CandiBorobudur merupakan karya seni yang tercipta berkat motivasi para penganut agama Budha Mahayana Penjelasan: Borobudur adalah sebuah candi terbesar di dunia yang terletak di Magelang, Jawa Tengah. Candi berbentuk stupa didirikan oleh para penganut agama Budha sekitar tahun 800 an Masehi pada masa pemerintahan wangsa Syailendra. Candi ini terdiri atas enam teras berbentuk bujur
- Candi Borobudur merupakan peninggalan dari Kerajaan Mataram Kuno yang terletak di Magelang, Jawa Tengah. Dengan tinggi lebih dari 35 meter dan luas mencapai meter persegi, Candi Borobudur menjadi monumen Buddha terbesar di dunia. Pada 1991, UNESCO bahkan telah menetapkan Candi Borobudur sebagai situs warisan Borobudur dibangun sebagai tempat suci untuk memuliakan Buddha sekaligus berfungsi sebagai tempat ziarah yang menuntun manusia dari nafsu duniawi menuju pencerahan dan kebijaksanaan sesuai ajaran Buddha. Sampai saat ini, Borobudur masih digunakan sebagai tempat ziarah keagamaan dan menjadi tempat untuk memeringati Trisuci Waisak oleh umat Buddha dari seluruh penjuru dunia. Baca juga Siapakah Arsitek Candi Borobudur? Sejarah Candi Borobudur Menurut catatan sejarah, Candi Borobudur diperkirakan dibangun pada masa Dinasti Syailendra, atau sekitar abad ke-8. Namun, belum diketahui secara pasti siapa yang membangun candi ini. Bahkan tahun pembangunan hingga latar belakangnya juga masih menjadi misteri. Kendati begitu, diperkirakan pembangunan Borobudur dilakukan oleh para penganut agama Buddha Mahayana. Jika dilihat dari besarnya ukuran hingga arsitekturnya yang unik, proses pembangunan Candi Borobudur memakan waktu hingga ratusan tahun. Diduga, Candi Borobudur didirikan secara bertahap dan baru selesai dibangun pada masa pemerintahan Raja Samaratungga, sekitar tahun 820-840. Sedangkan peresmiannya dilakukan oleh oleh putri Samaratungga, yakni Pramodawardhani, yang menjadi permaisuri Rakai Pikatan. Akan tetapi, ada beberapa sejarawan yang menyebut bahwa pembangunan Borobudur sudah dimulai sejak Kerajaan Mataram Kuno diperintah oleh Dinasti Sanjaya, tetapi baru selesai pada masa Dinasti Syailendra. Baca juga Dinasti yang Berkuasa di Kerajaan Mataram Kuno Konon, di balik megahnya Candi Borobudur ada nama Gunadharma atau Gunadarma, seorang arsitek legendaris dari Afrika. Namun, tidak banyak diketahui juga tentang Gunadharma. Proses awal pembangunan Candi Borobudur dimulai dengan meratakan tanah dan memadatkannya dengan menggunakan batu untuk membentuk struktur piramida. Lalu, dibangunlah sebuah undakan persegi dan melingkar yang kemudian dilanjutkan dengan tahap penyelesaian, seperti pemasangan pagar, tangga, dan beberapa tambahan lainnya. Candi Borobudur dibangun dengan batu yang dipotong dan disusun secara rapi tanpa menggunakan mortar atau elemen untuk melengketkan batu. Ada sekitar lebih dari 1,6 juta balok batu andesit yang digunakan untuk membangun Candi Borobudur. Setelah sempat terkubur lama, Candi Borobudur ditemukan oleh Sir Thomas Stamford Raffles pada 1814, yang saat itu menjabat sebagai Gubernur Jenderal Inggris di Jawa. Sejak saat itu, Borobudur telah mengalami serangkaian upaya penyelamatan dan pemugaran perbaikan kembali. Candi Borobudur juga kerap dijadikan sebagai obyek penelitian oleh para ahli, baik dari dalam maupun luar negeri. Baca juga Sejarah Berdirinya Candi Borobudur Arsitektur Candi Borobudur Kemegahan Candi Borobudur menjadi salah satu bukti kejayaan dan kehormatan Kerajaan Mataram Kuno. Sejarawan Belanda, Dr. Casparis, mengemukan bahwa Candi Borobudur pada hakikatnya merupakan gambaran secara visual filsafat agama Borobudur adalah hasil akulturasi kebudayaan Buddha dengan kebudayaan asli Indonesia. Kebudayaan indonesia tampak dari bentuk bangunannya yang berupa punden berundak. Candi Borobudur berbentuk punden berundak, yang terdiri dari sembilan tingkatan, yang semakin tinggi semakin mengecil, dengan empat tangga pada setiap arah mata angin. Enam tingkat di bagian bawah berbentuk bujur sangkar dan tiga tingkatan atas berbentuk lingkaran yang dihiasi sejumlah stupa, di mana tingkat paling atas terdapat stupa induk yang besar dan berfungsi sebagai puncak bangunan. Baca juga Ciri-ciri Candi Langgam Jawa Tengah TROPENMUSEUM Relief Karmawibhangga pada Candi Borobudur Setiap tingkatan konon melambangkan tahapan kehidupan manusia. Dalam ajaran Buddha, disebutkan bahwa setiap orang yang ingin mencapai puncak harus melalui setiap tingkatan kehidupan. Struktur bangunan Candi Borobudur yang berundak diyakini menggambarkan alam semesta yang terbagi ke dalam tiga zona, yaitu Kamadhatu bagian paling bawah yang berarti alam bawah, perilaku manusia terkait keinginan duniawi Rupadhatu bagian tengah candi yang melambangkan alam peralihan, yang berarti perilaku manusia yang mulai meninggalkan keinginan duniawi Arupadhatu bagian paling atas candi yang berarti alam tertinggi atau rumah Tuhan Baca juga Relief Candi Borobudur Susunan dan Maknanya Relief Candi Borobudur Candi Borobudur dihiasi dengan relief dan 504 patung Buddha. Konon, relief yang ada apabila dibentangkan maka panjangnya diperkirakan mencapai 6 kilometer. Dok. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Ilustrasi relief Candi Candi Borobudur merupakan relief paling lengkap dengan nilai seni tidak tertandingi dan menceritakan suatu peristiwa. Dari panel relief yang ada di Borobudur, dapat dibagi menjadi dua jenis, yakni panel naratif dan dekoratif. Sebanyak panel naratif tersusun dalam sebelas baris yang mengelilingi monumen dengan total panjang lebih dari meter. Relief-relief ini dibaca sesuai arah jarum jam. Sedangkan panel dekoratif juga disusun dalam barisan, tetapi dianggap sebagai relief individu. Relief-relief tersebut terdapat di hampir semua tingkatan dinding candi, kecuali pada arupadhatu. Baca juga Perbedaan Candi Hindu dan Buddha Relief pada bagian dasar dinding candi mengisahkan tentang Karmawibhangga, yang menceritakan tentang kehidupan, perilaku, serta lingkungan manusia. Lalu, pada relief Jakata yang ada pada bagian atas candi menceritakan tentang kehidupan Buddha yang sebelumnya menjadi dewa, manusia dengan beragam profesi, dan hewan. KOMPAS IMAGES / FIKRIA HIDAYAT Tiket masuk Borobudur saat ini ditetapkan sebesar Rp sementara harga tiket masuk Candi borobudur atau tiket Borobudur untuk anak adalah Rp ada 120 relief pada dinding pertama candi, Lalutavistara, yang menggambarkan tentang kehidupan Pangeran Siddharta sejak lahir hingga masa pencerahan. Mitos Kunto Bimo Masyarakat di sekitar Candi Borobudur meyakini sebuah mitos, yang paling terkenal adalah mitos Kunto Bimo. Konon, siapa saja yang merogoh stupa berongga di pelataran candi paling atas dan dapat menyentuh bagian tertentu dari tubuh arca Kunto Bimo di dalamnya, akan mendapat keuntungan dan apa pun yang diinginkan akan terkabul. Ada yang menyebutkan pria harus menyentuh bagian jari manis atau jari kelingking dari arca Buddha yang ada di dalam stupa. Sedangkan perempuan harus memegang bagian telapak kaki, tumit, atau ibu jari kaki. Baca juga Pulung Gantung, Mitos Bunuh Diri di Gunungkidul Berdasarkan catatan sejarah, istilah Kunto Bimo berasal dari kata kunto, yang dalam bahasa Jawa berarti mengira-ngira atau permintaan-mendapatkan, dan bimo berarti pantang menyerah. Dengan demikian, Kunto Bimo berarti permintaan pantang menyerah dan mengira-mengira bisa memperoleh hasilnya. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Mari bergabung di Grup Telegram " News Update", caranya klik link kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. Tags: candi borobudur merupakan peninggalan dinasti, candi borobudur terletak di, candi borobudur dibangun pada masa dinasti atau wangsa, candi borobudur dibangun pada masa pemerintahan, candi borobudur merupakan karya seni yang tercipta berkat motivasi, candi borobudur merupakan objek wisata budaya dalam kategori pengembangan wisata,- Candi Borobudur memiliki relief-relief indah dan penuh makna. Relief yangterdapat di Candi Borobudur menggambarkan ajaran kehidupan Sang Buddha Gautama. Relief-relief tersebut menggambarkan suasana alam yang permai, perahu bercadik, bangunantradisional nusantara, dan lain di yakini memiliki relief Buddha terlengkap dan terbanyak di dunia. Relief-relief tersebut terdapat di hampir semua tingkatan dinding, kecuali merupakan tingkatan yang paling atas yang menggambarkan kehidupan religiusdan spiritual tertinggi. Kehidupan religius yang mengagungkan perdamaian penuh keselamatan jiwa. Dua tingkatan sebelumnya, yaitu Kamadhatu kaki candi. Pada tingkatan ini digambarkankehidupan manusia penuh keburukan, nafsu, dan bergelimpang juga Jataka Mala, Kisah Kehidupan yang Tergambar di Relief Candi Borobudur Pada tingkatan di atasnya disebut Rupadhatu atau bagian tengah. Bagian ini melambangkankehidupan manusia yang telah terbebas dari hawa nafsu namun masih terikat denganhal-hal yang bersifat duniawi. Bagian Rupadhatu terdapat 4 undak teras berbentuk persegi yang dindingnya dihiasi relief. Sedangkan, tingkatan teratas adalah Arupadhatu yang melambangkan kehidupan religius. Tingkatan ini menggambarkan kehidupan Sang Budha yang telah mencapai kesempurnaan karena berani meninggalkan kehidupan duniawi. Pada bagian ini tidak dihiasi relief. Pahatan relief Candi Borobudur termasuk ke dalam jenis seni rupa murni, yang artinya tercipta untuk dinikmati keindahan dan keunikkannya saja. UNSPLASH/BILL FAIRS Ilustrasi Relief Candi Borobudur
Foto pertama Candi Borobudur setelah dibersihkan dari tanaman yang tumbuh pada tubuh candi. Foto ini diambil Isidore van Kinsbergen pada 1873. Di stupa utama, nampak bendera Belanda berkibar. Isidore van Kinsbergen/Wikipedia. Tiga belas abad yang lalu, arsitek Candi Borobudur mempunyai ambisi besar untuk menyulap bukit setinggi 30 meter menjadi sebuah candi yang berbeda dari candi-candi pada umumnya. Konstruksi ini rupanya cukup berisiko sehingga harus mengorbankan relief-relief di kaki candinya. Candi Borobudur telah menarik perhatian para peneliti Belanda. Salah satunya Jan Willem Ijzerman, ketua Archaelogische Vereeniging di Yogyakarta. Ketika melakukan penelitian, secara tak sengaja Ijzerman menemukan sejumlah relief di kaki candi pada 1885. Ia tertutup struktur batu selasar dan tangga. Dengan hati-hati pada 1890-1891, kaki Candi Borobudur pun dibongkar. Struktur batuan penyusun selasar yang menutup relief dibongkar secara bergantian, sebelum disusun kembali seperti semula. Ini untuk keperluan dokumentasi oleh Kassian Cephas, seorang fotografer pribumi Jawa. Baca juga Meledakkan Borobudur Tak bisa dipastikan alasan relief-relief yang memuat adegan dan ajaran hukum karma itu ditutup. Pasalnya, tak ada prasasti maupun catatan Belanda yang bisa menjelaskannya. “Apakah penambahan bagian kaki ini dilakukan pada masa generasi yang sama, atau pada generasi berikutnya? Kita belum tahu pasti,” ujar Marsis Sutopo, kepala Balai Konservasi Borobudur, melalui surel. Ada dua pendapat yang berkembang. Pertama, bagian kaki candi sengaja ditutup karena relief-relief yang kemudian dikenal sebagai relief Karmawibhangga itu terlalu vulgar. Relief itu dianggap memuat contoh perbuatan buruk manusia. Namun, pendapat ini sangat lemah. Relief Karmawibhangga justru memuat ajaran agama Buddha yang harus diketahui masyarakat. Kedua, terkait pertimbangan konstruksi, yakni rawan longsor. Struktur tambahan ini bisa jadi difungsikan untuk melindungi candi dari gempa atau mencegah candi mengalami pergeseran. Penambahan dinding pada dasar candi dilakukan agar konstruksi candi semakin kokoh. “Menurut penelitian, setidaknya Borobudur dibangun melalui empat tahap, dengan dua kali pembangunan tambahan bagian kaki. Makanya sekarang kita lihat bagian kaki tambahan candi terdiri dari dua lantai,” ujar Marsis. Teknik sambungan Candi Borobudur. 1. Sambungan batu dengan tipe ekor burung. Dok. BKPB. Dibangun di Bukit Penuh Risiko Bisa dimengerti mengapa pada akhirnya Candi Borobudur membutuhkan semacam struktur pengunci di bagian kakinya. Pasalnya, candi megah ini didirikan di atas sebuah bukit. Ia berupa tumpukan batu yang diletakkan membungkus bukit. Jadi, gundukan tanah bukit merupakan intinya. Artinya, bangunan ini bukanlah tumpukan batuan yang masif. Menurut Noerhadi Magetsari, Guru Besar Arkeologi dari Universitas Indonesia, dalam “Candi Borobudur dan Rekonstruksi Pendiriannya” termuat di 200 Tahun Penemuan Candi Borobudur, karena memanfaatkan sebuah bukit alami, pada saat membangun candi ternyata ditemukan bagian-bagian bukit yang cekung dan tidak rata permukaannya. Karenanya, bagian yang cekung itu harus ditimbun dengan tanah agar mendapat bentuk yang sesuai keinginan. Ini adalah pekerjaan tambahan yang entah dibutuhkan berapa banyak tanah untuk menimbunnya. Pun tak terbayangkan juga berapa banyak tenaga pikul yang dikerahkan untuk mengerjakannya. “Kita hanya dapat membayangkan berapa besar kesukaran yang harus ditanggulangi, mengingat bahwa bagian-bagian bukit yang harus ditimbun itu berada di bagian atas,” ujar Noerhadi. Menurut Noerhadi, bagian bukit yang ditimbun itu di kemudian hari menimbulkan kerusakan sisi candi yang dibangun di atasnya. Masalahnya ternyata, timbunan tanah itu longsor sehingga bagian candi di atasnya melesak. Pada pemugaran yang kedua, timbunan tanah itu diganti dengan struktur beton. Teknik sambungan Candi Borobudur. 2. Sambungan batu dengan tipe takikan. Dok. BKPB. Dengan segala pertimbangan risiko itu, tentunya pilihan para arsitek untuk memanfaatkan bentuk asli bukit bukannya tanpa alasan. Bukit Borobudur yang terpilih untuk dijadikan pondasi candi bukan sembarang bukit. Ia adalah bukit yang menurut kepercayaan setempat dianggap suci. “Apabila kita mengacu pada sejarah bangunan keagamaan di Eropa, telah menjadi kelaziman dalam mendirikan bangunan keagamaan memanfaatkan bangunan suci dari kepercayaan sebelumnya,” Noerhadi. Dari sejarah bangunan keagamaan di Nusantara, tradisi untuk membangun bukit menjadi bangunan berundak telah lama dikenal. Di era sebelum Candi Borobudur, ada Punden Lulumpang di daerah Garut. Di era sesudah Borobudur, ada bangunan suci dari abad ke-15 yang berada di lereng Gunung Penanggungan. “Atas dasar ini, maka tidak tertutup kemungkinan bahwa Bukit Borobudur pada awalnya memang merupakan sebuah bangunan berundak, walaupun secara arkeologis belum dapat dibuktikan,” jelas Noerhadi. Teknik sambungan Candi Borobudur. 3. Sambungan dengan tipe alur dan lidah. Dok. BKPB. Tanpa Semen, Tanpa Putih Telur Lucunya, masih banyak orang yang percaya batuan candi direkatkan dengan putih telur ayam. Agus Aris Munandar, arkeolog Universitas Indonesia, melihat ini berawal dari kebiasaan masyarakat merekatkan kaca patri dengan putih telur ayam. Nyatanya, bahan perekat pada candi tak pernah ditemukan. Untuk candi berbahan bata, “perekat” dihasilkan dari rontokkan bata yang saling digesekkan lalu diberi air. Sementara pada candi berbahan batu, “perekatan” dilakukan dengan teknik sambung. Batu dipahat sedemikian rupa agar antar batu bisa saling mengisi dan mengunci. Dalam Kearsitekturan Candi Borobudur, yang disusun Balai Konservasi Peninggalan Borobudur, dijelaskan kalau pada Candi Borobudur batuan andesit ditata dengan pola susun batu arah horizontal. Jenis sambungan batu yang ada pada Candi Borobudur ada empat. Pertama, sambungan batu dengan bentuk seperti ekor burung. Sambungan tipe ini dijumpai hampir pada setiap sambungan batu di dinding. Kedua, sambungan batu dengan tipe takikan. Jenis ini banyak terdapat pada bagian hiasan kepala kala, relung, dan gapura. Ketiga, sambungan dengan tipe alur dan lidah. Ini terdapat pada pagar selasar dan batu ornamen Makara di kanan dan kiri tangga dan selasar. Keempat, sambungan batu dengan tipe purus dan lubang. Ini banyak terdapat pada batu antefik, yaitu hiasan di luar candi yang berbentuk segitiga meruncing. Tipe sambungan ini juga dipakai pada kemuncak pagar langkan. “Makanya kalau ada gempa nggak mudah rusak,” jelas Agus. Baca juga Daoed Joesoef dan Borobudur Teknik sambungan Candi Borobudur. 4. Sambungan batu dengan tipe purus dan lubang. Dok. BKPB Sementara untuk menutup Bukit Borobudur, diperlukan batuan andesit berbentuk balok sebanyak m3. Batuan andesit adalah bahan bangunan yang umum dijumpai pada candi di wilayah Jawa Tengah. Batuan andesit itu harus terlebih dahulu ditambang. Namun, menurut Noerhadi, penambangan tidak dilakukan di sekitar Bukit Borobudur karena di sana tak bisa ditemukan sumber batu yang diperlukan. Di lokasi penambangan, para ahli pahat membuat balok-balok batu. “Entah berapa lama yang mereka perlukan guna menghasilkan m3 balok batu, mengingat pemahatan hanya dilakukan dengan mempergunakan pahat dan palu,” jelas Noerhadi. Baca juga Kisah Mistis Candi Borobudur Setelah pemahatan selesai balok-balok batu itu dipikul ke kaki bukit. Berkaca dari pengalaman pemugaran Candi Borobudur yang kedua, yaitu pada 1973-1983, untuk memindahkan sebuah balok batu diperlukan empat orang untuk memikulnya. Sampai di kaki bukit, balok-balok batu itu masih harus dipikul lagi ke atas bukit untuk diserahkan kepada para ahli bangunan. “Marilah tidak kita bayangkan bahwa selama proses pembangunan ini berlangsung tidak ada di antara mereka yang tewas akibat terpeleset dan kemudian jatuh dan tertimpa batu yang dipikulnya,” lanjut Noerhadi. Balok-balok batu itu lalu “ditempel” di sekeliling bukit hingga seluruhnya tertutup susunan balok yang membentuk bangunan berundak segi delapan. Puncaknya, di ketinggian 30 meter, dipasang sebuah stupa. “Sampai di sini membayangkan pun saya tidak mampu bagaimana mereka dapat melaksanakannya,” lanjut Noerhadi.
.