dan Neraca Gus Dur Di Panggung Kekuasaan, Khamami Zada ed, Jakarta LAKPESDAM, 2002, h. 144. 12 Arie Jan Plaisier, Manusia, Gambar Allah, Terobosan-Terobosan dalam Bidang Antropologi Kristen. Jakarta BPK Gunung Mulia, 2002, h. 103. 13 Aristiono Nugroho, ‚Harmoni Sosial Berbasis Ketuhanan‛, Sosiologi Dakwah, 7 Maret 2009, diakses 25 Nopember 2011, 248 SOCIETAS DEI, Vol. 1, No. 1, Oktober 2014 sebagainya, adalah sesuatu yang niscaya dan tidak dapat dielakkan oleh setiap individu. Namun di situlah keindahan sebuah komunitas sosial bila mampu merekat berbagai perbedaan itu dan menjadikannya sebagai sarana untuk saling memahami, tepo seliro dan toleransi, yang akhirnya akan melahirkan persatuan dan saling mencintai. Pada kenyataannya, di tengah masyarakat kita berbagai perbedaan itu kerap menjadi bom waktu dan sumbu pemicu terjadinya konflik horizontal berkepanjangan. Tentu banyak variabel penyebab munculnya berbagai konflik. Bahkan bisa jadi konflik membara dapat muncul dari sebuah komunitas yang berasal dari latar belakang budaya, ekonomi, suku dan pendidikan yang sama. Konflik seperti ini kerap terjadi pada masyarakat Indonesia yang hidup di pedalaman dan tidak memiliki pendidikan memadai untuk mengomunikasikan masalah yang terjadi di tengah mereka. Sehingga bagi mereka bahasa otot jauh lebih efektif untuk menyelesaikan masalah tersebut ketimbang bahasa otak. Situasi seperti di atas mungkin sangat sulit kita temukan terjadi di wilayah perkotaan dengan tingkat pendidikan masyarakatnya yang lebih baik. Walau perspektif ini tidak berlaku mutlak. Karena kita juga kerap menyaksikan para mahasiswa yang notabene berasal dari kalangan terdidik terkadang juga suka menyelesaikan masalah yang mereka hadapi dengan bahasa otot tawuran, perkelahian jalanan dan menafikan eksistensi mereka sebagai komunitas terdidik yang layak dijadikan sebagai teladan. KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT NIAS 249 Konflik dapat terjadi di mana saja, pada siapa saja dan komunitas manapun, tidak peduli apakah ia berasal dari kalangan terpelajar, suku atau agama yang sama. Setiap orang dapat terlibat dalam arus konflik yang terjadi di hadapannya, atau bersentuhan langsung dengannya kecuali mereka yang memiliki pikiran yang jernih, hati yang lapang dan kendali nafsu yang kuat. Perbedaan budaya, kultur dan tradisi suatu wilayah dengan wilayah yang lain juga akan menghasilkan karakter yang berbeda. Inilah salah satu kekayaan bangsa kita yang terdiri dari banyak suku yang tersebar di berbagai wilayah. Sebagaimana disebutkan di atas bahwa pelbagai perbedaan tersebut dapat menjadi pemicu munculnya sebuah konflik bila tidak dikelola dengan baik. Putusnya jalinan komunikasi dan interaksi antar-tetangga menjadi sebab utama munculnya masalah-masalah besar. Memang tidak dapat dimungkiri bahwa kesibukan setiap orang yang berangkat pagi menuju tempat kerja dan pulang petang membuat hubungan itu menjadi renggang atau putus. Bahkan, penghuni dua rumah yang hanya dipisahkan tembok, terkadang tidak saling kenal. Apakah ini karena tidak adanya waktu luang, atau tidak pernah meluangkan waktu untuk sekadar saling menyapa atau melempar senyum sembari menanyakan kondisi masing-masing? Bila kultur seperti ini yang lebih kental ketimbang kebersamaan untuk mewujudkan sebuah lingkungan yang nyaman dan aman, masyarakat yang lebih peduli terhadap sesama, maka sangat wajar bila masyarakat tidak menikmati kehidupan sosial yang baik di tengah komunitas masyarakat di 250 SOCIETAS DEI, Vol. 1, No. 1, Oktober 2014 mana mereka berada. Tidak aneh, bila ada seseorang yang meninggal dunia tanpa diketahui tetangga sekitarnya, dan baru diketahui setelah tercium bau busuk dari Kearifan Lokal Kearifan lokal local genius/local wisdom merupakan pengetahuan lokal yang tercipta dari hasil adaptasi suatu komunitas yang berasal dari pengalaman hidup yang dikomunikasikan dari generasi ke generasi. Kearifan lokal dengan demikian merupakan pengetahuan lokal yang digunakan oleh masyarakat lokal untuk bertahan hidup dalam suatu lingkungannya yang menyatu dengan sistem kepercayaan, norma, budaya dan diekspresikan di dalam tradisi dan mitos yang dianut dalam jangka waktu yang lama. Proses regenerasi kearifan lokal dilakukan melalui tradisi lisan cerita rakyat dan karya-karya sastra, seperti babad, suluk, tembang, hikayat, lontarak dan lain Masyarakat dengan pengetahuan dan kearifan lokal telah ada di dalam kehidupan semenjak zaman dahulu mulai dari 14 ‚Indahnya Harmoni Sosial‛, Almanar, 2 Januari 2013, diakses 25 Nopember 2011, 15 Restu Gunawan mengemukakan ini dalam makalah Kongres Bahasa berjudul ‛Kearifan Lokal dalam Tradisi Lisan dan Karya Sastra‛ Oktober 2008, dikutip dalam AA G Oka Wisnumurti, Mengelola Nilai Kearifan Lokal Dalam Mewujudkan Kerukunan Umat Beragama Suatu tinjauan Empiris-Sosiologis, 2010, diakses 25 Nopember 2011, KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT NIAS 251 zaman prasejarah sampai sekarang ini. Kearifan tersebut merupakan perilaku positif manusia dalam berhubungan dengan alam dan lingkungan sekitarnya yang dapat bersumber dari nilai-nilai agama, adat istiadat, petuah nenek moyang atau budaya setempat Wietoler, 2007, yang terbangun secara alamiah dalam suatu komunitas masyarakat untuk beradaptasi dengan lingkungan di sekitarnya. Perilaku ini berkembang menjadi suatu kebudayaan di suatu daerah dan akan berkembang secara turun-temurun. Secara umum budaya lokal dimaknai sebagai budaya yang berkembang di suatu daerah, yang unsur-unsurnya adalah budaya suku-suku bangsa yang tinggal di daerah Sementara Moendardjito mengatakan bahwa unsur budaya daerah potensial sebagai local genius karena telah teruji kemampuannya untuk bertahan sampai Ciri-cirinya adalah mampu bertahan terhadap budaya luar, memiliki kemampuan mengakomodasi unsur-unsur budaya luar, mempunyai kemampuan mengintegrasikan unsur budaya luar ke dalam, budaya asli, mempunyai kemampuan mengendalikan, mampu memberi arah pada perkembangan budaya. 16 Erwan Baharudin, ‚Kearifan Lokal, Pengetahuan Lokal dan Degradasi Lingkungan‛, 3 Agustus 2011, diakses 25 Nopember 2011, 17 Ayatrohaedi, Kepribadian Budaya Bangsa local genius, Jakarta Pustaka Jaya, 1986. 252 SOCIETAS DEI, Vol. 1, No. 1, Oktober 2014 KOTA GUNUNGSITOLI Sejarah Kota Gunungsitoli lahir pada 7 April Terdapat banyak pendapat mengenai nama ‚Gunungsitoli‛ itu sendiri. Ada yang mengatakan bahwa nama ‚Gunungsitoli‛ berasal dari istilah ‚Onozitoli‛, yaitu suatu nama kampung banua, yang memiliki arti ono = anak, zitoli atau sitoli = nama orang. Pendapat lain mengatakan bahwa nama ‚Gunungsitoli‛ berasal dari ‚Hilisite’oli”, yang memiliki arti hili = gunung, dan site’oli = yang berjejer. Namun, salah seorang tokoh masyarakat sekaligus budayawan dan seniman Nias bernama F. Zebua, dalam salah satu bukunya menuliskan bahwa nama ‚Gunungsitoli‛ berasal dari istilah ‚Hiligatoli”. Ia mengatakan sebagai berikut Asal-usul logis, benar, argumentatif dan historis-fundamental serta dapat dipertanggungjawabkan tentang sebutan ‚Gunungsitoli‛ berasal dari istilah Hiligatoli, nama gunung dalam pusat kota Gunungsitoli sekarang persambungan Hilihati sekarang. Nama Gunung itu berasal dari nama orang Toli’ana’a, dengan panggilan sehari-hari Katoli = Gatoli. Katoli ini adalah putera sulung baginda Löchözitölu Zebua cikal-bakal Banua Hilihati. Toli’ana’a dikuburkan di gunung itu sebelum timbulnya pelabuhan Luahanou dan sebelum timbulnya istilah ‚gunungsitoli‛ itu. Kemudian Hiligatoli itu diterjemahkan dalam bahasa Melayu yang 18Lihat Marinus Telaumbanua, ed., Kota Gunungsitoli Sejarah Lahirnya dan Perkembangannya, Gunungsitoli, Pulau Nias tanpa penerbit, 1996. KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT NIAS 253 berakulturasi dengan bahasa Nias menjadi gunungsitoli, yaitu Hili = Gunung; Gatoli dari Katoli = Ka Toli = Si Toli atau Sitoli nama orang tersebut di atas. Profil Geografi dan Wilayah Pemerintahan Kota Gunungsitoli diresmikan oleh Menteri Dalam Negeri Indonesia, Mardiyanto, pada 29 Oktober 2008, sebagai salah satu hasil pemekaran dari Kabupaten administratif, wilayah Kota Gunungsitoli meliputi 1. Kecamatan Gunungsitoli Utara 2. Kecamatan Gunungsitoli Alo’oa 3. Kecamatan Gunungsitoli 4. Kecamatan Gunungsitoli Selatan 5. Kecamatan Gunungsitoli Barat 6. Kecamatan Gunungsitoli Idanoi Wilayah Kota Gunungsitoli berbatasan dengan utara, Kecamatan Sitölu Ìri Kabupaten Nias Utara. Selatan, Kecamatan Gidö dan Hili Serangkai Kabupaten Nias. Barat, Kecamatan Alasa Talumuzöi dan Namöhalu Esiwa Kabupaten Nias Utara, dan Kecamatan Hiliduho Kabupaten Nias. Timur, Samudera Indonesia Jumlah penduduk Kota Gunungsitoli berdasarkan Sensus Penduduk pada tahun 2009 adalah sebanyak jiwa. Secara khusus dalam Kecamatan Gunungsitoli, jumlah penduduk adalah jiwa, dengan jumlah penduduk laki-laki sebanyak jiwa dan jumlah penduduk perempuan jiwa. 254 SOCIETAS DEI, Vol. 1, No. 1, Oktober 2014 MASYARAKAT GUNUNGSITOLI DALAM PERSPEKTIF TEORI IDENTITAS SOSIAL Secara sosiologis masyarakat Gunungsitoli bukan suatu masyarakat yang homogen. Pluraritas etnis yang ada di dalamnya membuat kota ini memiliki sistem kebudayaan yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Hal ini disebabkan oleh karena sistem nilai dan tradisi yang berbeda-beda dalam tiap etnis. Berdasarkan teori identitas sosial, salah satu hal yang mengancam potensi harmoni sosial adalah potensi konflik antaretnis. Penyebabnya adalah adanya klaim bahwa satu etnis merasa lebih baik dari pada etnis yang lain. Primordialisme agama, suku dan budaya ini yang memiliki potensi tumbuh dalam masyarakat yang plural. Hal ini seringkali diperburuk dengan terjadinya kesenjangan dalam mendapatkan sumber-sumber langka, seperti jabatan dalam pemerintahan. Berdasarkan realitas sosial ini, dalam menyikapi perbedaan identitas etnis atau cultural identity. Sikap masyarakat Nias yang terbuka terhadap perbedaan ini menyebakan kelompok lain, out group menjadi lebih nyaman. Sikap ini perlu dikembangkan, melalui cara meminimalisir perbedaan in group dan out group, atau penduduk asli dan penduduk pendatang. Dalam bingkai ke-Indonesia-an, Fuller mengatakan ‚Bhineka Tunggal Ika secara harafiah adalah berbeda-beda tetapi KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT NIAS 255 tetap satu jua berarti persatuan dalam keberanekagaman.‛19 Secara etis, dapat dipahami bahwa seharusnya setiap kolompok etnis harus berusaha untuk saling menerima dan menyesuaikan diri satu sama lain, dengan kata lain dapat dikatakan bahwa setiap etnis tidak boleh menonjolkan dirinya sediri sehingga merasa superior. KEADAAN SOSIO-RELIGIUS Masyarakat Kota Gunungsitoli adalah masyarakat plural baik dari segi kehidupan sosio-budaya dan sosio-religius. Bukti pluralitas masyarakat Gunungsitoli dari keragaman etnis dan agama yang ada di dalam konteks kehidupan sosial masyarakat Kota Gunungsitoli. Berdasarkan pluralitas etnik, masyarakat Kota Gunungsitoli terdiri dari beberapa suku bangsa, yaitu Nias, Cina Tionghoa, Padang, Batak, dan Jawa. Suku bangsa mayoritas yang ada di dalamnya adalah suku bangsa Nias. Secara umum di seluruh daerah di Kepulauan Nias, dan secara khusus di Kota Gunungsitoli, bahasa yang umum dipergunakan sehari-hari sebagai alat untuk berkomunikasi adalah bahasa Nias. Dalam perjalanan sejarah, telah terjadi asimilasi melalui migrasi penduduk dan dalam bentuk perkawinan campuran antaretnis. Konsekuensi asimilasi ini menjadi ikatan sosial yang sangat kuat, tidak hanya secara sosiologis tetapi juga secara 19 Andy Fuller, ‚Kebebasan Beragama di Indonesia Beberapa Catatan Berdasarkan Observasi Titik Temu‛, Jurnal Dialog Peradaban, Vol. 4, Nomor 1 Juli –Desember 2011. 256 SOCIETAS DEI, Vol. 1, No. 1, Oktober 2014 emosional, oleh karena sistem kemasyarakatan dalam masyarakat Nias yang juga dilandaskan atas hubungan kekeluargaan dan kekerabatan. Secara khusus dalam pluralitas keagamaan segi kehidupan sosio-religius, Kota Gunungsitoli dikenal sebagai komunitas masyarakat agamis yang terdiri dari berbagai pemeluk agama-agama yang diakui di yang memeluk agama Kristen Protestan, Islam, Katolik, Buddha dan itu dapat terlihat jelas dari tabel sebagai berikut. Tabel 1 Banyaknya Pemeluk Agama Menurut Kecamatan Oktober 201020 Sumber Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Gunungsitoli Jumlah rumah ibadah pada tahun 2009 adalah sebanyak 443 unit, yaitu masjid/surau 59 unit, gereja protestan 359 unit, gereja Katolik 20 ‚Gunungsitoli Dalam Angka 2010‛, No. Publikasi Badan Pusat Statistik Kabupaten Nias & Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Gunungsitoli. KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT NIAS 257 36 unit, dan vihara 1 unit, tersebar di seluruh kecamatan. Demikian juga pada tahun 2010, tidak ada perubahan dalam hal jumlah rumah ibadah di Kota Gunungsitoli. Hal tersebut dapat terlihat pada tabel di bawah Tabel 2 Banyaknya Rumah Ibadah Menurut Kecamatan Oktober 201021 Sumber Kantor Kementerian Agama Kabupaten Nias Meskipun masyarakat Kota Gunungsitoli merupakan masyarakat yang agamis pluralistik, namun fakta sosial menunjukkan bahwa tidak pernah ada konflik antarumat beragama, maupun konflik antaretnis yang mewarnai kehidupan sosialnya. Justru realitas sosial yang tampak secara nyata ialah telah terciptanya harmoni 21 Ibid. 258 SOCIETAS DEI, Vol. 1, No. 1, Oktober 2014 sosial antarumat beragama dan antaretnis. Berdirinya rumah-rumah ibadah tanpa hambatan atau penolakan merupakan salah satu indikator kuat yang menunjukkan bahwa kebebasan beribadah dan kerukunan antarumat beragama telah terjalin dengan sangat harmonis dan kondusif di Kota Gunungsitoli. Di Kota Gunungsitoli, kesadaran umat beragama sangat tinggi, hal ini disebabkan antara lain a. Kuatnya filosofi persaudaraan fatalifusöta yang dibangun dalam masyarakat Nias, baik berdasarkan pertalian darah satu keturunan maupun karena hubungan dalam satu komunitas sosial fabanuasa. b. Adanya sikap non-diskriminatif kesetaraan dan saling menghargai dalam perayaan hari-hari besar keagamaan. Hal ini dibuktikan melalui kesediaan untuk menghadiri acara-acara ibadah perayaan hari-hari besar keagamaan dari pemeluk agama yang satu terhadap pemeluk agama lainnya. c. Penyampaian pesan-pesan keagamaan secara sehat dan benar, yaitu ajakan untuk berbuat kebaikan dan kasih; tidak bersifat provokatif dan fundamentalis. Dalam kegiatan-kegiatan sosial dan budaya, seperti upacara pesta perkawinan dan acara duka peristiwa kematian, tetap saling mengundang dan saling menghadiri, tanpa melihat perbedaan latar belakang agama, etnis, marga, dan sebagainya. Bahkan tidak jarang terjadi perkawinan antaretnis dan antarumat beragama yang berbeda keyakinan. Namun, hal ini tidak pernah KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT NIAS 259 menjadi faktor penyebab konflik atau kekacauan sosial dalam masyarakat Nias umumnya dan masyarakat Kota Gunungsitoli khususnya, selama hal itu telah disepakati bersama oleh keluarga besar dari kedua belah pihak mempelai. KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT KOTA GUNUNGSITOLI DALAM MEMPERTAHANKAN HARMONI SOSIAL Untuk tetap menjaga keharmonisan sosial di Kota Gunungsitoli, ada beberapa kearifan lokal yang menjiwai dan melandasi hubungan-hubungan sosial dalam konteks masyarakat Kota lokal tersebut adalah nilai-nilai kehidupan bermasyarakat yang disepakati bersama, yang merupakan perwujudan secara nyata dari nilai-nilai budaya dan nilai-nilai keagamaan yang ada dalam sistem masyarakat Nias secara umum, dan di dalam sistem masyarakat Kota Gunungsitoli khususnya. Kearifan lokal tersebut adalah sebagai berikut a. Banua dan fatalifusöta. Banua dapat diartikan sebagai sebuah wilayah teritorial yang di dalamnya terdapat sejumlah individu-individu yang berinteraksi satu sama lain. Jadi, banua merupakan tempat tinggal sekelompok manusia atau sebuah komunitas sosial. Di dalam banua ini, disepakati sejumlah hukum atau norma yang mengatur kelangsungan hidup bersama demi tetap terpeliharanya harmoni sosial. Sedangkan fatalifusöta, memiliki makna persaudaraan’, yang tidak hanya didasarkan atas hubungan darah klan, tapi juga hubungan persaudaraan karena 260 SOCIETAS DEI, Vol. 1, No. 1, Oktober 2014 berada dalam satu banua’, meskipun berbeda marga, suku, maupun agama. Ketika banua didirikan, ada ikrar janji/sumpah dari setiap orang yang mau bergabung sebagai anggota masyarakat yang sah di dalam banua. Makanya ada ungkapan yang mengatakan ‚ufaböbödo banua” yang berarti ‚saya mengikatkan diri saya sebagai bagian dari masyarakat ini‛. Hal ini merupakan komitmen dan kepatuhan terhadap segala hukum atau norma yang berlaku dalam masyarakat tersebut. Oleh karena itu, banua sebagai komunitas sosial dalam kehidupan sosiologis masyarakat Nias merupakan sebuah tempat kehidupan bersama, yang di dalamnya terdapat banyak orang dari berbagai etnis suku bangsa yang bukan hanya terdiri dari suku bangsa Nias saja, dari timur dan barat, dari berbagai agama, dan dari berbagai marga yang berbeda-beda. Akhirnya, semua ikatan, komunikasi dan interaksi sosial yang terjadi di dalamnya disebut sebagai ‚fabanuasa‛. Kearifan lokal ini telah lama dipelihara, bahkan telah mengakar kuat dalam prinsip-prinsip hidup bersama dalam komunitas masyarakat Nias termasuk Kota Gunungsitoli. Dalam kearifan lokal ini terlihat secara jelas nilai-nilai harmoni sosial yang bernuansa pluralitas etnis secara khusus pluralitas agama. Jadi, apapun agamanya tidak menjadi persoalan, yang paling penting adalah ‚dia itu talifusögu, banuagu‚. Itulah sebabnya dalam berbagai kegiatan di Kota Gunungsitoli kita bisa melihat orang-orang dari berbagai agama dan atau denominasi bisa duduk bersama dengan rukun. KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT NIAS 261 b. Seperti yang diungkapkan oleh Ketua Umat Buddha tentang kerukunan umat beragama di Gunungsitoli sebagai berikut Kebenaran bersifat otoritas. Orang tidak bisa menyatakan kebenaran secara universal, karena akan memaksakan orang lain untuk membenarkan apa yang dianggap dirinya benar. Kebenaran adalah milik individu, sehingga orang akan menghormati kebenaran. c. Bukti ajaran yang membuat umat Buddha harmoni dengan sesamanya adalah ajaran-ajaran yang diberikan yang mendorong untuk saling menghargai. Seperti tertulis dalam Kitab Suci Dhammapada Vagga XVI, Gatha, 183 ‚Sabbapassa akaranam kusalasau pasampada sacittapariyodapanart atam buddhana sasanrin” Jangan berbuat jahat, berusahalah melakukan kebijakan sucikan pikiran. Inilah ajaran para Buddha22. Berangkat dari pemahaman inilah maka umat Buddha menjaga kestabilan hubungan dengan sesamanya, meskipun berbeda agama atau bangsa. Banyak hal yang dapat dilakukan oleh masyarakat dalam rangka membangun kerukunan antarumat beragama. Dalam hal ini sebaiknya tidak membicarakan doktrin masing-masing, karena perbedaan doktrin dapat memicu munculnya sentimen agama. Sikap saling menghormati dan saling bekerjasama antara pemeluk agama yang berbeda-beda merupakan sikap umat Buddha. Sebagaimana tertuang dalam Kitab Buddha Vagga, 7; Dhammapada XIV 185 22 Dhammapada, Kitab Suci Agama Buddha, Suta Pitaka, Khuddakha Nikaya, Dhammapada Gatha, Tanpa penerbit, tanpa tahun. 262 SOCIETAS DEI, Vol. 1, No. 1, Oktober 2014 ‚Barang siapa mencari kebahagiaan dari diri sendiri dengan jalan menganiaya makhluk lain yang juga mendambakan kebahagiaan, agama Buddha mengajarkan kepada umatnya untuk menempatkan persatuan dan kesatuan bagi kepentingan bersama.‛23 d. Emali dome si so ba lala, ono luo na so yomo Ungkapan ini merupakan salah satu filsafat hidup masyarakat Nias. Secara bebas dapat diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebagai berikut ‚seseorang yang masih berada di jalan dianggap sebagai tamu tak dikenal atau orang asing, namun seseorang itu dapat menjadi saudara tamu agung yang sangat dihormati kalau ia sudah berada di dalam rumah kita‛. Ungkapan ini sesungguhnya merupakan penghormatan yang sangat tinggi dari masyarakat Nias terhadap tamu atau orang asing pendatang yang datang berkunjung, bertamu, atau singgah di rumah masyarakat Nias dalam lingkup yang paling kecil, atau di daerah Nias dalam lingkup yang lebih luas. Filsafat hidup ini juga sangat mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat Nias secara umum dan di dalam kehidupan masyarakat Kota Gunungsitoli secara khusus. Filsafat ini menghadirkan kenyamanan, keamanan, 23 Ibid. KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT NIAS 263 persahabatan dan rasa persaudaraan terhadap siapa pun yang datang berkunjung atau pun tinggal menetap di Kota Gunungsitoli dan di Nias secara keseluruhan. Melalui filsafat hidup ini, masyarakat Nias mau mengungkapkan bahwa tamu atau orang asing pendatang yang memperkenalkan dirinya dan memberitahu maksud kedatangannya adalah tamu agung yang layak diperlakukan sebagai orang terhormat. Hal ini berlaku kepada siapa saja tanpa melihat latar belakang agama, etnis, marga, dan sebagainya. Selain pemaknaan di atas, secara sosial dan budaya, ungkapan ini juga bisa dipahami dalam dua pengertian Pertama, mau mengungkapkan keinginan ‚tuan rumah‛ untuk mengundang ‚tamunya‛ datang ke dalam rumah. Ini adalah bagian dari keramahtamahan dan keterbukaan orang Nias. Kedua, bentuk ajakan ‚tuan rumah‛ kepada orang lain untuk membicarakan musyawarah sesuatu hal biasanya dipakai ketika ada ‚tamu‛ yang hendak ‚manofu niha‛/melamar anak perempuan. e. Sebua ta’ide’ide’ö, side’ide’ide mutayaigö Ungkapan ini seringkali digunakan sebagai salah satu cara untuk menyelesaikan berbagai konflik atau masalah yang terjadi di kalangan masyarakat Nias. Ungkapan ini memiliki makna agar masalah yang besar jangan dibesar-besarkan, sebaliknya diusahakan menjadi lebih sederhana kecil sehingga dapat diselesaikan secara tuntas tanpa meninggalkan bekas atau dendam apapun di hati kedua belah pihak yang sudah bertikai atau berkonflik. Kearifan lokal ini sering diperdengarkan oleh 264 SOCIETAS DEI, Vol. 1, No. 1, Oktober 2014 para orang tua dan tokoh-tokoh masyarakat dalam pertemuan-pertemuan yang membahas tentang penyelesaian masalah-masalah sosial, secara khusus masalah-masalah antarwarga dan masalah-masalah kekeluargaan. Semua ini dilakukan demi menjaga dan mempertahankan harmoni sosial yang sudah lama terjalin dan terpelihara dalam komunitas masyarakat. Dalam penyelesaian masalah-masalah sosial tersebut, tidak ada pembedaan marga, suku, agama maupun status sosial lainnya; semuanya didasarkan atas nilai-nilai kekeluargaan, keadilan dan kesetaraan. f. Pemahaman dan penekanan nilai-nilai keagamaan yang sangat kuat bagi pemeluk-pemeluknya Tidak ada keengganan untuk bergaul, bersahabat, dan bekerja sama dengan orang lain yang berbeda agama, etnis, atau marga, sebab setiap orang memegang teguh keyakinan agamanya masing-masing tanpa bisa dipengaruhi oleh orang lain yang berbeda keyakinan dengannya. Hal ini sangat didukung oleh sikap toleransi yang tinggi di antara umat beragama di Kota Gunungsitoli, secara khusus dalam pelaksanaan-pelaksanaan ibadah dan kegiatan perayaan hari-hari besar keagamaan. Demikian juga tidak pernah ada masalah dalam hal pembangunan rumah-rumah ibadah. Semua hal ini tidak dapat dipisahkan dari pengaruh nilai-nilai beberapa kearifan lokal seperti telah disebutkan di atas, yang telah menjiwai dan mendasari kelangsungan kehidupan masyarakat Nias umumnya, dan masyarakat Kota Gunungsitoli khususnya. KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT NIAS 265 Kota Gunungsitoli dengan segala kearifan lokalnya mengingatkan negara kita yang plural ini bahwa untuk menciptakan kerukunan antarumat beragama dalam komunitas masyarakat Indonesia ini, sangat dibutuhkan sikap untuk bersedia saling menerima satu sama lain dengan penuh kasih dan ketulusan, tanpa ada rasa curiga atau prasangka buruk apa pun terhadap satu dengan lainnya. Harmoni sosial antarumat beragama seperti ini menunjukkan kedewasaan dan kematangan masyarakat Kota Gunungsitoli dalam memahami kehidupan keagamaan sebagai alat perekat sosial yang sangat ampuh untuk mempersatukan dan memperdamaikan. Olaf H. Schuman mengatakan bahwa Toleransi beragama membutuhkan manusia yang memiliki mentalitas matang serta dewasa dan mampu mengendalikan emosinya. Di bidang keagamaan, kita selalu menemukan bahwa orang-orang yang bersikap paling toleran terdiri dari mereka yang sadar serta kokoh dalam memegang Hanya dengan cara ini dapat tercipta suatu harmoni sosial antarumat beragama di Indonesia. Bambang Ruseno pernah mengatakan bahwa Kerjasama yang sesungguhnya berawal manakala baik golongan Muslim maupun Kristen sama-sama mengakui bahwa belajar untuk hidup bersama sebagai kesetiaannya kepada Tuhan, untuk mewujudkan keadilan dan perdamaian dunia serta pembangunan 24 Olaf H. Schumann, Menghadapi Tantangan, Memperjuangkan Kerukunan Jakarta BPK Gunung Mulia, 2009, h. 59. 266 SOCIETAS DEI, Vol. 1, No. 1, Oktober 2014 bangsa adalah lebih penting daripada perpecahan dan permusuhan yang Eka Darmaputera juga pernah mengatakan bahwa Pluralisme agama menolong kita untuk rendah hati menyadari bahwa sikap superioritas tidak bermanfaat untuk mengerti orang lain lebih baik sebab Allah mengasihi semua manusia tanpa terkecuali, dan karenanya kita harus menjadi sesama atau menjadi sahabat bagi saudara-saudara kita yang berkepercayaan lain,26 Kutipan di atas semakin memperjelas kepada kita bahwa setiap orang di muka bumi ini bertanggung jawab untuk perdamaian di tengah-tengah komunitas di mana kita hidup dan berkarya. Sehubungan dengan tanggung jawab ini, mungkin kata-kata Henry Nouwen berikut bisa memberi inspirasi bagi kehidupan bersama di Indonesia Panggilan kita adalah sebuah kehidupan penciptaan damai di mana semua yang kita lakukan, katakan, pikirkan, atau mimpikan merupakan bagian dari kepedulian kita untuk menciptakan perdamaian Dalam konteks perdamaian global, Paul F. Knitter juga mengatakan bahwa tidak ada damai di antara bangsa-bangsa 25 Bambang Ruseno Utomo, Hidup Bersama Di Bumi Pancasila Sebuah Tinjauan Hubungan Islam dan Kristen di Indonesia. Malang Pusat Studi Agama dan Kebudayaan, 1993, h. 273. 26 Eka Darmaputera, ‚Teologi Persahabatan Antar Umat Beragama‛, dalam Keadilan Bagi Yang Lemah, Buku Peringatan Hari Jadi ke-67 Prof. Dr. Ihromi, MA., Karel Erari, Jakarta, tanpa penerbit 1995, h. 194. 27 Henry Nouwen, The Road To Peace Karya Untuk Pendamaian Dan Keadilan. Yogyakarta Penerbit Kanisius, 2004, h. 56-57. KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT NIAS 267 kecuali ada damai dan kerja sama di antara Adalah sebuah kenyataan sosial bahwa setiap orang dari golongan suku, agama, dan ras manapun pasti saling membutuhkan. Karena itu, setiap orang harus menjalin hubungan dengan sesamanya dalam kehidupan bersama sebagai sebuah komunitas sosial. Arie Jan Plaisier mengungkapkan hal ini dalam salah satu bukunya, sebagai berikut Keberadaan manusia bersama dengan sesamanya merupakan kenyataan yang tidak dapat disangkal. Tidak mungkin hidup tanpa orang lain. Manusia tidak mandiri dalam arti mampu hidup tanpa orang Demikian juga Broto Semedi, menyatakan hal ini dalam salah satu tulisannya Kita menjalani dan menjalankan kehidupan di dalam kehidupan bersama masyarakat bersama-sama dengan orang-orang yang meyakini/menganut filsafat hidup atau agama yang berbeda-beda. Di dalam kehidupan bersama yang demikian itu, sikap dasar kita ialah memandang-menerima-memperlakukan setiap orang di dalam kehidupan bersama siapa pun, suku bangsa apa pun, dengan warna kulit bagaimana pun, apa pun jenis kelaminnya, penganut filsafat hidup atau agama mana pun, apa pun posisi sosialnya, sebagai sesama manusia, dengan martabat manusia 28 Paul F. Knitter, Pengantar Teologi Agama-Agama. Penerbit Kanisius, 2008 h. 290. 29 Arie Jan Plaisier, Manusia, Gambar Allah Terobosan-Terobosan dalam Bidang Antropologi Kristen. Jakarta BPK Gunung Mulia, 2002 h. 103. 268 SOCIETAS DEI, Vol. 1, No. 1, Oktober 2014 yang sama yaitu partner eksistensial Allah, oleh karena itu memiliki hak asasi yang KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan realitas sosial di atas, secara umum kita dapat menarik kesimpulan bahwa Kota Gunungsitoli merupakan salah satu komunitas masyarakat damai di Indonesia. Meskipun ia merupakan sebuah masyarakat agamis yang pluralistik, semua individu dan kelompok masyarakat yang ada di dalamnya hidup berdampingan secara damai dan penuh kekeluargaan. Semua hal ini tidak dapat dipisahkan dari pengaruh nilai-nilai beberapa kearifan lokal seperti telah disebutkan di atas, yang telah menjiwai dan mendasari kelangsungan kehidupan masyarakat Nias umumnya, dan masyarakat Kota Gunungsitoli khususnya. Kearifan-kearifan lokal yang terdapat dalam masyarakat Nias yang juga berlaku di Kota Gunungsitoloyang meliputi Banua dan fatalifusöta, Emali dome si so ba lala, ono luo na so yomo, Sebua ta’ide’ide’ö, side’ide’ide mutayaigö dan pemahaman dan penekanan nilai-nilai keagamaan yang sangat kuat bagi pemeluk-pemeluknya yang agamis-pluralistik memiliki hubungan yang sangat erat terhadap terciptanya dan terpeliharanya harmoni sosial yang ada di dalamnya. Secara khusus harmoni sosial ini tercipta dalam hubungan antarumat 30 Broto Semedi W., ‚Kita Di Dalam Pluralitas Agama‛, dalam Iman dan Kepedulian Sosial, Daniel Nuhamara, et al., Salatiga Satya Wacana University Press, 2005 h. 49. KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT NIAS 269 beragama di Kota Gunungsitoli. Masyarakat Kota Gunungsitoli telah menunjukkan, bahwa fakta pluralitas, baik perbedaan etnis maupun agama bukanlah penghalang untuk bisa hidup bersama secara damai dan penuh kekeluargaan. Istilah banua dalam perspektif etnisitas sebenarnya memiliki makna yang lebih luas secara sosiologis, yaitu keseluruhan masyarakat Nias, tanpa harus mengelompokkan berdasarkan agama atau etnis yang berbeda-beda. Sehingga, etnis Nias sebagai kelompok mayoritas tidak memposisikan diri sebagai in group yang mendiskriminasi kelompok lain yang minoritas. Perasaan etnisitas masyarakat Gunungsitoli tidak hanya terbentuk dan terjalin dalam relasi internal salah satu etnis saja, melainkan terbentuk dari beberapa etnis yang terlihat dalam hubungan sosial di antara kelompok-kelompok etnis yang ada di Gunungsitoli. Hal ini mengingatkan kita kembali bahwa nilai-nilai kearifan lokal yang terdapat di tiap-tiap daerah di Indonesia perlu digali maknanya kembali untuk dapat direlevansikan semaksimal mungkin bagi penciptaan harmoni sosial di tengah-tengah kemajemukan kita. Hal ini patut dipikirkan dan disikapi bersama demi menuju Indonesia yang damai dan harmonis di masa kini dan masa mendatang. Salam damai Indonesia..! ... Fa`atalifusöta merupakan kata yang memiliki makna pertalian persaudaraan. Menurut Suwartiningsih & Samiyono, 2014, fa`atalifusöta tidak hanya berdasarkan hubungan darah, melainkan sambua banua meskipun berbeda marga, suku dan agama. Orang Nias sangat menjunjung tinggi persaudaraan. ... Marinu WaruwuTujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji pendidikan karakter berbasis kearifan lokal Nias. Kajian pendidikan karakter berbasis kearifan lokal Nias belum banyak dilakukan para peneliti terdahulu. Peneliti menawarkan local wisdom Nias sebagai salah satu alternatif pengembangan pendidikan karakter pada masa kini dan mendatang. Metode penelitian yang dilakukan adalah systematic literature review SLR melalui sumber-sumber yang relevan seperti buku, jurnal nasional maupun internasional, kebijakan pemerintahan dan dokumen yang relevan lainnya. Analisa data menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan pendidikan karakter berbasis kearifan lokal memiliki pengaruh positif pada peningkatan karakter peserta didik. Kearifan lokal Nias seperti fangowai niha Yaahowu; fame`e fegero; fa`atalifusöta; falulusa halöwö; samaeri perlu menjadi prioritas utama pada peningkatan karakter peserta didik melalui model keteladanan, pembiasaan dan penerapan pada kegiatan akademik dan non akademik. Kata kunci Pendidikan; Karakter; Kearifan; Lokal; Literatur, AkademikYunida Bawamenewi Yonatan Alex ArifiantoEach tribe and belief adopted from various regions has its own way of expressing its culture and beliefs, which can be seen from the way the community performs ritual events as a tradition in each tribe regarding the culture and beliefs they hold. The writing in this paper uses literature research where the research method is carried out with a descriptive qualitative approach and hopes that the people on Nias Island view every tradition that exists on Nias Island from a Christian point of view and can provide an understanding that every tradition on Nias Island, has a very beautiful and unique meaning, and invites the people of Nias to always maintain, develop and preserve the existing culture based on Bible truth. AbstrakSetiap suku dan kepercayaan yang dianut dari berbagai daerah memiliki tata cara tersendiri dalam mengungkapkan kebudayaan dan kepercayaannya yang dapat dilihat dari cara masyarakat melakukan acara ritual sebagai tradisi di setiap suku yang menyangkut kebudayaan dan kepercayaan yang dianut. Penulisan dalam paper ini, dengan menggunakan penelitian pustaka dimana metode penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif deskriptif dan berharap masyarakat di Pulau Nias memandang setiap tradisi yang ada di Pulau Nias dari sudut pandang ke Kristenan serta dapat memberikan pemahaman bahwa setiap tradisi yang ada di Pulau Nias, memiliki makna yang sangat indah dan unik, serta mengajak masyarakat Nias untuk selau menjaga, mengembangkan dan melestarikan budaya yang ada berdasarkan pada kebenaran Marnila ZebuaTuti Rahayu- This study aims to describe the function of Folaya at the Foko'o Simate event in the traditional ceremony of the death of the Nias community, especially in Hiliweto village, Gido District, Nias Regency. The theory used in this study is the theory of M. Jazuli about the function of dance as a means of traditional ceremonies related to events in human life in the form of death. The population in this study is the Nias community in Hiliweto Village, Gido District, Nias Regency, such as traditional leaders, community leaders, artists and cultural experts. The sample refers to 6 people, namely 2 artists, 2 cultural observers, 1 traditional leader and 1 community leader who clearly know about Folaya at the Nias community death ceremony. The research method used in this research is descriptive qualitative method with data collection techniques in the form of observation, interviews and documentation in the field. In qualitative research methods, research results are described and described in accordance with the facts on the ground. The results of the study indicate that Folaya functions as a means of traditional ceremonies in the Nias community's death ceremony which is a medium for conveying respect to someone who has died. Keywords Folaya, Function, Death Ceremony Abstrak – Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan fungsi Folaya pada acara Foko’o Simate dalam upacara adat kematian masyarakat Nias khususnya di desa Hiliweto, Kecamatan Gido, Kabuparen Nias. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori dari M. Jazuli tentang fungsi tari sebagai sarana upacara adat yang berkaitan dengan peristiwa kehidupan manusia berupa kematian. Populasi dalam penelitian ini yaitu masyarakat Nias yang ada di Desa Hiliweto, Kecamatan Gido, Kabupaten Nias seperti tokoh adat, tokoh masyarakat, seniman dan budayawan. Sampel merujuk pada 6 orang yaitu 2 seniman, 2 budayawan, 1 tokoh adat dan 1 tokoh masyarakat yang mengetahui secara jelas tentang Folaya pada upacara kematian masyarakat Nias. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara dan dokumentasi di lapangan. Dalam metode penelitian kualitatif, hasil penelitian digambarkan dan diuraikan sesuai dengan fakta yang ada di lapangan. Hasil penelitian mengatakan bahwa Folaya berfungsi sebagai sarana upacara adat dalam upacara kematian masyarakat Nias yang menjadi media penyampaian rasa hormat kepada seseorang yang sudah meninggal. Kata Kunci Folaya, Fungsi, Upacara Berkat GeaThis study aims to describe the orientation of Nias cultural values in the lyrics of the maena at the falöwa traditional ceremony in Gunungsitoli. The research was conducted using a qualitative method with an anthropolinguistic approach. The data in this study is a snippet of the lyrics of the maena at the traditional falöwa wedding ceremony, either spoken orally or a collection of written lyrics. Primary data sources are the results of interviews with informants and recordings of playing. The secondary data source is the maena lyric text in the book "Maena Nias – Means of Delivering Messages and Life Stories of the Nias Society," published by the Nias Heritage Museum, 2018. Data were collected using observation and interview methods. The observation method is carried out using the tapping and nonparticipation and the recording techniques as further techniques. The interview method uses direct interview techniques. Then, the data were analyzed in stages 1 data reduction, 2 data presentation, and 3 making conclusions/verification. In the analysis process, the researcher also validated the data by applying data triangulation. The triangulation used in this study is source triangulation. The study results concluded that, first, the society of Nias interprets the nature of life as something that needs to be fought for. Second, the society of Nias views that the nature of the work can increase the position and honor of humans in their environment. Third, Nias society view that humans are influenced by space and time. Fourth, Nias society views the importance of harmonious relations between humans and their natural surroundings. Fifth, Nias society upholds human relations with each has not been able to resolve any references for this publication.
Makadari itu, kamu harus bisa menghilangkan sifat yang tidak terpuji ini. 2. Tidak Dipercaya. Walaupun hanya satu kali kamu ketahuan sedang adu domba, maka orang lain akan menjadi tidak percaya
Apa itu naif? Ciri-ciri orang naif Cara mengatasi sifat naif yang negatif Terlalu mudah mempercayai orang lain tanpa mengetahui informasi sebenarnya di baliknya. Mungkin, hal itu yang bisa mendeskripsikan naif secara dasarnya, naif adalah salah satu karakter manusia yang terbilang lugu. Namun, tidak jarang juga banyak pendapat negatif mengenai sifat naif. Memangnya, apa saja ciri-ciri orang naif, ya?Apakah hanya orang yang bersifat polos saja? Nyatanya, ciri-ciri orang naif ini sangat beragam, lho. Mungkin, kamu pernah menemukan orang berciri-ciri ini di kamu semakin paham, cari tahu mulai dari pengertian serta ciri-ciri orang naif, yuk!Apa itu naif?Jadi sebenarnya, apa itu naif? Menurut Cambridge Dictionary, naif adalah sifat terlalu percaya bahwa seseorang mengatakan sesuatu secara jujur. Terlalu percaya jika niat orang tersebut cukup baik, dan menganggap jika kehidupan ini sangatlah sifat naif ini cukup berbeda dengan polos, ya. Pada dasarnya, sifat polos biasanya dimiliki oleh anak kecil yang belum terlalu mengerti akan kejahatan yang ada di umum, sifat polos ini dimiliki karena anak tersebut belum memiliki banyak pengalaman untuk bertemu banyak orang dari latar belakang naif sendiri lebih kepada karakteristik seseorang yang sudah cukup dewasa, namun terlalu percaya kepada orang lain dan tidak berpikir jika orang lain bisa saja orang yang naif tidak menyadari atau memperhatikan reaksi orang lain terhadap tindakannya. Ia akan langsung percaya akan omongan lawan bicaranya begitu naifCukup mirip dengan sifat polos, ada beberapa perbedaan dalam ciri-ciri orang naif yang bisa kamu ketahui, Terlalu mudah percaya dengan orang lainCiri-ciri orang naif pertama adalah terlalu mudah percaya dengan orang lain. Jika kamu selalu memercayai orang lain yang berkata apapun, lalu menyetujuinya, atau membantunya dengan mudah, sifat tersebut bisa dikatakan naif, pada dasarnya, tidak semua orang memiliki niat yang baik. Maka dari itu, saat berkomunikasi dengan orang lain, usahakanlah untuk mencari tahu fakta atau kebenaran dari perkataannya dahulu sebelum bertindak lebih lanjut untuk Terlalu mudah ditipuNah, ciri-ciri orang naif juga terlalu mudah ditipu, nih. Berawal dari mempercayai perkataan orang lain, lalu kamu akan ikut terjun membantu masalah yang dihadapi orang membantu masalah orang lain bukanlah sifat yang buruk. Namun, kamu bisa saja ditipu oleh masalah-masalah tersebut yang dibuat orang yang naif bisa mempercayai informasi dengan mudah dan langsung berpikir jika informasi tersebut adalah Mudah dimanfaatkan orang lainKarena mudah percaya dan ditipu, itulah mengapa orang naif juga menjadi mudah dimanfaatkan orang lain yang mengetahui sifat naif-mu, akan lebih sering memanfaatkan kebaikanmu untuk keuntungan mereka Ketergantungan kepada orang lainMerasa ketergantungan kepada orang lain juga merupakan ciri-ciri orang naif, lho. Orang yang naif biasanya lebih memilih untuk membiarkan dirinya dimanfaatkan orang lain karena takut kehilangan dukungan dari orang-orang Tidak ingin keluar dari zona nyamanMerasa bahagia di situasi saat ini dan tidak ingin keluar dari zona nyaman? Nyatanya, sifat tersebut bisa dibilang sebagai ciri-ciri orang yang berada di zona nyaman bisa menjadi penghambat pertumbuhan seseorang. Dari situ, seseorang tidak bisa mendapatkan pengalaman baru dalam hal mengatasi sifat naif yang negatifcara mengatasi sifat naif yang negatifBerdasarkan ciri-ciri orang naif di atas, bisa dikatakan jika sifat tersebut tidaklah merugikan orang lain. Namun, ciri-ciri orang naif tersebut malah merugikan diri dari itu, jika kamu merasakan beberapa sifat di atas terlihat mirip denganmu, lebih baik diatasi, ya. Tujuannya, tentu agar kamu tidak merugikan diri cara mengatasi sifat naif yang negatif bisa dicoba melalui beberapa cara di bawah iniCoba bertemu dengan banyak orang dengan latar belakang yang berbeda-bedaOrang naif sering disebut tidak memiliki banyak pengalaman. Maka dari itu, kamu bisa mengatasinya dengan cara mulai bertemu orang-orang di luar untuk membangun hubungan baik dengan orang dari latar belakang yang berbeda-beda. Dengan begitu, pandanganmu akan dunia bisa menjadi lebih Keluar dari zona nyamanDi atas, telah disebutkan bahwa salah satu ciri-ciri orang naif adalah terlalu nyaman dan tidak ingin keluar dari zona solusi yang bisa dicoba untuk mengatasinya tentu saja dengan keluar dari zona nyaman. Jika kamu melakukan hal-hal baru, kamu akan menemukan berbagai peluang menarik di luar itu, pandanganmu terhadap suatu hal pun akan menjadi lebih beragam, tidak selalu Jangan mudah tertipuCiri-ciri orang naif memang dikenal mudah tertipu. Maka dari itu, usahakanlah untuk tidak mudah percaya atau tertipu akan omongan orang kamu mendapatkan sebuah informasi dari orang lain, pastikan untuk mencari tahu kebenaran dari informasi tersebut Berpikir panjang sebelum melakukan sesuatuNah, kamu juga harus mulai melatih diri untuk berpikir panjang sebelum melakukan sesuatu, kamu bertindak untuk membantu, pastikan jika informasi tersebut memiliki banyak bukti intinya, orang yang naif ini justru merugikan dirinya sendiri karena ia terlalu membuka diri kepada orang ini berujung kepada orang lain yang akan memanfaatkan kebaikannya secara cuma-cuma. Oleh sebab itu, tidak ada salahnya untuk belajar mengenali diri sendiri dan orang di sekitarmu, takut untuk memulai sesuatu yang baru juga. Sebab, hidup akan selalu diwarnai dengan banyak hal-hal baru yang bisa dipelajari.
Iajuga rajin melayani di gerejanya, Gereja Kristen Baithani Awa'ai, Nias sebagai singer dan keyboardis. Tapi sebelum Juwita punya sifat seperti ini, sikapnya justru sangat bertolak belakang. Dulu sebelum ia menyadari kesalahannya, Juwita punya segudang kebiasaan buruk. Mulai dari malas kalau diminta tolong oleh orang tua, melawan orang tua
Karya Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani sebagaimana disyarahkan oleh Syekh Muhammad Nawawi Banten mengutip keterangan ulama yang menyebutkan 10 sifat paling dibenci Allah SWT pada karyanya Nashaihul Ibad. Karya Imam Al-Asqalani menyebut 10 sifat buruk yang patut dijauhi. Syekh M Nawawi Banten dalam karyanya Nashaihul Ibad pada halaman 63 mengatakan bahwa sifat-sifat buruk yang dibenci Allah sebenarnya lebih dari sepuluh. Hanya saja 10 sifat ini merupakan sifat yang paling dibenci Allah. ŰŁÙƒŰšŰ± ŰšŰș۶ۧ من ŰșÙŠŰ±Ù‡Ù… Artinya, “Tetapi 10 hal ini paling dibenci dibandingkan hal lainnya,” Syekh M Nawawi Banten, Nashaihul Ibad, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah tanpa tahun], halaman 63. Imam Al-Asqalani menyebut secara rinci 10 sifat-sifat buruk yang perlu dijauhi 1. Kebakhilan orang kaya. Sifat bakhil melenyapkan sifat kemanusiaan dan menetapkan sifat kebinatangan. 2. Kesombongan orang fakir miskin. 3. Ketamakan ulama. 4. Kehilangan rasa malu kalangan perempuan. Syekh Nawawi mengutip hadits riwayat Ad-Dailami yang artinya, “Orang yang tidak memiliki rasa malu, maka tidak ada agama padanya. Siapa saja yang tidak malu di dunia, niscaya ia tidak masuk surga.” 5. Cinta duniawi hubbud duniya orang-orang tua setengah baya ke atas. 6. Kemalasan anak-anak muda. 7. Kezaliman penguasa. Syekh Nawawi mengutip hadits riwayat Al-Hakim yang artinya, “Siapa saja yang meridhai penguasa dengan sesuatu yang membuat Allah murka, niscaya ia telah keluar dari agama Allah.” 8. Rasa takut para tentara/militer dalam menghadapi musuh. Rasa takut adalah kelemahan jiwa yang merintangi tentara untuk berhadapan dengan tentara musuh. 9. SIkap ujub ahli zuhud. Syekh Nawawi mengutip hadits riwayat Abu Nu'aim yang artinya, “Siapa saja yang memuji dirinya sendiri atas sebuah amal saleh, maka pujiannya itu salah jalan dan gugurlah pahala amalnya.” 10. Sikap riya para hamba Allah yang ahli ibadah/ubbad. Syekh Nawawi Banten mengutip hadits riwayat Ad-Dailami yang artinya, “Waspadalah kalian mencampur ketaatan kepada Allah dengan menyukai pujian manusia karena dapat mengugurkan amal kalian.” Syekh Nawawi Banten menambahkan catatan pengecualian atas pujian orang lain tanpa ia sendiri menyukainya karena hal itu tidak termasuk riya. Syekh Nawawi Banten mengutip hadits riwayat Imam Muslim dari sahabat Abu Dzar RA yang mengisahkan pertanyaan sahabat, “Bagaimana pendapatmu wahai Rasul tentang seseorang yang berbuat baik dan orang lain memujinya?’ Rasulullah SAW menjawab, Demikian itu adalah kabar gembira yang cepat bagi orang beriman.’” Semua ini patut menjadi catatan agar masing-masing orang dapat berbuat sesuatu sesuai dengan kapasitasnya dan menjauhkan sifat-sifat tercela. Wallahu a’lam. Penulis Alhafiz Kurniawan Editor Abdullah Alawi SifatBaik/Buruk Orang Indonesia Mari agan-agan, kita bahas yuk sifat baik/buruk orang Indonesia, untuk mempelajarinya dan kalau buruk diperbaiki kalau baik diteruskan. Sifat-sifat yang baik 1. Kekeluargaan Tak jarang kita ketahui bahwa orang Indonesia adalah orang yang paling memiliki rasa solidaritas dan kekeluargaan. Sangat mementingkan

Masyarakat Nias sering dibenci oleh orang lain karena sifat keras kepala dan tegas yang mereka miliki. Meski demikian, budaya dan masyarakat Nias sebenarnya memiliki banyak kekayaan yang patut diapresiasi, seperti adat dan tradisi unik serta keberagaman etnis yang tersebar di pulau sebelum menyebut seseorang benci terhadap suku Nias, mari kita mengenal lebih dalam tentang budaya dan masyarakat Suku Nias DibenciSebelum memulai, perlu diketahui bahwa tujuan pembuatan artikel ini bukanlah untuk menjelek-jelekkan orang atau suku adil jika suku Nias dianggap sebagai orang jahat. Orang Nias pada umumnya baik dan tidak ada informasi yang membenarkan jika suku Nias banyak orang dari luar pulau Nias yang masuk ke daerah tersebut, bahkan ada yang menetap dan menikah dengan orang Nias, ini menunjukkan bahwa suku Nias terlahir sebagai orang yang baik seperti suku lainnya di Nias sangat memperhatikan harga diri dan menggunakan prinsip "sökhi mate moroi aila", yang berarti lebih baik mati daripada mengalami dapat memiliki sisi positif dan negatif. Sisi positifnya adalah bahwa orang Nias dianggap sebagai suku dengan martabat yang tinggi yang harus dijaga, dipertahankan, dan sisi negatifnya adalah bahwa prinsip ini menyebabkan orang Nias memiliki jiwa egois yang dapat menyebabkan perselisihan dan ketidakharmonisan di suara orang Nias umumnya keras, kepribadian mereka biasanya penuh perhatian dan demikian, mereka juga memiliki sifat yang kuat dan tegas saat menyampaikan ciri ciri orang Nias?Orang Nias yang tinggal di daerah Nias Utara, Nias Tengah, dan Kota Gunungsitoli umumnya memiliki bentuk wajah oval dan berambut hitam, serta memiliki kulit putih dan postur tubuh orang Nias yang tinggal di Nias Selatan, terutama Teluk Dalam, sering memiliki wajah lojong dengan rahang keras dan postur tubuh begitu, mereka juga memiliki kulit putih seperti orang China, namun matanya tidak suku Nias keras?Orang Nias umumnya memiliki sifat keras dan tegar, sesuai dengan budaya pejuang perang yang mereka membantu masyarakat Nias dan budayanya bertahan di tengah serbuan budaya pejuang Nias sudah ada selama bertahun-tahun, ketika desa-desa di sana saling memproklamirkan perang antar desa atau antar suku terjadi karena rasa dendam atau masalah perbudakan.

Diamengakui, "Rasanya tidak mungkin saya bisa jadi orang baik.". Tapi sebenarnya, kita semua bisa menjadi orang baik! Kebaikan dihasilkan oleh kuasa kudus Allah. Kuasa ini jauh lebih kuat daripada pengaruh buruk orang lain maupun kelemahan kita sendiri. Jadi, mari kita cari tahu apa kebaikan itu dan bagaimana kita bisa mengembangkannya.
Sepanjang hidup, sebagai manusia kita akan terus memilah-milah mana sifat baik yang perlu ditanamkan dalam diri dan mana sifat buruk yang harus dijauhi. Jangan malah bersikap kurang peduli sampai kita dikuasai berbagai sifat yang kurang itu sampai terjadi, tentu banyak orang enggan berteman dengan kita. Kehidupan kita pun akan dipenuhi berbagai persoalan. Seperti tujuh sifat berikut ini yang wajib kita Cuma suka memanfaatkan kerja keras orang lainIlustrasi pria bergembira ini bakal kelihatan banget saat seseorang berada dalam kelompok. Dia sering menghindari tugas dan orang lainlah yang mengerjakannya. Akan tetapi untuk urusan hasilnya, dia gak pernah mau ketinggalan sampai gak kebagian hasilnya. Hasilnya dikurangi sedikit demi memberi upah lebih pada yang bekerja paling keras saja, dia gak akan terima. Bahkan kalau bisa, semua hasilnya buat dia saja. Nyebelin banget, kan? Ada peribahasa yang cocok dengan sifat seperti ini. Yaitu, 'awak yang payah membelah rayung, orang lain yang beroleh sagunya'. Artinya, kita yang bersusah payah, tetapi orang lain yang mendapatkan manfaatnya. Jangan sampai sifat ini ada pada kita, ya!2. Selalu hanya mengikuti perkataan orangIlustrasi pria menutupi mulut dua kemungkinan dari sifat hanya suka mengikuti perkataan orang lain. Bisa asal menurut saja terhadap berbagai perintah atau saran. Bisa pula membeo alias meniru ucapan orang jarang, orang dengan sifat ini berlagak pintar. Sebab ucapan yang ditirukannya memang berasal dari orang pintar. Sayangnya, bukannya digunakan untuk bahan belajar, malah seperti buat bergaya saja. Cocok banget dengan peribahasa 'berlidah di lidah orang'.3. Curang dan rakus, mau diberi tetapi tak mau memberiIlustrasi wanita bertopang dagu memang harus seseimbang mungkin. Kalau kita suka diberi, sesekali kita juga harus bergantian memberi. Biar orang lain juga merasa senang mengetahui dirinya diperhatikan. Makin menyebalkan jika gak pernah mau memberi, tetapi kalau dirinya gak diberi langsung sewot dan merasa dianaktirikan. Ini berbeda dengan bila seseorang memang gak memiliki kemampuan memberi. Kalau sebenarnya mampu, dia menjadi perwujudan dari peribahasa 'di padang orang berlari, di padang sendiri berjingkat'.4. Suka banget mencela orang lain padahal diri sendiri gak lebih baikIlustrasi pria berwajah serius Rasanya memang gak ada sih, pencela yang lebih baik daripada orang yang dicelanya. Sebab kalau dirinya lebih baik, pasti merasa mencela orang lain itu sama sekali gak ada untungnya. Lain dengan orang yang sebenarnya gak lebih baik dari yang dia berharap celaannya bisa membuat dirinya tampak lebih baik ketimbang orang itu. Padahal sih, orang-orang gak semudah itu tertipu. Ini nih, peribahasa yang cocok untuknya, 'mengata dulang paku serpih, mengata orang awak yang lebih'. Baca Juga 5 Peribahasa Banjar Mengekspresikan Sifat Manusia, Ada Sifat Haus Puji 5. Gak peduli sesalah apa pun, asal masih keluarga atau teman sendiri tetap dibelaIlustrasi pria berkacamata berarti kita perlu menyudutkan teman atau saudara yang melakukan kesalahan. Itu hanya akan membuat mereka merasa lebih buruk. Namun paling gak, jangan lantas seperti membutakan diri pada salah dibilang benar hanya lantaran pelakunya masih orang terdekat kita. Sebaliknya, yang menjadi korban justru kita sudutkan. Ini namanya kita sudah gak bisa bersikap objektif. Memang sih, ada peribahasa 'tidak ada orang menggaruk ke luar badan'. Artinya, memihak teman atau saudara itu sudah menjadi hal biasa. Akan tetapi yang terbaik tetaplah gak kehilangan objektivitas dan rasa keadilan dalam menilai serta menyikapi apa Kalau mendapatkan kesenangan gak berbagi pada orang lain, kalau susah langsung minta tolongIlustrasi pria dalam masalah tolong atau sekadar menceritakan kesulitan yang tengah dihadapi tentu boleh-boleh saja. Namun semestinya diimbangi dengan kemauan untuk berbagi kesenangan pada orang-orang yang biasa dituju kala malah dia selalu cuma ketiban gak enaknya. Sebab lama-kelamaan, orang setulus apa pun juga bisa menjadi malas menolong atau mendengarkan cerita kesedihan kita kalau begini. Mereka akan mengaitkan kita dengan peribahasa 'kalau laba bercikun-cikun, buruk diberi tahu orang'.7. Parah, berusaha mengubah nasib sendiri saja gak mauIlustrasi wanita yang tak bersemangat dengan sifat begini bakal kentara banget gak niat hidup. Semangatnya menjalani hari seperti gak ada. Apalagi memperjuangkan mimpi dan berusaha mewujudkan masa depan yang cerah. Padahal, itu adalah tanggung jawab masing-masing orang. Namun dia malah kerap seperti hendak menyampirkannya ke pundak orang lain. Dia main pasif saja, cuma menunggu uluran tangan orang. Pas banget dengan peribahasa yang menohok ini, 'seperti orang mati, jika tiada orang mengangkat, bila akan bergerak'.Jelas banget kan, betapa buruknya ketujuh sifat di atas? Yuk, sama-sama kita berintrospeksi dan bersungguh-sungguh biar gak menjadi pribadi dengan tujuh sifat itu. Baca Juga Tak Sadar 5 Sifat Buruk Ini Bisa Buat Orang Lain Terganggu IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.
Waspadalah Ini Bahayanya Berprasangka Buruk. MANUSIA seringkali berprasangka buruk terhadap orang lain, bahkan menuduh bermacam-macam. Amalan akan kacau bila kita terus-terusan memelihara pikiran dan hati yang dikuasai oleh syaitan. Berprasangka buruk merupakan sifat tercela dan tak disukai Allah SWT. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa Fatele Tari Perang - niasoke Indonesia memiliki banyak suku yaitu sekitar suku bangsa menurut data BPS tahun 2010. Masing-masing suku memiliki ciri khas dan bahasa daerah yang berbeda-beda. Salah satunya adalah suku Nias yang berada di Provinsi Sumatera Utara. Beginilah sikap dan perilaku masyarakat Nias yang berada di Kepulauan bekerjasama dan bergotong royong dalam menyelesaikan pekerjaan. Hal ini dibuktikan dengan peribahasa nias atau amaidola “Aoha noro nilului wahea, aoha noro nilului waoso, alisi tafadaya-daya, hulu tafadaya-daya”.Gemar melaksanakan owasa pesta besar. Pada zaman dahulu owasa tidaklah sembarangan untuk dilaksanakan, kepada setiap orang yang telah melakukan owasa maka berhak mendapatkan gelar sanuhe Kepala. Namun pesta sekaran yang dimaksud seperti pesta pernikahan, kematian, kelahiran dan acara-acara ucapan syukur menghormati tamu, setiap tamu yang datang akan disuguhkan sirih afo sebagai wujud penghormatan kepada tamu tersebut. Afo sering kita temui di acara-acara penting adat dipuji, disanjung, dan sangat mempertahankan harga diri. Hal ini dapat dilihat dari peribahasa “Sokhi mate moroi aila” Labih baik mati daripada malu. Hal ini dapat diartikan secara postif maupun negatif. Secara positif diartikan masyarakat Nias adalah masyarakat yang berbudaya, bermatabat dan beradab, sehingga lebih baik mati untuk mempertahankan itu dari pada harus menanggung malu. Jika diartikan secara negatif, masyarakat Nias sulit maju, sulit berkembang dikarenakan mempertahankan gengsi dan harga berdamai, perilaku masyarakat yang penuh cinta kasih, rukun dan damai menjadi keseharian masyarakat Nias, ini dibuktikan dari kebiasaan masyarakat Nias yang suka berkumpul dengan keluarga besar. Mudah tersinggung, dalam hal yang menyangkut unsur suku dan adat istiadat apabila yang kurang sesuai ini bisa menjadi salah satu pemicu yang kuat untuk aturan, pada dasarnya masyarakat Nias memegang teguh budaya yang dimiliki dan taat aturan. Hal ini terbukti dari kebiasaan yang dilakukan masyarakat Nias dalam keseharan, mulai dari pernikahan, kelahiran, pemberian nama anak hingga kematian. Semua telah ditulis dalam aturan kebiasaan sesuai kesepakatan dan beberapa sikap dan perilaku masyarakat Nias yang berada di Kepulauan Nias.

BeritaBaru, Amerika Serikat - Entah itu manajer yang buruk di tempat kerja atau mantan pasangan yang sangat tidak disukai, semua orang setidaknya harus tahu setidaknya ciri-ciri sifat orang yang menyebalkan.. Dilansir dari Dailymail.co.uk, pada 2 Mei, sekarang, para ilmuwan dari Franklin College of Arts and Sciences telah mengungkapkan karakteristik kunci dari orang-orang yang menyebalkan

Pengen tahu lebih banyak tentang Suku Nias? Berikut diuraikan bagaimana sifat dan karakter Orang Nias pada umumnya. Namun sebelumnya, perlu diketahui bahwa artikel ini tidak bertujuan untuk merendahkan apalagi menghina suku maupun identitas personal Nias, melainkan untuk berbagi pengetahuan umum yang dianggap layak dan bermanfaat. Dengan kata lain, publikasi konten ini dilakukan dengan itikad baik dan diharapkan memberikan manfaat positif kepada pembaca yang ingin mengenal dan bersahabat dengan masyarakat Ono Niha. Pada dasarnya, setiap manusia memiliki sifat dan karakter tersendiri sebagai makhluk sosial. Hal ini cenderung menjadi keunikan pribadi tersebut bisa saja dipengaruhi oleh berbagai faktor luar dirinya seperti lingkungan sosial; termasuk adat istiadat suatu adat istiadat juga memiliki dampak yang begitu besar dalam membentuk sifat seseorang selama memberlangsungkan kehidupan di Sifat dan KarakterSecara sederhana, sifat dapat didefinisikan sebagai ciri khas atau rupa dan keadaan yang melekat pada diri seorang individu. Sifat dapat dipengaruhi oleh faktor eksternal diri manusia seperti pergaulan, pendidikan dan lain sebagainya, yang masih memungkinkan untuk bisa diubah. Sementara karakter, adalah sifat batin yang mempengaruhi segenap pikiran, perilaku, budi pekerti, dan tabiat yang dimiliki manusia atau makhluk hidup lainnya. Sifat dan Karakter Orang Nias Sifat dan karakter ini adalah fenomena kehidupan sosial Nias sehari-hari, antara lain1. Mudah Bergaul Orang Nias biasanya mudah bergaul dengan orang-orang baru. Hal ini menandakan mereka tidak menutup diri untuk berteman dengan banyak orang tanpa membedakan status suku, agama, ras, antargolongan, warna kulit dan lainnya. Pergaulan yang dimaksudkan adalah pergaulan positif. Sementara untuk hal yang tidak baik, mereka cenderung menutup diri dan menghindar. Ono Niha. Licensed by M. Dhea Sonya Zend2. Mudah Memaafkan Secara umum, orang Nias dapat dikatakan sebagai makhluk sosial yang mudah memaafkan kesalahan orang lain. Hal ini populer dengan istilah "aya khöu wa'ebolo dödö". Artinya, kalungmu adalah kesabaran. Dengan kata lain, seseorang dianggap berjiwa besar jika ingin memaafkan orang lain atas suatu kesalahan yang telah karena itu, apabila pernah berbuat salah, jangan sungkan untuk meminta maaf. Sebab, itu lebih baik dan bernilai positif. 3. Toleran dan Suka DamaiOno Niha memiliki sifat toleran dengan berbagai perbedaan yang ada dalam masyarakat. Misalnya, dalam hal perbedaan kepercayaan. Orang Nias tidak merasa terganggu dengan perbedaan kepercayaan antara satu dengan yang lain. Dalam kultur Nias, tidak menghargai/menghormati orang lain adalah perbuatan tidak terpuji dan dianggap sebagai seseorang yang tidak tahu aturan adat. Hal ini populer dengan istilah "Si lö mangila huku". Artinya, seseorang yang tidak tahu hukum/ Suka Bekerja Sama Sejak dahulu kala, masyarakat Nias selalu mewujudkan sifat kerja sama dalam gotong royong. Gotong royong pun hingga pada saat ini masih tetap dilaksanakan. Bahkan, dengan berkerjasama seperti ini, mereka biasanya tidak menuntut upah kerja hingga misi kerja ini populer dengan istilah "Aoha Noro Niluli Wahea, Aoha Noro Nilului Waoso". Artinya, Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. 5. Kukuh dalam persatuan SolidSesuai dengan aturan adat Nias, masyarakat wajib memiliki sifat yang kukuh dalam persatuan/ kebersamaan. Hal ini sangat jelas terlihat dalam melaksanakan suatu kegiatan yang membutuhkan banyak orang. Termasuk saat menghadapi kubu yang dianggap sebagai musuh pada masa lampau. Sifat ini masih juga terbawa-bawa hingga saat ini. Artinya, jika sesuatu terjadi dengan komunitasnya, mereka tidak akan meninggalkannya begitu saja sebelum mereka Rela Mati daripada Malu Bukan rahasia lagi jika orang Nias memiliki sifat khas yang populer dengan istilah "Sökhi Mate Moroi Na Aila". Artinya, lebih baik mati daripada malu. Tetapi, jangan salah paham dulu. Hal ini tidak terjadi pada semua aspek kehidupan mereka. Memang, hal ini didasari pada sistem adat Nias yang tegas; yang telah dicetuskan para leluhur sejak dahulu kala. Umumnya, sifat ini muncul ketika mereka merasa terancam atau berada di bawah tekanan secara terus-menerus dengan pihak tertentu yang tidak bisa ditolerir lagi. Meskipun demikian, ingatlah bahwa orang Nias juga bersifat mudah memaafkan. 7. Keras Kemauan Tak dapat disangkal bahwa umumnya orang Nias juga memiliki sifat keras kemauan. Kemauan yang dimaksudkan adalah keinginan yang kuat untuk mencapai atau memperoleh sesuatu yang telah dicita-citakan sebelumnya. Dengan sifat ini, mereka umumnya menjadi pekerja keras demi mencapai mengerjakan apa saja yang dianggap baik dan tidak melanggar hukum asalkan bisa berhasil di kemudian Sopan dalam Tindak Tutur Sesuai dengan sistem adat Nias secara keseluruhan yang ikut mempengaruhi sifat dan karakter masyarakatnya, terdapat satu perilaku yang biasanya ditradisikan dari generasi ke generasi adalah sopan dalam bertutur kata kepada orang kehidupan Ono Niha, biasanya mereka sangat menghormati orang yang lebih tua. Menyebut nama asli, apalagi dengan tujuan menghina dianggap sebagai perilaku yang tidak pantas/tidak beretiket. Inilah salah satu alasan mengapa masyarakat Nias lebih suka memanggil seseorang dengan nama gelar atau marga saja. Hal ini populer dengan istilah "Moroi Khömö Zumangemö". Artinya, dari dirimulah penghormatanmu/caramu menentukan orang lain memperlakukanmu. Apabila anda menghargai orang lain, mereka pun akan melakukan hal yang sama sebaliknya untuk Suka Menolong Orang Nias juga sama dengan masyarakat lainnya di dunia. Mereka suka memberikan pertolong kepada orang-orang yang membutuhkannya. Tidak berbatas pada hubungan kekeluargaan saja. Bahkan, mereka dapat menolong seseorang yang belum dikenal sama-sekali. Misalnya, pergi berwisata ke suatu tempat di wilayah Pulau Nias dan akhirnya tersesat ketika melintasi daerah yang jauh dari permukiman warga. Tak perlu takut. Apabila bertemu orang-orang yang sedang bekerja di kebun/ladang, anda dapat meminta pertolongan kepada mereka. Yang jelasnya, anda juga perlu memberitahu siapa anda dan bagaimana bisa sampai pada alamat yang tidak tepat. Yakinlah, orang Nias tidak sejahat yang diironiskan oleh banyak orang tidak bertanggung jawab. Tahu, tidak? Sistem kehidupan orang Nias menganut paham "Fatalifusöta". Artinya, Persaudaraan. Semua orang yang mereka tahu baik dan tidak membahayakan akan dianggap sebagai bagian dari keluarga mereka sendiri. Ini berlaku untuk semua orang, baik saudara, bukan saudara, kenal atau belum Protektif Salah satu sifat unik lainnya yaitu protektif. Tidak dapat disangkal jika sifat ini umumnya dimiliki oleh orang Nias. Protektif yang dimaksudkan di sini adalah "bersifat melindungi". Umumnya, sifat ini sangat terlihat jelas pada orangtua yang telah memiliki buah hati. Selain untuk anak laki-laki, mereka juga sangat protektif terhadap pergaulan anak perempuannya. Umumnya, mereka tidak rela membiarkan buah hati mereka hidup sendiri tanpa perhatian dari orang tua. Dalam kulturnya, fakta unik perempuan Nias juga telah dijabarkan lebih jelas. Di sana, anda bisa mengenal bagaimana perempuan di Nias diperlakukan secara terhormat. Perempuan Nias - Licensed by Dhea SonyaPerlu diketahui juga bahwa ini tidak berarti orang Nias tidak percaya kepada anak-anaknya. Mereka pun memberikan kebebasan untuk mencapai cita-cita dalam dunia pendidikan di mana pun mereka inginkan. Tetapi, khusus untuk pergaulan, semuanya dalam batas wajar yang dianggap Sayang Keluarga Sifat orang Nias lainnya yaitu "Sayang dengan keluarga". Seperti masyarakat lainnya, orang Nias juga sangat menyayangi keluarganya. Mereka biasanya saling dukung mendukung dalam menyukseskan suatu hal dalam itu, anak-anak juga biasanya suka membantu orang tuanya bekerja untuk mencari nafkah selain Berdasarkan pada beberapa sifat masyarakat Nias pada umumnya, mulai dari sifat yang mudah bergaul, mudah memaafkan, toleran dan suka damai, suka bekerja sama, rela mati daripada malu, keras kemauan, sopan dalam tindak tutur, suka menolong, protektif hingga sayang keluarga adalah keunikan orang Nias, Ono demikian, anda tak perlu enggan bergaul dengan masyarakatnya. Kita semua sama, yang penting kita saling menghormati sesama dan berlaku baik. Untuk itu, artikel ini diharapkan dapat membantu anda mengenal lebih jauh tentang Nias dan dapat dipergunakan sebagai rujukan terkait hal yang positif.
Orangdengan zodiak Cancer merupakan orang yang sangat suportif dan menyayangi sesama. Namun terkadang mereka sering bergantung pada orang lain dan memiliki karakter yang moody. 5 Leo (23 Juli - 22 Agustus) Zodiak yang dilambangkan dengan singa ini masuk ke kelompok api. Leo memiliki sifat berani dan senang menjadi pemimpin.

ï»żSetiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangan. Akan tetapi, akan menjadi apa diri kita bergantung pada sifat yang mana yang hendak kita tonjolkan. Jika memilih untuk menonjolkan kelebihan dan meminggirkan kekurangan kita, tentu saja itu akan menjadi hal yang baik bagi diri kita sendiri ataupun orang jika kita malah menonjolkan kekurangan dan sifat buruk, tentu saja kita sendiri akan merasa tidak nyaman begitu pun dengan orang lain di sekitar. Berikut ini adalah sifat-sifat dan kebiasaan buruk yang sebaiknya kita hilangkan dalam diri agar hidup menjadi lebih dalam bahasa Indonesia berarti perasaan tidak percaya diri dengan apa yang ada pada diri sendiri karena membandingkan dengan orang lain. Percayalah, setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangannya tidak perlu menganggap diri kita rendah hanya karena kita memiliki kelebihan yang berbeda dengan orang lain. Yang terpenting adalah kamu harus fokus dan tonjolkan kelebihanmu dan buatlah kelebihan itu mampu menutupi adalah berpikir secara berlebihan terhadap apa pun. Tidak ada hal yang harus dipikirkan secara berlebihan apalagi sampai mengganggu hidupmu. Hidup harus terus berjalan dan segala hal datang dan terlalu memikirkan satu hal hingga membuat hidupmu terganggu, tidur tidak nyenyak, dan makan tidak enak, kamu harus segera menghentikan kebiasaan tersebut. Selain dapat mengganggu kesehatan mentalmu, kebiasaan itu juga dapat merusak kesehatan Iri dapat dimungkiri bahwa zaman sekarang media sosial sangat menguasai kehidupan kita. Apa pun dapat kita bagikan lewat media sosial, termasuk hal-hal yang dapat dipamerkan, seperti benda-benda baru nan mahal, liburan mewah, hingga kebahagiaan bersama keluarga atau kita tidak pintar-pintar menata diri dan hati saat menggunakan media sosial, akan timbul rasa iri hati dalam diri kita. Melihat orang mengendarai mobil baru, kita akan iri karena masih saja menggunakan angkutan umum. Melihat orang bahagia dengan pasangannya membuat kita iri juga karena belum mendapatkan tatalah hati kita sebelum berselancar di dunia maya agar tidak timbul perasaan iri. Namun, jika kamu sulit mengontrol hati, mengurangi bermain media sosial akan menjadi pilihan yang bijaksana. Baca Juga Jangan Khawatir, Ini 5 Cara Hadapi Sifat Pasangan yang Masih Labil 4. orang punya masalah. Kualitas diri kita akan tampak dari bagaimana kita menghadapi masalah tersebut. Kebanyakan orang akan mengeluh dengan masalah yang mereka hadapi, merasa bahwa masalah merekalah yang paling mengeluh terhadap suatu masalah ini harus kita hentikan. Selain masalahnya tidak akan selesai, mengeluh juga menandakan bahwa kita mengecilkan Tuhan. Senantiasalah bersyukur agar masalah dalam hidup kita dapat terselesaikan karena setiap masalah pasti ada jalan Mudah sangat sering kita menghentikan usaha saat mengetahui bahwa usaha tersebut sepertinya akan sia-sia atau membutuhkan waktu yang sangat lama. Jika kamu tipe orang yang seperti itu, segera ubah ada usaha yang sia-sia. Jika usaha kita terasa sangat lama, bukan berarti usaha kita sia-sia, melainkan kita harus mencari jalan lain yang lebih baik. Alangkah lebih baik jika kita selesaikan dahulu upaya kita dan kita lihat hasilnya. Jika hasilnya tidak sesuai dengan harapan, itu artinya kita harus berusaha lebih keras lagi, lebih cerdas Menurunkan sering kita temui orang-orang yang mengubah target mereka hanya karena hasil dari usaha yang mereka lakukan tidak sesuai dengan tuntutan target mereka. Jika termasuk orang yang seperti itu, kamu harus ubah pola jangan turunkan target, tetapi tingkatkan upayamu. Menurunkan target sama dengan menyerah kalah pada keadaan. Jadi, jika gagal, coba lagi dengan upaya yang lebih keras, tetapi jangan turunkan, bahkan mengubah targetmu, ya!Itulah tadi sifat-sifat yang harus kamu hindari atau singkirkan dari hidup agar hidup menjadi lebih baik dan lebih positif. Baca Juga 5 Tanda Kamu Telah Kecipratan Sifat Buruk Orang Lain, Jangan Abaikan! IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

AgamaKristen pertama-tama dibawa ke P. Nias oleh misi Katolik dari Prancis, yaitu Missions Etrangers de Paris, namun pekerjaan itu berlangsung singkat saja, dari 1832-1835.Misi Protestan dimulai pada tahun 1865 oleh penginjil Jerman, E. Ludwig Denninger dari Rheinische Missions-Gesselschaft (RMG) pada tanggal 27 September 1865.Tanggal 27 September ini dijadikan sebagai "Hari Yubelium BNKP".
.
  • 8g36af5d5g.pages.dev/381
  • 8g36af5d5g.pages.dev/161
  • 8g36af5d5g.pages.dev/344
  • 8g36af5d5g.pages.dev/494
  • 8g36af5d5g.pages.dev/138
  • 8g36af5d5g.pages.dev/266
  • 8g36af5d5g.pages.dev/453
  • 8g36af5d5g.pages.dev/376
  • sifat buruk orang nias